Warga Kuching Malaysia: Kami Tidak Bisa Lihat Apapun karena Asap Kebakaran Hutan Kalimantan

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 03 September 2026 | 13:19 WIB
Warga Kuching Malaysia: Kami Tidak Bisa Lihat Apapun karena Asap Kebakaran Hutan Kalimantan
Kuching Malaysia (BBC)
baca 10 detik
  • Kebakaran hutan Kalimantan kembali memicu kabut asap pekat yang mengganggu penerbangan menuju Kuching, Sarawak.

  • Warga mengeluhkan belum adanya solusi konkret pencegahan meski krisis serupa sudah terjadi sejak 1997.

  • Penanganan krisis mendesak fokus pada tindakan pencegahan di sumber titik api, bukan sekadar adaptasi.

Suara.com - Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan di Kalimantan kembali melintasi batas negara dan melumpuhkan jarak pandang di wilayah Kuching, Sarawak, Malaysia Kamis (3/9/2026). Penerbangan menuju wilayah tersebut kini menghadapi ancaman keselamatan serius akibat pekatnya polusi udara yang menutup pandangan daratan.

Kondisi udara beracun ini membuktikan lemahnya pencegahan krisis lingkungan regional yang terus berulang tanpa penanganan permanen. Bencana ekologis bulanan ini kembali mengulang pola merusak yang sama persis seperti tiga dekade lalu.

Peningkatan titik api di daratan Indonesia terus menyuplai asap tebal ke wilayah tetangga setiap musim kemarau tiba. Dampaknya tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat lokal, tetapi juga langsung memukul sektor pariwisata dan logistik udara.

Pengalaman buruk tersebut dirasakan langsung oleh Jennifer Kang, seorang pengunjung asal Malaysia yang terbang menuju Sarawak pada Minggu sore. Pemandangan dari jendela pesawat tempatnya duduk sepenuhnya tertutup jelak pekat saat burung besi itu berusaha mendarat.

Jennifer Kang menceritakan keparahannya saat pesawatnya mulai turun di landasan pacu.

"Kami tidak bisa melihat apa pun di bawah kami," kata Jennifer Kang.

Kejadian pekan ini membongkar memori kelam krisis asap hebat tahun 1997 yang pernah melumpuhkan perekonomian kawasan. Kala itu, aktivitas warga terhenti total akibat langit Sarawak tertutup jelaga hitam selama bertandak-tandak bulan.

Sektor penerbangan dan industri pelancongan mati suri akibat pembatalan massal jadwal penerbangan internasional. Dampak finansial dan sosial yang ditimbulkan dari bencana udara masa lalu itu terbukti sangat menghancurkan.

Jennifer Kang mengingat kembali krisis kabut asap 1997 yang melumpuhkan seluruh aktivitas wilayah tersebut.

baca juga

"Situasi itu berlangsung begitu lama hingga kami merasa seolah tak bisa melihat langit. Sungguh mengerikan. Ekonomi melambat, pariwisata terhenti, dan penerbangan dibatalkan. Dampaknya benar-benar melumpuhkan," kenangnya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi pemantauan titik api sebenarnya sudah berkembang pesat dibanding 30 tahun silam. Namun, pemahaman terkait dalang dan tata cara pencegahan kebakaran belum mampu menghentikan tradisi polusi tahunan ini.

Kegagalan penegakan hukum dan komitmen lintas negara membuat masyarakat terus menjadi korban asap beracun yang sama. Situasi darurat ini membuktikan belum adanya langkah konkret yang melampaui sekadar imbauan di atas kertas.

Jennifer Kang menyayangkan ketidakmampuan penanganan krisis yang seharusnya sudah bisa diantisipasi sejak jauh hari.

"Tiga puluh tahun kemudian, kita tahu jauh lebih banyak. Kita tahu apa penyebab kebakaran tersebut. Kita tahu cara mencegahnya dengan lebih baik. Namun, kenyataannya saat ini kita masih menghadapi kualitas udara yang sangat buruk. Ini tidak wajar," tegas Jennifer Kang.

