Muncul Isu Aksi Massa Black September, Analis Yakin Polri Mampu Tangani

Bangun Santoso

Kamis, 10 September 2026 | 17:20 WIB
Muncul Isu Aksi Massa Black September, Analis Yakin Polri Mampu Tangani
Ilustrasi aksi massa menggelar aksi di depan kawasan Gedung DPR/MPR, Jakarta, Kamis (27/8/2026). [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc]
baca 10 detik
  • Boni Hargens memprediksi aksi demonstrasi besar bertajuk Black September akan terjadi di Jakarta pada 24 September 2026.
  • Analis menilai Polri, TNI, dan BIN harus bersinergi menggunakan Pusat Komando Terpadu guna mengamankan unjuk rasa tersebut.
  • Strategi pengamanan mengutamakan pendekatan proaktif, deteksi dini, komunikasi, serta menjadikan penegakan hukum sebagai upaya terakhir.

Suara.com - Isu pergerakan massa yang dilabeli sebagai "Black September" kini belakangan menjadi sorotan jajaran aparat keamanan nasional.

Dugaan gelombang demonstrasi berskala besar diproyeksikan akan memadati wilayah Jakarta dan sekitarnya dengan titik puncak pada 24 September 2026.

Aksi jalanan ini disinyalir sebagai bentuk protes keras terhadap sejumlah kebijakan pemerintah dan dinamika pembahasan rancangan undang-undang di parlemen, termasuk RUU Perampasan Aset, yang berpotensi menarasikan ulang gelombang perlawanan sipil dari aksi 27 Agustus 2026 lalu.

Merespons potensi eskalasi di ibu kota, analis politik, hukum, dan intelijen, Boni Hargens, meyakini Kepolisian Republik Indonesia (Polri) memiliki instrumen dan kapasitas mumpuni untuk mengendalikan situasi.

Pengamanan ini diyakini akan berjalan seimbang antara tugas konstitusional menjaga ketertiban masyarakat (Kamtibmas) dan penghormatan terhadap hak kebebasan berpendapat sesuai UUD 1945.

Paradigma Presisi yang digagas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dinilai menjadi kerangka konseptual yang sangat relevan untuk meredam potensi konflik sosial.

“Pendekatan ini mendorong Polri untuk bersikap proaktif, bukan reaktif, dalam mengelola potensi konflik sosial. Dengan kata lain, deteksi dini, komunikasi terbuka, dan deeskalasi adalah prioritas utama sebelum langkah penegakan hukum diterapkan” kata Boni kepada awak media di Jakarta (10/9/2026).

Mantan Dewan Pengawas LKBN Antara tersebut menegaskan aparat penegak hukum telah teruji dalam menghadapi berbagai eskalasi unjuk rasa skala masif.

"Ada banyak preseden yang membuktikan kapasitas Polri," ucapnya.

baca juga

Tantangan isu Black September 2026 menuntut kualitas koordinasi taktis dari tiga pilar keamanan nasional, yakni Polri, Badan Intelijen Negara (BIN), dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Sinergi lintas sektoral diwajibkan agar penanganan massa tetap terukur, proporsional, dan tidak berujung pada bentrokan di lapangan.

"Koordinasi Polri, TNI, dan BIN adalah keniscayaan. Kolaborasi lintas-sektoral memungkinkan setiap institusi dapat memainkan peran optimal dalam melakukan cegah dini, langkah mitigasi, termasuk penindakan dan langkah post-factum seperti upaya peredaan ketegangan, dan rekonsiliasi antara massa aksi dan negara," beber Boni.

Model pengamanan terpadu ini mensyaratkan adanya Pusat Komando Terpadu (Joint Command Center) untuk pertukaran informasi real-time dengan tongkat komando utama tetap berada di tangan Polri.

“Mekanisme ini kan bukan sesuatu yang baru. Preseden dalam penanganan aksi 2019 dan 2020, termasuk Agustus 2025 dan Agustus 2026 sudah menunjukkan bahwa model ini efektif bila dijalankan dengan disiplin dan transparansi internal” ujar mantan anggota Golden Key International Honour Society tersebut.

Untuk memastikan aksi sipil berjalan bermartabat, Boni merumuskan lima langkah mitigasi strategis.

Pertama, aktivasi Pusat Komando Terpadu Polri-BIN-TNI dengan protokol ketat berbasis verifikasi ancaman.

Kedua, Polri harus menjalin komunikasi dengan koordinator aksi jauh hari sebelum 24 September guna memetakan rute, menyerap tuntutan, serta mencegah infiltrasi provokator yang kerap menunggangi aksi damai.

Pengamat politik, Boni Hargens usai menghadiri sebuah diskusi di Jakarta. (ist)
Pengamat politik, Boni Hargens usai menghadiri sebuah diskusi di Jakarta. (ist)

“Ketiga, prosedur deeskalasi sebagai prioritas pertama harus sudah tersedia. Tindakan penegakan hukum adalah upaya terakhir (prinsip ultimum remedium), bukan langkah pertama. Setiap satuan lapangan harus dilatih dan dibriefing untuk memprioritaskan negosiasi, deeskalasi verbal, dan pemisahan kelompok provokatif dari massa damai,” ujar Boni menyarankan.

