- Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU di Jombang pada Senin, 31 Agustus 2026, menetapkan lima calon Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.
- Lima kandidat yang lolos verifikasi persyaratan tersebut adalah Gus Kikin, Zulfa Mustofa, Gus Salam, Gus Yahya, dan Gus Rozin.
- Penentuan akhir Ketua Umum PBNU dilakukan melalui musyawarah sembilan anggota AHWA bersama Rais Aam terpilih, KH Miftachul Akhyar.
Suara.com - Pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031 memasuki tahap akhir. Setelah proses penjaringan dan verifikasi persyaratan, lima nama telah mengerucut untuk dibawa ke tahap persetujuan Rais Aam terpilih KH Miftachul Akhyar dan selanjutnya dimusyawarahkan oleh Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Kelima nama tersebut adalah KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, serta KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin.
Mereka ditetapkan setelah Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU melakukan tabulasi aspirasi peserta sekaligus memeriksa persyaratan pencalonan.
Perlu dicatat, daftar lima nama tersebut tidak sepenuhnya sama dengan lima peraih suara terbanyak dalam tabulasi awal. Berdasarkan penghitungan aspirasi, Gus Kikin memperoleh 472 suara, Zulfa Mustofa 262 suara, Gus Salam 261 suara, Gus Yahya 258 suara, dan Nusron Wahid 207 suara.
Namun, Nusron tidak dapat melanjutkan proses karena masih menduduki jabatan menteri yang dikategorikan sebagai jabatan politik dalam ketentuan pencalonan. Posisi tersebut kemudian digantikan Gus Rozin yang sebelumnya memperoleh 155 suara.
Pimpinan Sidang Pleno V, Prof H Ganefri, dalam forum tersebut menyampaikan bahwa kelima nama yang telah memenuhi ketentuan selanjutnya diajukan kepada Rais Aam PBNU terpilih, KH Miftachul Akhyar. Dalam informasi yang disampaikan pada persidangan, Ganefri mengatakan persetujuan Rais Aam terhadap lima nama tersebut telah diperoleh secara lisan dan tertulis.
“Alhamdulillah, Rais Aam terpilih, sesuai dengan tata tertib pemilihan. Setelah kami menghadap Rais Aam terpilih, kelima calon yang kita usulkan itu disetujui oleh Rais Aam secara lisan maupun secara tulisan,” ujar Ganefri dalam Sidang Pleno V di Gedung Serba Guna KH Hasbullah Said, Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026), dikutip dari NU Online.
Tahapan berikutnya tidak lagi berupa pemungutan suara langsung oleh seluruh peserta Muktamar. Penentuan Ketua Umum PBNU akan dilakukan melalui musyawarah Rais Aam bersama sembilan anggota AHWA.
Perubahan mekanisme ini sebelumnya disepakati dalam Muktamar ke-35 melalui voting, dengan 401 dari 552 suara mendukung penggunaan mekanisme AHWA.
Dengan mekanisme tersebut, tingginya perolehan suara dalam tahap penjaringan tidak otomatis menentukan seseorang menjadi Ketua Umum. Suara peserta menjadi dasar untuk menyaring kandidat, sedangkan keputusan akhir berada pada forum AHWA setelah kandidat memenuhi persyaratan dan memperoleh persetujuan Rais Aam.
Profil singkat lima nama yang kini berada di tahap akhir pemilihan:
1. KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin
KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menjadi kandidat dengan dukungan tertinggi, yakni 472 suara. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dan Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024–2029. Gus Kikin juga merupakan cicit KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU.
Namanya didorong PWNU Jawa Timur untuk maju dalam Muktamar ke-35. Gus Kikin sebelumnya menyatakan tidak mengajukan diri secara pribadi dan memandang pencalonannya sebagai amanah dari struktur NU Jawa Timur.
Dalam kontestasi kali ini, posisinya cukup menonjol karena memperoleh dukungan hampir dua kali lipat dibanding kandidat di urutan kedua. Namun, mekanisme AHWA membuat perolehan 472 suara tersebut tetap bukan jaminan bahwa Gus Kikin akan menjadi Ketua Umum.
2. KH Zulfa Mustofa
KH Zulfa Mustofa berada di posisi kedua dengan 262 suara. Ia merupakan Wakil Ketua Umum PBNU dan dikenal memiliki latar belakang pendidikan serta aktivitas keilmuan pesantren. Dalam perjalanan organisasinya, Zulfa pernah menjadi Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU dan Katib Syuriyah PBNU sebelum dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum.
Zulfa juga sempat ditetapkan sebagai Penjabat Ketua Umum PBNU pada Desember 2025 dalam dinamika internal organisasi. Namun, ia kemudian mengembalikan mandat tersebut kepada Rais Aam pada Januari 2026 dengan alasan kepentingan kerukunan organisasi.
