Kasus Keracunan MBG Disorot, Guru Besar UGM Sebut SPPG Dibebani Produksi Berlebihan

Bella, Hiskia Andika Weadcaksana

Rabu, 29 Juli 2026 | 16:56 WIB
Kasus Keracunan MBG Disorot, Guru Besar UGM Sebut SPPG Dibebani Produksi Berlebihan
Survei Dewan Ekonomi Nasional menemukan bahwa program Makan Bergizi Gratis berhasil membentuk ekosistem rantai pasok baru di berbagai daerah Indonesia. [Antara]
baca 10 detik
  • Guru Besar UGM Sri Raharjo menyatakan kasus keracunan MBG terjadi akibat beban produksi SPPG yang terlalu besar.
  • SPPG baru yang langsung memproduksi ribuan porsi makanan setiap hari memicu risiko kesalahan pengolahan dan distribusi.
  • Sri menyarankan peningkatan kapasitas produksi dilakukan secara bertahap setelah melalui evaluasi keamanan pangan selama satu bulan.

Suara.com - Masih munculnya kasus dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak bisa dilepaskan dari beban produksi yang harus ditanggung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Raharjo, menilai banyak SPPG menghadapi tuntutan produksi yang terlalu besar sebelum sistem dan kapasitas mereka benar-benar siap.

Menurut Sri, persoalan keamanan pangan akan semakin sulit dikendalikan ketika SPPG yang baru beroperasi langsung dibebani ribuan paket makanan setiap hari. Dalam kondisi tersebut, peluang terjadinya kesalahan pengolahan, pengawasan, hingga distribusi makanan menjadi jauh lebih besar.

"Kebijakannya itu bertahap, SPPG-nya pun juga jangan ujug-ujug (tiba-tiba), SPPG baru lahir langsung dikasih beban 3.000 (porsi), ngawur itu," kata Sri dikutip, Rabu (29/7/2026).

Dapur SPPG (jabarprov.go.id)
Dapur SPPG (jabarprov.go.id)

Ia menjelaskan, setiap SPPG memiliki batas kemampuan produksi aman yang ditentukan oleh jumlah tenaga kerja, fasilitas, peralatan, hingga sistem pengendalian mutu yang dimiliki. Ketika kapasitas itu dipaksa berlipat ganda demi mengejar target program, risiko gangguan keamanan pangan ikut meningkat.

"Nah, kalau dia hanya karena ingin keuntungan, terutama mungkin dari mitranya atau yayasannya yang punya SPPG, padahal dibebani dua kalinya, tiga kalinya, itu kan risiko keamanan pangannya menjadi semakin tinggi, di luar kemampuannya yang wajar untuk menangani itu," ungkapnya.

Sri menilai pendekatan bertahap seharusnya menjadi prinsip utama dalam pengembangan MBG. Dapur SPPG yang baru berdiri perlu diberi kesempatan membuktikan bahwa sistem produksi mereka mampu berjalan aman dan konsisten sebelum kapasitasnya ditingkatkan.

"Jadi SPPG pun ketika baru beroperasi, meskipun juru masaknya hebat, ahli gizinya hebat, atau pengelolanya hebat, itu ya belum tentu dengan fasilitas yang baru, ya, dengan keadaan yang baru, itu langsung hebat semua, gitu loh," ujarnya.

Skema yang lebih masuk akal adalah memulai produksi dalam jumlah terbatas, kemudian dievaluasi secara berkala. Jika selama periode tertentu tidak ditemukan masalah keamanan pangan maupun keluhan dari penerima manfaat, kapasitas produksi baru bisa ditambah secara bertahap.

baca juga

Proses peningkatan kapasitas harus didasarkan pada hasil evaluasi nyata di lapangan, bukan sekadar target administratif. Catatan produksi, kualitas makanan, keamanan pangan, hingga respons penerima manfaat perlu menjadi indikator sebelum SPPG diberi tanggung jawab yang lebih besar.

