Harapan Terakhir, SAR Gabungan China-Nepal Cari Korban Banjir Bandang di Terowongan PLTA

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 01 September 2026 | 15:41 WIB
Harapan Terakhir, SAR Gabungan China-Nepal Cari Korban Banjir Bandang di Terowongan PLTA
Banjir bandang dahsyat yang menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet melenyapkan rombongan pendaki berisi 47 orang. (ABC)
baca 10 detik
  • Total korban tewas banjir gletser Himalaya melampaui 1.000 jiwa dengan ribuan orang hilang.

  • Tim penyelamat memfokuskan evakuasi pada seratus pekerja yang terjebak di dalam terowongan hidrodinamika.

  • Pemerintah Nepal menyoroti dampak krisis iklim global serta estimasi kerugian rekonstruksi miliaran dolar.

Suara.com - Angka kematian akibat banjir bandang gletser di kawasan Himalaya resmi menembus 1.003 jiwa pada Selasa (1/9) waktu setempat. Lebih dari 4.500 warga masih dinyatakan hilang akibat terjangan gelombang air es dan material batuan yang menghancurkan permukiman di Nepal serta Tibet.

Fokus penyelamatan kini tertuju pada evakuasi sekitar 100 pekerja yang terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air. Tim penyelamat terus mengebor dan meledakkan material lumpur yang menyumbat jalur evakuasi tersebut.

Tragedi ini memicu keprihatinan mendalam atas dampaknya terhadap keselamatan jiwa dan infrastruktur lokal. Luapan air bah berkecepatan tinggi meluluhlantakkan ratusan desa dalam waktu singkat.

"Kami berfokus pada upaya pencarian dan penyelamatan di terowongan, pekerjaan kami terus berlanjut," kata Raja Ram Basnet, juru bicara Tentara Nepal, kepada AFP pada Selasa.

"Prajurit kami juga dikerahkan untuk mengumpulkan jenazah dan mencegah penyebaran penyakit."

Kapasitas ruang jenazah di Nepal kini telah melampaui batas hingga petugas mulai menguburkan ratusan jasad tanpa identitas setelah pengambilan sampel DNA. Sementara itu, sedikitnya 17 jenazah ditemukan hanyut sampai ke wilayah aliran sungai di India.

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyebut bencana alam dahsyat ini sebagai peristiwa yang "tidak terbayangkan dan sangat memilukan".

Di ibu kota Kathmandu, warga memadati area luar rumah sakit untuk menempelkan foto anggota keluarga yang hilang. Mereka menggantungkan harapan terakhir di tengah proses pencarian yang kian menipis.

Debu Sapkota, seorang pengemudi berusia 58 tahun, mengunggah foto ibu mertuanya yang berusia 83 tahun dan cucunya yang hilang di kota Trishuli Bazaar.

baca juga

Sinyal peringatan dini sempat berbunyi, tetapi wanita lansia itu terlalu tua untuk berlari.

"Cucunya mencoba membantunya melarikan diri, tetapi keduanya tersapu air bah."

Sapkota menyatakan bahwa dirinya tidak lagi memiliki harapan bahwa mereka selamat setelah para saksi melihat keduanya terbawa arus deras.

"Saya di sini berharap dapat menemukan jenazah mereka," ujarnya sambil menunjukkan foto kedua kerabatnya yang mengenakan pakaian tradisional.

Proses kremasi mulai dilakukan oleh keluarga korban di Distrik Chitwan dengan pengawalan ketat. Helikopter militer terus dikerahkan ke wilayah Nuwakot dan Rasuwa guna mendistribusikan pasokan bantuan serta mengevakuasi korban tewas.

Kebutuhan bantuan darurat membengkak seiring ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal di tengah guyuran hujan deras. Kerusakan parah melumpuhkan puluhan jembatan, akses jalan utama, hingga jaringan listrik nasional.

"Ada terlalu banyak tantangan," kata petugas polisi E Hawadi di distrik Nuwakot yang terdampak parah.

Warga Nuwakot terpaksa mengais puing-puing bangunan berlumpur untuk menyelamatkan barang yang tersisa. Sebagian dari mereka merangkai terpal plastik sebagai tempat bernaung sementara di atas reruntuhan rumah.

Data resmi mencatat 583 warga negara asing hilang di Nepal dan 261 orang di wilayah China dari total 30 negara asal.

Daftar korban hilang mencakup wisatawan pendaki gunung Himalaya serta peziarah Hindu yang sedang menuju Gunung Kailash di Tibet.

Bencana ini memicu gelombang kemarahan publik terhadap ketimpangan dampak perubahan iklim global. Nepal yang berpenduduk 30 juta jiwa dinilai menanggung risiko terbesar meski hanya menyumbang sedikit emisi gas rumah kaca.

"Sekarang saatnya bagi kita untuk menyuarakan secara tegas kepada komunitas internasional mengenai bencana yang kita alami sebagai akibat dari perubahan iklim," kata Shah, PM Nepal, dalam sebuah pernyataan resmi pada Senin malam.

Laporan ilmiah mengonfirmasi bahwa laju pelelehan gletser di Pegunungan Himalaya semakin memuncak seiring meningkatnya suhu global. Kondisi ini memperbesar risiko luapan danau gletser secara mendadak di masa depan.

Pemerintah Kathmandu memperkirakan biaya rekonstruksi pascabencana akan menembus angka miliaran dolar AS. Beban tersebut menjadi ujian berat bagi perekonomian Nepal yang memiliki keterbatasan sumber daya keuangan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Viral Batu Suci Umat Hindu 31 Ton Ditemukan Pasca Banjir Nepal, Faktanya Seperti Ini

Viral Batu Suci Umat Hindu 31 Ton Ditemukan Pasca Banjir Nepal, Faktanya Seperti Ini

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 19:38 WIB

Update Kondisi WNI di Nepal Setelah Banjir Bandang, Apakah Ada Korban?

Update Kondisi WNI di Nepal Setelah Banjir Bandang, Apakah Ada Korban?

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 17:11 WIB

Grand Canyon Banjir Bandang Sapu Infrastruktur Park Service, 20 Pendaki Hilang

Grand Canyon Banjir Bandang Sapu Infrastruktur Park Service, 20 Pendaki Hilang

News | Senin, 31 Agustus 2026 | 14:01 WIB

Terkini

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Bali | Rabu, 16 September 2026 | 23:24 WIB

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 23:11 WIB

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 23:10 WIB

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Sumsel | Rabu, 16 September 2026 | 23:00 WIB

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:55 WIB

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 22:49 WIB

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:41 WIB

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 22:39 WIB

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:31 WIB

Prabowo Ingin Pembakaran Hutan Digolongkan 'Terorisme Ekologi', Sanksi Bakal Diperberat!

Prabowo Ingin Pembakaran Hutan Digolongkan 'Terorisme Ekologi', Sanksi Bakal Diperberat!

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:22 WIB

×