-
Sonam Wangchuk melanjutkan mogok makan di ICU demi menuntut penuntasan kebocoran ujian nasional.
-
Pemerintah janji bentuk pengadilan khusus, namun demonstran tetap menuntut Menteri Pendidikan mengundurkan diri.
-
Bentrokan massa dan penutupan stasiun metro semakin memperkeruh situasi politik di New Delhi.
Nadda menyatakan kesiapan pemerintah untuk membuka ruang dialog terbuka bersama para demonstran.
"Kami menanyakan kesehatan dan kesejahteraannya. Kami juga memintanya untuk menghentikan puasa, kembali ke jalan utama, dan membimbing anak-anak ke arah yang benar," kata dia dikutip dari BBC.
Namun, imbauan dari pejabat tinggi negara tersebut tidak menggoyahkan pendirian Wangchuk dari tempat tidurnya.
"Banyak pemimpin, termasuk menteri dari partai berkuasa, telah mengimbau saya untuk menghentikan puasa. Saya juga ingin melakukan itu karena pekerjaan saya penting bagi saya," tutur Wangchuk.
Aspirasi Mahasiswa dan Penolakan Kompromi
Wangchuk menegaskan hanya akan berhenti berpuasa jika ada jaminan tertulis terkait keselamatan para pelajar.
"Jika saya menerima jaminan itu segera, saya akan menghentikan mogok makan hari ini. Jika tidak, sayangnya saya harus melanjutkannya."
Ia memberikan apresiasi tinggi atas ketahanan moral para demonstran muda yang menghadapi tindakan keras petugas.
"Saya ingin memberi hormat kepada semua mahasiswa yang menjalankan diri dengan pengendalian diri yang luar biasa... Meskipun dipukul dengan tongkat [lathi-charged], mereka tidak membalas. Melihat tindakan brutal terhadap mereka, saya memutuskan untuk melanjutkan mogok makan."
Pendiri Cockroach Janta Party (CJP) Abhijeet Dipke menegaskan tuntutan pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan bersifat mutlak.
"Protes damai di Jantar Mantar akan berlanjut sampai Pradhan mengundurkan diri," ujar Dipke di hadapan pendukungnya.
"Kami tidak akan membiarkan mogok makan Sonam sir sia-sia. Kami tidak akan membiarkan serangan brutal terhadap mahasiswa sia-sia."
Sikap keras dipicu kekecewaan mendalam atas berulangnya kasus kebocoran soal ujian masuk perguruan tinggi negeri. Pradhan sendiri menolak tuduhan tersebut dan menuding pihak oposisi memanfaatkannya demi kepentingan politik.
Bentrokan massal sebelumnya menyebabkan puluhan peserta aksi dan ratusan personel kepolisian mengalami luka-luka. Aparat merobohkan panggung serta tenda pengunjuk rasa, namun massa menolak meninggalkan lokasi penampungan sementara.
Guna membatasi pergerakan massa, otoritas New Delhi menutup belasan stasiun kereta bawah tanah di kawasan pusat pemerintahan. Lintas oposisi merespons tindakan pembatasan ini dengan menggelar demonstrasi langsung di luar kediaman Perdana Menteri.
Gerakan CJP awalnya berawal dari kritik satire terhadap penyebutan generasi muda nonsarjana oleh pejabat peradilan. Kini kelompok tersebut bertransformasi menjadi kekuatan sipil besar yang mampu memobilisasi puluhan ribu orang ke jalanan ibu kota.