"Nah mestinya, ini bertahapnya juga termasuk coba memproduksi 500 (porsi), jalan 1 bulan. Bagaimana pengelolaannya? Bagaimana catatan-catatannya? Bagaimana respons dari penerima manfaat," ucapnya.

"Misalnya aman, sebulan tidak terjadi kejadian keracunan, misalnya. Itu kan paling tidak sudah memunculkan kepercayaan bagi si SPPG-nya bahwa cara-cara produksi mereka itu sudah benar," imbuhnya.

Belum lagi soal tekanan waktu yang dihadapi SPPG dalam memenuhi jadwal distribusi MBG. Ketika volume produksi terlalu besar dan pasokan bahan baku datang terlambat, proses pengolahan makanan berpotensi berlangsung terburu-buru sehingga membuka celah terjadinya kesalahan.

Sri mengatakan berbagai keterbatasan yang dihadapi SPPG saat ini tidak sepenuhnya berasal dari pengelola di lapangan. Banyak persoalan muncul karena kebijakan perluasan MBG dilakukan terlalu cepat.

Akibatnya, kapasitas produksi belum tumbuh seiring dengan target yang ditetapkan pemerintah.

"Nah, keterbatasan ini itu kan belum tentu maunya SPPG, kan? Ini kan buah dari kebijakan dari BGN yang terlalu tergesa-gesa untuk memberikan MBG dalam jumlah banyak, ya, ke siswa dan bumil, dalam waktu singkat," ujarnya.

Oleh karena itu, Sri mengingatkan agar orientasi program tidak hanya berfokus pada percepatan jumlah penerima manfaat. Menurutnya, keberhasilan MBG seharusnya diukur dari kemampuan menyediakan makanan yang aman dan berkualitas, bukan sekadar banyaknya porsi yang berhasil dibagikan setiap hari.

"Orientasinya itu kan menyediakan MBG-nya supaya bergizi, ya harus aman dulu kan, harus aman," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BGN Siapkan Portal MBG, Orang Tua Bisa Pantau Menu dan Gizi Anak

BGN Siapkan Portal MBG, Orang Tua Bisa Pantau Menu dan Gizi Anak

Bisnis | Rabu, 29 Juli 2026 | 15:23 WIB

Satpam Positif Sabu Jadi Otak Pencurian 1.700 Ompreng MBG di Ciputat

Satpam Positif Sabu Jadi Otak Pencurian 1.700 Ompreng MBG di Ciputat

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 15:11 WIB

Perintah Prabowo: Orang Tua Siswa Kaya Raya Boleh Tolak MBG

Perintah Prabowo: Orang Tua Siswa Kaya Raya Boleh Tolak MBG

Bisnis | Rabu, 29 Juli 2026 | 14:39 WIB

Sudaryono Tutup 833 Dapur MBG, Tapi Akar Masalahnya Belum Tersentuh

Sudaryono Tutup 833 Dapur MBG, Tapi Akar Masalahnya Belum Tersentuh

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 12:22 WIB

Menteri Bappenas: Program MBG Lebih Mendesak Daripada Lapangan Pekerjaan

Menteri Bappenas: Program MBG Lebih Mendesak Daripada Lapangan Pekerjaan

Bisnis | Rabu, 29 Juli 2026 | 08:28 WIB

DPR Minta BGN Terbitkan Aturan Tertulis Larangan Dapur MBG Pakai MinyaKita dan Gas Melon

DPR Minta BGN Terbitkan Aturan Tertulis Larangan Dapur MBG Pakai MinyaKita dan Gas Melon