3. KH Abdussalam Shohib alias Gus Salam
KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam memperoleh 261 suara, hanya terpaut satu suara dari Zulfa Mustofa. Ia merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang, serta dikenal sebagai salah satu figur yang membawa isu rekonsiliasi organisasi dalam bursa Ketua Umum PBNU.
Gus Salam menyatakan maju setelah memperoleh dorongan dari sejumlah kiai dan tokoh pesantren. Dalam proses pencalonannya, ia banyak berbicara mengenai kebutuhan mengembalikan soliditas dan keharmonisan organisasi.
Basis pesantrennya juga menjadi bagian penting dari rekam jejaknya. Gus Salam merupakan cucu KH Bisri Syansuri, salah satu pendiri NU, dan memiliki hubungan kuat dengan lingkungan pesantren di Jombang serta Kediri.
4. KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya
KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya merupakan petahana Ketua Umum PBNU periode 2021–2026. Dalam tabulasi Muktamar ke-35, ia memperoleh 258 suara dan masuk dalam lima nama yang memenuhi persyaratan untuk melanjutkan proses pencalonan.
Gus Yahya lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 16 Februari 1966. Ia merupakan putra KH Cholil Bisri dan cucu KH Bisri Mustofa. Pendidikan pesantrennya antara lain ditempuh di Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, dan Pesantren Krapyak, Yogyakarta.
5. KH Abdul Ghaffar Rozin alias Gus Rozin
KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menjadi nama yang menarik dalam daftar final karena masuk bukan berdasarkan lima suara tertinggi, melainkan setelah proses pemeriksaan persyaratan menggugurkan sejumlah nama di atasnya. Ia memperoleh 155 suara dan berada di urutan kedelapan dalam tabulasi awal.
Gus Rozin merupakan Pengasuh Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, sekaligus Ketua PWNU Jawa Tengah periode 2024–2029. Ia adalah putra KH MA Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU periode 1999–2014. Dari sisi pendidikan, Gus Rozin menempuh pendidikan pesantren di Kajen dan Fathul Ulum Kwagean, kemudian melanjutkan studi hingga memperoleh gelar Master of Education dari Monash University, Australia, serta menyelesaikan pendidikan doktoral di UIN Walisongo Semarang pada 2023.
Pengalaman organisasinya juga cukup panjang, antara lain di IPNU, GP Ansor, Lembaga Pendidikan Ma'arif PBNU, hingga Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU. Pada Muktamar ke-35, Gus Rozin termasuk tokoh yang mendukung perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum menuju AHWA.
Bukan sekadar soal perolehan suara
Komposisi lima nama tersebut menunjukkan bahwa kontestasi Ketua Umum PBNU kali ini tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah dukungan awal. Tabulasi suara berfungsi sebagai tahap penjaringan, sementara persyaratan organisasi menjadi penyaring berikutnya.
Kasus Nusron Wahid menjadi contoh paling jelas. Ia memperoleh 207 suara dan secara angka berada di posisi kelima, tetapi tidak dapat melanjutkan karena statusnya sebagai Menteri ATR/Kepala BPN. Hal serupa terjadi pada Saifullah Yusuf yang memperoleh 174 suara.
Sementara KH Muhammad Yusuf Chudlori, dengan 176 suara, tidak masuk daftar final karena ketentuan mengenai masa jeda setelah keterlibatan dalam kepengurusan partai politik.
Dengan demikian, lima nama yang kini berada di tahap akhir adalah hasil kombinasi antara aspirasi peserta dan verifikasi persyaratan organisasi: Gus Kikin, Zulfa Mustofa, Gus Salam, Gus Yahya, dan Gus Rozin.
Setelah persetujuan Rais Aam terpilih, penentuan Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031 selanjutnya berada di tangan AHWA.
Artinya, siapa yang meraih suara terbanyak dalam penjaringan belum tentu menjadi pemenang akhir. Keputusan akan ditentukan melalui musyawarah sembilan ulama AHWA bersama Rais Aam terpilih.
Catatan faktual: informasi awal yang menyebut lima nama berdasarkan perolehan suara tertinggi perlu dikoreksi. Secara tabulasi, lima besar awal memang Gus Kikin, Zulfa, Gus Salam, Gus Yahya, dan Nusron. Namun, setelah verifikasi syarat, Nusron gugur dan Gus Rozin yang memperoleh 155 suara masuk sebagai lima calon yang memenuhi syarat. Ini penting agar berita tidak keliru menyebut Gus Rozin sebagai peraih lima suara terbanyak.