- Pemerintah Kabupaten Serang memberlakukan sekolah daring di tujuh kecamatan mulai Senin untuk melindungi siswa dari abu vulkanik.
- Pemerintah Provinsi Lampung menerapkan pembelajaran daring dan menghentikan kegiatan luar ruangan sekolah selama dua hari akibat erupsi.
- Dinas Pendidikan DKI Jakarta mewajibkan seluruh satuan pendidikan melaksanakan pembelajaran jarak jauh mulai Senin demi keselamatan kesehatan siswa.
Suara.com - Paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) membuat pemerintah daerah di sejumlah wilayah mengambil langkah serupa: menghentikan sementara pembelajaran tatap muka dan mengalihkannya ke sistem daring.
Kebijakan tersebut diterapkan sebagai langkah mitigasi untuk melindungi siswa dan warga sekolah dari risiko kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
Di Kabupaten Serang, Banten, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang akan memberlakukan pembelajaran daring di tujuh kecamatan yang terdampak langsung abu vulkanik GAK.
Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah mengatakan surat edaran mengenai pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring akan diterbitkan mulai Senin. Kebijakan tersebut berlaku selama aktivitas erupsi masih berlangsung.
"Sesegera mungkin saya akan buat surat edaran karena abu vulkanik ini sangat berbahaya. Insya Allah pada hari Senin, edaran untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) daring ini dikeluarkan dan berlaku selama erupsi masih terus aktif," kata Ratu usai meninjau Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Kabupaten Serang, Banten, Minggu.
Tujuh kecamatan yang terdampak dan akan menerapkan pembelajaran daring yakni Anyer, Cinangka, Padarincang, Baros, Pabuaran, Ciomas, dan Mancak.
Ratu menjelaskan, keputusan menghentikan sementara pembelajaran tatap muka diambil dengan mempertimbangkan kesehatan dan keselamatan siswa. Abu vulkanik, kata dia, berbahaya apabila terhirup dan masuk ke paru-paru karena dapat memicu gangguan pernapasan seperti batuk, pilek hingga Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Pemkab Serang juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan tanpa panik. Warga diimbau tetap berada di rumah dan menghindari aktivitas di luar apabila tidak ada keperluan mendesak.
"Jika memang harus keluar rumah, maka tolong gunakan masker dan kacamata. Saat ini kami juga telah menerima bantuan masker dari Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Kesehatan untuk dibagikan ke warga," ujarnya.
Meski demikian, Pemkab Serang belum mengeluarkan imbauan evakuasi bagi masyarakat. BPBD bersama pemerintah kecamatan dan desa terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
"Untuk mengungsi tidak ada, yang jelas imbauan nya tetap diam di rumah. Saya juga sudah menginstruksikan seluruh camat dan kepala desa di wilayah Kabupaten Serang untuk senantiasa siaga dan waspada," tutupnya.
Lampung Berlakukan Daring Dua Hari
Kebijakan serupa juga diterapkan Pemerintah Provinsi Lampung. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meminta sekolah melaksanakan pembelajaran daring selama dua hari sebagai langkah antisipasi terhadap sebaran abu vulkanik GAK.
"Sekolah juga dalam dua hari ini, kami minta untuk melakukan pembelajaran secara daring," ujar Rahmat Mirzani Djausal di Bandarlampung, Minggu.
Selain pembelajaran daring, seluruh kegiatan sekolah yang dilakukan di luar ruangan juga dihentikan sementara. Kebijakan tersebut mencakup kegiatan olahraga dan upacara.
"Selain itu untuk seluruh kegiatan sekolah, terutama kegiatan yang dilakukan di luar ruangan termasuk olahraga dan upacara semua dihentikan sementara," katanya.
Rahmat mengatakan aktivitas GAK menjadi perhatian pemerintah daerah karena berpotensi berdampak terhadap masyarakat. Pemerintah juga terus memantau perkembangan aktivitas gunung tersebut dan memperbarui informasi secara berkala.
"Aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian kami semua, karena merupakan salah satu gunung aktif di Indonesia bersama dengan Gunung Semeru, Gunung Lewotobi Laki-Laki, dan Gunung Sinabung," ucap dia.
"Kita telah melakukan pengamatan sejak Jumat tentang aktivitas yang terjadi di Gunung Anak Krakatau. Dan akan terus melakukan upaya mitigasi, serta masyarakat diharapkan dapat mencari informasi berdasarkan sumber resmi terkait perkembangan ini, dan tetap tenang," tambahnya.
Jakarta Mulai PJJ Senin
Sementara itu, Dinas Pendidikan DKI Jakarta juga mengalihkan pembelajaran dari sekolah ke rumah mulai Senin (7/9).
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nahdiana mengatakan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) diterapkan untuk menjaga kesehatan warga sekolah dari paparan abu vulkanik GAK.
"Kami ingin memastikan anak-anak tetap belajar dalam suasana yang aman dan nyaman. Karena itu, untuk sementara pembelajaran dilakukan dari rumah. Orang tua tidak perlu panik, karena proses pembelajaran tetap berjalan," kata Nahdiana dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu.
Menurut Nahdiana, PJJ bukan berarti kegiatan pendidikan dihentikan. Proses pembelajaran tetap berlangsung dari rumah dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masing-masing peserta didik.
Dinas Pendidikan DKI Jakarta juga berkoordinasi dengan seluruh satuan pendidikan untuk memastikan pembelajaran jarak jauh berjalan dengan baik. Sekolah diminta menyediakan alternatif apabila peserta didik mengalami kendala selama belajar dari rumah.
"Keselamatan dan kesehatan anak-anak adalah prioritas. Kami juga mengimbau orang tua mendampingi anak selama belajar dari rumah dan memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber resmi," ujarnya.
Pelaksanaan PJJ di Jakarta akan dievaluasi berdasarkan perkembangan situasi abu vulkanik. Pemprov DKI juga meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan tetap mengikuti arahan pemerintah.
"Kebijakan pembelajaran akan dievaluasi sesuai perkembangan situasi. Pemprov DKI mengajak masyarakat tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi," pungkasnya.
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta sebelumnya telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 91/SE/2026 tentang Peningkatan Kewaspadaan terhadap Abu Vulkanik pada 5 September 2026.
Surat edaran tersebut menginstruksikan satuan pendidikan mulai dari PAUD, SKB/PKBM, SLB, SD, SMP, SMA hingga SMK negeri dan swasta di Jakarta menerapkan PJJ mulai 7 September sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
Kebijakan di tiga wilayah tersebut menunjukkan pemerintah daerah memilih pembelajaran daring sebagai langkah mitigasi sementara untuk mengurangi aktivitas siswa di luar rumah selama paparan abu vulkanik GAK masih menjadi perhatian.