- Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby membantah memberikan amplop berisi uang kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Jakarta.
- Raja Juli melaporkan dugaan gratifikasi berupa amplop dari Suhardiman kepada KPK setelah audiensi pada 2 Juni 2026 lalu.
- KPK menduga Suhardiman mengumpulkan uang dari petani KUD untuk pengurusan pelepasan kawasan Hutan Produksi Terbatas seluas 1.828 hektar.
Suara.com - Bupati Kuantan Singingi (Kuansing) Suhardiman Amby membantah memberikan uang dalam amplop kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.
Dia bahkan mengaku tidak mengetahui isi dari amplop yang diterima Raja Juli. Padahal, Raja Juli sempat mengungkapkan bahwa Suhardiman meninggalkan amplop untuknya.
“Saya nggak tahu isinya, saya nggak tahu isinya apa,” kata Suhardiman di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Jumat (17/7/2026).
Saat ditanya soal alasan pemberian amplop itu, Subardiman menyebut bahwa bukan dirinya yang memberikan amplop tersebut kepada Raja Juli.
“Bukan (saya),” ujar Suhardiman.
Suhardiman diduga mengumpulkan uang dari sisa hasil usaha (SHU) petani yang tergabung dalam Koperasi Unit Desa (KUD) untuk mengurus proses pelepasan kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT).
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo sempat menjelaskan bahwa Suhardiman memang diduga mengumpulkan uang dari 914 anggota KUD. Pengumpulan uang itu disebut berkaitan dengan pelepasan kawasan HPT seluas 1.828 hektar.
Kemudian, uang tersebut diduga dikonversikan menjadi Dolar Singapura dan diberikan Suhardiman kepada Raja Juli dalam amplop.
Raja Juli diketahui menyampaikan laporan penolakan gratifikasi kepada lembaga antirasuah pada Jumat (3/7/2026) lalu.
Budi menjelaskan bahwa laporan mengenai dugaan gratifikasi yang disampaikan Raja Juli ini prosesnya didasari oleh Peraturan KPK (Perkom) Nomor 1 Tahun 2026 yang merupakan perubahan atas Perkom Nomor 2 Tahun 2019 tentang Pelaporan Gratifikasi.
Sebelumnya, Raja Juli mengakui ada amplop yang disebutnya ditinggalkan oleh Suhardiman. Namun, dia mengeklaim langsung memerintahkan ajudannya untuk mengembalikan amplop tersebut.
“Bahwa benar tanggal 2 Juni 2026, ada audiensi Bupati Kuansing di kantor ini. Ini audiensi yang terbuka, bupatinya mengirim surat resmi, di-publish di media sosial, saya maupun Kementerian, dan ada daftar hadir, ada notulensi. Jadi kalau suatu saat pihak KPK memerlukan, atau bahkan kami akan proaktif juga menyerahkan apa yang telah saya sebutkan tadi," kata Raja Juli.
Saat itu, lanjut Raja Juli, Suhardiman meninggalkan amplop yang ditutup dengan map dalam audiensi itu. Kemudian, Raja Juli mengaku baru sadar setelah pertemuan berakhir. Untuk itu, dia meminta ajudannya mengembalikan amplop itu.
“Saya tidak tahu isinya apa, tapi saya tidak merasa tidak memiliki hak terhadap amplop tersebut, dan saya meminta ajudan saya untuk mengembalikan amplop tersebut," ujar Raja Juli.
Menurut dia, ajudannya baru bisa mengembalikan amplop itu ke Suhardiman pada Jumat (12/6/2026). Raja Juli menyebut penyerahan amplop itu dilengkapi dengan surat jalan dari Sekjen Kemenhut.