Keempat, aparat dituntut membangun narasi publik secara transparan guna menangkal disinformasi dan membuktikan bahwa langkah pengamanan tidak identik dengan represi militeristik.

Kelima, penerapan mekanisme post-factum untuk menampung keluhan masyarakat pasca-aksi, mengevaluasi standar operasional lapangan, serta memfasilitasi dialog rekonsiliasi antara pemerintah dan kelompok massa.

Keamanan nasional dan nilai-nilai demokrasi bukanlah dua hal yang harus saling mengorbankan.

Keberhasilan penanganan tidak hanya diukur dari nihilnya kerusuhan, melainkan bergeraknya proses penegakan hukum yang menjunjung hak asasi manusia dan memperkuat trust publik terhadap institusi negara.

“Polri selama ini kuat karena mampu melindungi hak warga negara untuk bersuara, sekaligus menjaga agar suara itu tidak berubah menjadi kekerasan dan itulah esensi paradigma PRESISI dalam konteks Black September 2026 ini,” tambah Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bareskrim Polri Limpahkan Kasus Gelondongan Kayu Banjir Sumut ke Kejari Sibolga

Bareskrim Polri Limpahkan Kasus Gelondongan Kayu Banjir Sumut ke Kejari Sibolga

News | Kamis, 10 September 2026 | 14:23 WIB

KPK Periksa Anggota Polri Yayat Sudrajat, Dalami Suap Proyek di Kabupaten Bekasi

KPK Periksa Anggota Polri Yayat Sudrajat, Dalami Suap Proyek di Kabupaten Bekasi

News | Kamis, 10 September 2026 | 13:10 WIB

Kortastipidkor Temukan Sejumlah Masalah Kopdes Merah Putih, Transparansi Pengadaan Dinilai Minim

Kortastipidkor Temukan Sejumlah Masalah Kopdes Merah Putih, Transparansi Pengadaan Dinilai Minim

News | Rabu, 09 September 2026 | 17:13 WIB

Monopoli Bahan Pangan Jadi Celah Korupsi MBG, Kortastipidkor Ingatkan SPPG

Monopoli Bahan Pangan Jadi Celah Korupsi MBG, Kortastipidkor Ingatkan SPPG

News | Rabu, 09 September 2026 | 15:52 WIB

Eks Kasat Reskrim Jakpus Dilaporkan soal Dugaan Pemalsuan Identitas dan Perselingkuhan

Eks Kasat Reskrim Jakpus Dilaporkan soal Dugaan Pemalsuan Identitas dan Perselingkuhan

News | Rabu, 09 September 2026 | 15:43 WIB

Purbaya Klaim Ekonomi RI Membaik karena Aksi Demo Lebih Sedikit

Purbaya Klaim Ekonomi RI Membaik karena Aksi Demo Lebih Sedikit

Bisnis | Rabu, 09 September 2026 | 08:55 WIB

Polemik Masa Jabatan Kapolri, Pengamat Sebut UUD 1945 Beri Ruang Open Legal Policy

Polemik Masa Jabatan Kapolri, Pengamat Sebut UUD 1945 Beri Ruang Open Legal Policy

News | Selasa, 08 September 2026 | 19:16 WIB

Terkini

20 Kardus dan Koper Berisi Uang Ratusan Miliar Diamankan KPK saat OTT Kasus HGB Bogor

20 Kardus dan Koper Berisi Uang Ratusan Miliar Diamankan KPK saat OTT Kasus HGB Bogor

News | Selasa, 15 September 2026 | 00:17 WIB

Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk

Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk

Entertainment | Selasa, 15 September 2026 | 00:04 WIB

KPK Tangkap 17 Orang saat OTT Kasus HGB Bogor! Ada Fahd A Rafiq hingga Arif Sugiyanto

KPK Tangkap 17 Orang saat OTT Kasus HGB Bogor! Ada Fahd A Rafiq hingga Arif Sugiyanto

News | Senin, 14 September 2026 | 23:56 WIB

Disulap 'Penyihir' Makassar, Toyota Alphard 2012 Ini Bisa 'Time Travel' ke Tahun 2026

Disulap 'Penyihir' Makassar, Toyota Alphard 2012 Ini Bisa 'Time Travel' ke Tahun 2026

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 23:54 WIB

Kepala BPN Kabupaten Bogor Diamankan KPK dalam OTT, 17 Orang Diperiksa

Kepala BPN Kabupaten Bogor Diamankan KPK dalam OTT, 17 Orang Diperiksa

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 23:42 WIB

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama: Mengapa Konflik Bersenjata Papua Tak Kunjung Reda?

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama: Mengapa Konflik Bersenjata Papua Tak Kunjung Reda?

News | Senin, 14 September 2026 | 22:51 WIB

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

News | Senin, 14 September 2026 | 22:08 WIB

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

Bogor | Senin, 14 September 2026 | 22:05 WIB

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

News | Senin, 14 September 2026 | 22:00 WIB

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Sumut | Senin, 14 September 2026 | 21:53 WIB

×