Tuntutan publik kini bergeser dari sekadar cara bertahan hidup di tengah kepungan asap menuju aksi nyata pencegahan di hulu. Pemerintah regional didesak menindak tegas pelaku pembakaran lahan tanpa kompromi diplomasi yang melunak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kabut Asap Indonesia Makin Meluas, Udara Tak Sehat Kini Kepung Filipina Selatan

Kabut Asap Indonesia Makin Meluas, Udara Tak Sehat Kini Kepung Filipina Selatan

News | Kamis, 03 September 2026 | 12:41 WIB

Pemerintah Turunkan Harga BBM Non Subdisi, Berlaku Semua RON di Malaysia

Pemerintah Turunkan Harga BBM Non Subdisi, Berlaku Semua RON di Malaysia

News | Kamis, 03 September 2026 | 07:27 WIB

Kabut Asap Karhutla Kepung Kalimantan Selatan

Kabut Asap Karhutla Kepung Kalimantan Selatan

Foto | Kamis, 03 September 2026 | 07:30 WIB

Terkini

Kasus Febrie Adriansyah Segera Dilimpahkan, Kuasa Hukum Soroti Penyitaan Aset Rp846 Miliar

Kasus Febrie Adriansyah Segera Dilimpahkan, Kuasa Hukum Soroti Penyitaan Aset Rp846 Miliar

News | Rabu, 16 September 2026 | 09:20 WIB

Febrie Adriansyah Siap Uji Dugaan TPPU dan Keabsahan Aset Rp 846 Miliar di Pengadilan

Febrie Adriansyah Siap Uji Dugaan TPPU dan Keabsahan Aset Rp 846 Miliar di Pengadilan

News | Rabu, 16 September 2026 | 09:17 WIB

Industri Event Jadi Mesin Baru Ekonomi Nasional, Perputaran Uang Capai Rp 1,09 T

Industri Event Jadi Mesin Baru Ekonomi Nasional, Perputaran Uang Capai Rp 1,09 T

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 09:16 WIB

IHSG Mulai Bangkit Pagi Ini Tetap di Level 6.400, Pantau BRMS

IHSG Mulai Bangkit Pagi Ini Tetap di Level 6.400, Pantau BRMS

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 09:15 WIB

Udara Singapura Memburuk, Asap dari Kalimantan dan Sumatra Terpantau Bergerak Masuk

Udara Singapura Memburuk, Asap dari Kalimantan dan Sumatra Terpantau Bergerak Masuk

News | Rabu, 16 September 2026 | 09:08 WIB

YouTube, X, hingga Telegram Masuk Daftar Risiko Tinggi PP TUNAS, Ini Langkah Komdigi

YouTube, X, hingga Telegram Masuk Daftar Risiko Tinggi PP TUNAS, Ini Langkah Komdigi

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 09:06 WIB

Pemkab Siak Ngaret Serahkan Dokumen, Pembahasan APBD-P Terancam Deadlock

Pemkab Siak Ngaret Serahkan Dokumen, Pembahasan APBD-P Terancam Deadlock

Riau | Rabu, 16 September 2026 | 09:03 WIB

Shio Macan dan Naga Apakah Cocok? Intip Peruntungan Asmara, Karier hingga Keuangannya

Shio Macan dan Naga Apakah Cocok? Intip Peruntungan Asmara, Karier hingga Keuangannya

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 09:02 WIB

UlasanA Bona Fide Killer: Ketika Ibu Rumah Tangga Menyimpan Identitas sebagai Pembunuh

UlasanA Bona Fide Killer: Ketika Ibu Rumah Tangga Menyimpan Identitas sebagai Pembunuh

Your Say | Rabu, 16 September 2026 | 09:00 WIB

Cakupan Konservasi Halmahera Diperluas, Pemantauan Biodiversitas Kini Sentuh 40 Titik

Cakupan Konservasi Halmahera Diperluas, Pemantauan Biodiversitas Kini Sentuh 40 Titik

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 08:57 WIB

×