-
Total korban tewas banjir gletser Himalaya melampaui 1.000 jiwa dengan ribuan orang hilang.
-
Tim penyelamat memfokuskan evakuasi pada seratus pekerja yang terjebak di dalam terowongan hidrodinamika.
-
Pemerintah Nepal menyoroti dampak krisis iklim global serta estimasi kerugian rekonstruksi miliaran dolar.
Suara.com - Angka kematian akibat banjir bandang gletser di kawasan Himalaya resmi menembus 1.003 jiwa pada Selasa (1/9) waktu setempat. Lebih dari 4.500 warga masih dinyatakan hilang akibat terjangan gelombang air es dan material batuan yang menghancurkan permukiman di Nepal serta Tibet.
Fokus penyelamatan kini tertuju pada evakuasi sekitar 100 pekerja yang terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air. Tim penyelamat terus mengebor dan meledakkan material lumpur yang menyumbat jalur evakuasi tersebut.
Tragedi ini memicu keprihatinan mendalam atas dampaknya terhadap keselamatan jiwa dan infrastruktur lokal. Luapan air bah berkecepatan tinggi meluluhlantakkan ratusan desa dalam waktu singkat.
"Kami berfokus pada upaya pencarian dan penyelamatan di terowongan, pekerjaan kami terus berlanjut," kata Raja Ram Basnet, juru bicara Tentara Nepal, kepada AFP pada Selasa.
"Prajurit kami juga dikerahkan untuk mengumpulkan jenazah dan mencegah penyebaran penyakit."
Kapasitas ruang jenazah di Nepal kini telah melampaui batas hingga petugas mulai menguburkan ratusan jasad tanpa identitas setelah pengambilan sampel DNA. Sementara itu, sedikitnya 17 jenazah ditemukan hanyut sampai ke wilayah aliran sungai di India.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyebut bencana alam dahsyat ini sebagai peristiwa yang "tidak terbayangkan dan sangat memilukan".
Di ibu kota Kathmandu, warga memadati area luar rumah sakit untuk menempelkan foto anggota keluarga yang hilang. Mereka menggantungkan harapan terakhir di tengah proses pencarian yang kian menipis.
Debu Sapkota, seorang pengemudi berusia 58 tahun, mengunggah foto ibu mertuanya yang berusia 83 tahun dan cucunya yang hilang di kota Trishuli Bazaar.
Sinyal peringatan dini sempat berbunyi, tetapi wanita lansia itu terlalu tua untuk berlari.
"Cucunya mencoba membantunya melarikan diri, tetapi keduanya tersapu air bah."
Sapkota menyatakan bahwa dirinya tidak lagi memiliki harapan bahwa mereka selamat setelah para saksi melihat keduanya terbawa arus deras.
"Saya di sini berharap dapat menemukan jenazah mereka," ujarnya sambil menunjukkan foto kedua kerabatnya yang mengenakan pakaian tradisional.
Proses kremasi mulai dilakukan oleh keluarga korban di Distrik Chitwan dengan pengawalan ketat. Helikopter militer terus dikerahkan ke wilayah Nuwakot dan Rasuwa guna mendistribusikan pasokan bantuan serta mengevakuasi korban tewas.
Kebutuhan bantuan darurat membengkak seiring ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal di tengah guyuran hujan deras. Kerusakan parah melumpuhkan puluhan jembatan, akses jalan utama, hingga jaringan listrik nasional.
"Ada terlalu banyak tantangan," kata petugas polisi E Hawadi di distrik Nuwakot yang terdampak parah.
Warga Nuwakot terpaksa mengais puing-puing bangunan berlumpur untuk menyelamatkan barang yang tersisa. Sebagian dari mereka merangkai terpal plastik sebagai tempat bernaung sementara di atas reruntuhan rumah.
Data resmi mencatat 583 warga negara asing hilang di Nepal dan 261 orang di wilayah China dari total 30 negara asal.
Daftar korban hilang mencakup wisatawan pendaki gunung Himalaya serta peziarah Hindu yang sedang menuju Gunung Kailash di Tibet.
Bencana ini memicu gelombang kemarahan publik terhadap ketimpangan dampak perubahan iklim global. Nepal yang berpenduduk 30 juta jiwa dinilai menanggung risiko terbesar meski hanya menyumbang sedikit emisi gas rumah kaca.
"Sekarang saatnya bagi kita untuk menyuarakan secara tegas kepada komunitas internasional mengenai bencana yang kita alami sebagai akibat dari perubahan iklim," kata Shah, PM Nepal, dalam sebuah pernyataan resmi pada Senin malam.
Laporan ilmiah mengonfirmasi bahwa laju pelelehan gletser di Pegunungan Himalaya semakin memuncak seiring meningkatnya suhu global. Kondisi ini memperbesar risiko luapan danau gletser secara mendadak di masa depan.
Pemerintah Kathmandu memperkirakan biaya rekonstruksi pascabencana akan menembus angka miliaran dolar AS. Beban tersebut menjadi ujian berat bagi perekonomian Nepal yang memiliki keterbatasan sumber daya keuangan.