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 18:31 WIB

Percakapan Lodewyk Pusung dengan Istri jadi Bukti Kasus Korupsi MBG

Percakapan Lodewyk Pusung dengan Istri jadi Bukti Kasus Korupsi MBG

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 17:05 WIB

Survei SMRC: Popularitas MBG Tinggi, Tapi Kepuasan Publik Merosot

Survei SMRC: Popularitas MBG Tinggi, Tapi Kepuasan Publik Merosot

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 14:55 WIB

Hasto Tawarkan 'Mustika Rasa', Solusi MBG Tanpa Kuras Dana Pendidikan

Hasto Tawarkan 'Mustika Rasa', Solusi MBG Tanpa Kuras Dana Pendidikan

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 14:37 WIB

Ekonom UGM Kritik Kebijakan Pemerintah: Data Tak Sinkron hingga Risiko Inflasi dari MBG

Ekonom UGM Kritik Kebijakan Pemerintah: Data Tak Sinkron hingga Risiko Inflasi dari MBG

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 12:25 WIB

Terkini

Heboh! Puluhan Siswa SD di Sukabumi Keracunan, Diduga dari Susu Kedaluwarsa MBG

Heboh! Puluhan Siswa SD di Sukabumi Keracunan, Diduga dari Susu Kedaluwarsa MBG

Jabar | Rabu, 29 Juli 2026 | 17:20 WIB

Gawat! DIY Tak Punya Anggaran Dropping Air, Empat Kabupaten Sudah Alami Kekeringan

Gawat! DIY Tak Punya Anggaran Dropping Air, Empat Kabupaten Sudah Alami Kekeringan

Jogja | Rabu, 29 Juli 2026 | 17:20 WIB

Serum Flek Hitam Apa yang Paling Efektif untuk Kulit Berminyak? Ini 9 Rekomendasi Terbaik

Serum Flek Hitam Apa yang Paling Efektif untuk Kulit Berminyak? Ini 9 Rekomendasi Terbaik

Lifestyle | Rabu, 29 Juli 2026 | 17:20 WIB

Review Agent Kim Reactivated: Aksi Brutal yang Dibalut Kisah Keluarga

Review Agent Kim Reactivated: Aksi Brutal yang Dibalut Kisah Keluarga

Your Say | Rabu, 29 Juli 2026 | 17:20 WIB

7 HP Murah RAM Besar Terbaik untuk Gaming dan Streaming, Harga Rp1-2 Jutaan

7 HP Murah RAM Besar Terbaik untuk Gaming dan Streaming, Harga Rp1-2 Jutaan

Tekno | Rabu, 29 Juli 2026 | 17:20 WIB

Resmikan Pusat Layanan BGN, Sudaryono Ogah Terima Aduan Secara Diam-diam

Resmikan Pusat Layanan BGN, Sudaryono Ogah Terima Aduan Secara Diam-diam

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 17:18 WIB

Berbekal Teknologi i-DM Jetour T2 Kini Mencoba Peruntungan di Segmen SUV Hybrid Premium Indonesia

Berbekal Teknologi i-DM Jetour T2 Kini Mencoba Peruntungan di Segmen SUV Hybrid Premium Indonesia

Otomotif | Rabu, 29 Juli 2026 | 17:18 WIB

Pendiri Telegram Pavel Durov Masuk Daftar Buronan Terorisme Rusia

Pendiri Telegram Pavel Durov Masuk Daftar Buronan Terorisme Rusia

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 17:10 WIB

4 Gaya OOTD Y2K Chic ala Juun Hearts2Hearts, Manis tapi Tetap Edgy!

4 Gaya OOTD Y2K Chic ala Juun Hearts2Hearts, Manis tapi Tetap Edgy!

Your Say | Rabu, 29 Juli 2026 | 17:08 WIB

Uangnya Kelihatan Baru, Eh Ternyata Palsu! Penjual Jamu di Blitar Jadi Korban

Uangnya Kelihatan Baru, Eh Ternyata Palsu! Penjual Jamu di Blitar Jadi Korban

Jatim | Rabu, 29 Juli 2026 | 17:07 WIB

×