- IndexMundi merilis laporan Police Corruption Perceptions Index yang memberikan skor ketidakpercayaan publik sebesar 7,56 terhadap institusi Polri.
- Hasil survei tersebut menuai kritik karena metodologi subjektif dan kurangnya transparansi data yang dianggap berisiko menyesatkan publik.
- Analis menilai evaluasi kinerja Polri seharusnya didasarkan pada parameter nyata dan komprehensif dibandingkan sekadar indeks persepsi sesaat.
Tanpa adanya transparansi ini, sebuah survei persepsi dianggap tidak dapat dijadikan acuan ilmiah yang kuat untuk mengevaluasi kinerja sebuah institusi negara.
Ketidakjelasan ini, menurutnya, membuka ruang lebar bagi bias interpretasi, baik bagi pihak yang ingin menyerang institusi tertentu maupun pihak yang ingin menafikannya secara defensif.
Agenda Geopolitik dan Perang Informasi

Di tengah lanskap politik global yang kian kompleks, Boni Hargens juga mengajak masyarakat untuk melihat fenomena data ini dari kacamata yang lebih luas, yakni geopolitik.
Ia tidak menampik kemungkinan adanya agenda tersembunyi di balik produksi data internasional yang menyasar institusi strategis di negara-negara demokrasi berkembang seperti Indonesia.
Dalam era yang didominasi oleh perang informasi, perang pengaruh, dan perang proxy, citra sebuah negara seringkali menjadi sasaran tembak.
Munculnya tuduhan bahwa survei semacam IndexMundi merupakan bagian dari konspirasi global untuk melemahkan citra demokrasi Indonesia dengan menyudutkan institusi strategis adalah sesuatu yang tidak dapat serta-merta diabaikan, meskipun Boni sendiri tidak memberikan konfirmasi langsung mengenai hal tersebut.
Menurut dia, literasi data menjadi kunci agar publik tidak terjebak pada judul-judul berita yang provokatif tanpa melihat substansi risetnya.
Masyarakat diharapkan bersikap kritis dan proporsional, tidak terburu-buru menerima data sebagai kebenaran mutlak, namun juga tidak menolaknya secara reaktif tanpa kajian mendalam.
Di tengah lalu lintas informasi yang masif, siapapun kini bisa memproduksi informasi tanpa mempertimbangkan akurasi dan integritas moral.
Terlepas dari perdebatan mengenai hasil survei IndexMundi, Boni Hargens menegaskan bahwa kinerja Polri seharusnya dievaluasi melalui parameter yang lebih komprehensif dan nyata.
Ia merujuk pada berbagai apresiasi yang datang dari lembaga domestik maupun internasional terkait transformasi positif yang sedang berlangsung di tubuh Polri di bawah komando Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Transformasi institusi kepolisian dipandang sebagai proses jangka panjang yang tidak bisa diukur hanya dari satu indeks persepsi sesaat.
Berbagai langkah nyata seperti perubahan budaya organisasi, pembenahan sistem rekrutmen yang lebih transparan, akuntabilitas anggaran, hingga penguatan mekanisme pengaduan masyarakat melalui platform digital (seperti Presisi) merupakan dimensi yang membutuhkan evaluasi berkelanjutan.
Kepemimpinan yang berorientasi pada reformasi dianggap sebagai faktor kunci dalam mendorong perubahan yang nyata dan terukur di lapangan.
Boni menilai bahwa upaya pembenahan internal yang dilakukan Polri saat ini jauh lebih relevan untuk diperhatikan daripada sekadar menanggapi survei yang metodologinya masih dipertanyakan.
“Bagaimanapun, kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian adalah aset negara yang tidak ternilai. Membangun kepercayaan itu membutuhkan konsistensi, transparansi, dan keberanian untuk terus berbenah, jauh melampaui survei manapun," ujar dia.