- Teknologi kecerdasan buatan kini berfungsi sebagai pelatih personal untuk meningkatkan kepercayaan diri serta kemampuan bahasa asing tenaga kerja.
- Rendahnya kemahiran bahasa Inggris di Indonesia menyebabkan mayoritas perusahaan mengalami kendala komunikasi, kolaborasi internal, dan pengambilan keputusan bisnis.
- Implementasi platform pelatihan bahasa berbasis AI di PLN berhasil meningkatkan produktivitas serta kemampuan komunikasi karyawan untuk mendukung kolaborasi global.
Suara.com - Gelombang disrupsi kecerdasan buatan (AI) kini tak lagi sekadar mengambil alih tugas repetitif. Teknologi ini juga berkembang menjadi pelatih personal yang mengubah cara manusia mengatasi hambatan dalam berbahasa.
Transformasi tersebut menawarkan solusi nyata bagi tenaga kerja di negara berkembang yang selama ini kesulitan menembus pasar global karena kurang percaya diri saat berkomunikasi menggunakan bahasa asing.
Pemanfaatan AI generatif menghadirkan pendekatan baru dalam pengembangan kompetensi profesional.
Melalui simulasi interaktif, teknologi ini dinilai mampu meningkatkan kemampuan berbahasa secara lebih efektif dibandingkan metode pembelajaran konvensional.
Tantangan Keterampilan di Era Digital
![Country Director ELSA Business Indonesia, Yasser Muhammad Syaiful. [Dok. Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/09/10234-yasser-muhammad-syaiful.jpg)
Seiring cepatnya perubahan dunia kerja, World Economic Forum memproyeksikan sejumlah keterampilan inti yang wajib dikuasai hingga 2030.
Penguasaan literasi teknologi, kemampuan berpikir analitis, hingga pemanfaatan data menjadi fondasi penting agar tenaga kerja mampu bersaing di era digital.
Namun, untuk mengoptimalkan seluruh keterampilan tersebut dalam lingkungan bisnis global, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris tetap menjadi syarat utama.
Sayangnya, laporan EF English Proficiency Index 2025 menunjukkan tingkat kemahiran bahasa Inggris pekerja Indonesia masih berada pada kategori rendah.
Rendahnya kemampuan tersebut turut berdampak pada dunia usaha.
Studi International Data Corporation (IDC) 2025 mencatat 78 persen perusahaan mengalami kesulitan berinteraksi dengan klien internasional akibat kendala bahasa.
Selain itu, 74 persen responden mengakui hambatan komunikasi juga mengurangi efektivitas kolaborasi internal serta memperlambat proses pengambilan keputusan.
Paradoks Adopsi AI di Dunia Kerja
Ironisnya, persoalan komunikasi muncul ketika tingkat adopsi AI di kalangan pekerja justru meningkat pesat.
Laporan Work Trend Index 2024 dari Microsoft dan LinkedIn menyebutkan sebanyak 92 persen pekerja di Indonesia telah menggunakan teknologi AI generatif dalam aktivitas sehari-hari.
Namun, Cisco AI Readiness Index 2025 menunjukkan hanya 23 persen organisasi di Indonesia yang benar-benar siap memanfaatkan AI secara optimal.
Analisis menunjukkan persoalan utama bukan lagi minimnya kosakata, melainkan rendahnya rasa percaya diri ketika harus berbicara dalam situasi profesional.
AI Jadi Pelatih Virtual untuk Tingkatkan Kepercayaan Diri
Untuk menjawab tantangan tersebut, pengembangan kemampuan komunikasi kini mulai diposisikan sebagai bagian penting dalam strategi pengembangan talenta perusahaan.
Country Director ELSA Business Indonesia, Yasser Muhammad Syaiful, menilai kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi menjadi bekal utama di tengah pesatnya perkembangan AI.
"Di era AI, kesiapan organisasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan talenta untuk beradaptasi, berkomunikasi, dan memanfaatkannya secara efektif."
"Karena itu, investasi pada pengembangan keterampilan menjadi kunci untuk membangun organisasi yang lebih siap menghadapi perubahan serta meningkatkan Global Workforce Readiness," ujar Yasser.
Melalui platform berbasis AI, perusahaan dapat menghadirkan materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan masing-masing karyawan.
Teknologi ini memungkinkan pengguna berlatih presentasi, negosiasi, hingga komunikasi bisnis secara mandiri melalui simulasi yang menyerupai kondisi nyata tanpa rasa sungkan atau takut dihakimi.
PLN Jadi Contoh Implementasi
Efektivitas pendekatan tersebut telah diterapkan oleh lebih dari 1.300 organisasi di berbagai negara, termasuk di Indonesia.
PT PLN (Persero) memanfaatkan platform tersebut untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris lebih dari 1.500 karyawannya dalam mendukung kolaborasi internasional di sektor transisi energi.
Program pelatihan berbasis AI itu disebut mampu meningkatkan produktivitas hingga 145 persen, sementara 84 persen peserta mengalami peningkatan kemampuan bahasa secara signifikan.
"Di ELSA Business, kami percaya bahwa kemampuan komunikasi bukan hanya keterampilan bahasa, tetapi salah satu faktor yang menentukan kesiapan talenta di era AI."
"Melalui teknologi AI, ELSA Business membantu perusahaan menghadirkan pembelajaran yang lebih personal, kontekstual, dan terukur, sehingga pengembangan talenta dapat memberikan dampak nyata bagi kesiapan tenaga kerja maupun pertumbuhan bisnis," tutup Yasser.
Semakin banyak perusahaan kini mulai memandang AI bukan sekadar alat otomatisasi, melainkan sebagai sarana strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di tingkat global.