- Koalisi sipil menyatakan budaya impunitas dan penegakan hukum yang lemah memicu kasus kekerasan oleh aparat.
- Niza Zonzoa mencontohkan mandeknya kasus tewasnya pengemudi ojol Affan Kurniawan pada Agustus 2025 di Jakarta.
- Jessenia Desta menilai penerapan doktrin militerisme serta reformasi kepolisian yang setengah hati menjauhkan aparat dari kemanusiaan.
Suara.com - Berulangnya kasus-kasus kekerasan yang melibatkan aparat menimbulkan tanda tanya bagi profesionalitas dan tata kelola di internal lembaga.
Koalisi sipil menduga langgengnya budaya impunitas menjadi faktor penyebab kekerasan terus terjadi.
Koordinator Divisi Edukasi Publik Indonesia Corruption Watch (ICW) Niza Zonzoa, berpendapat hal itu terus berlangsung karena lembeknya sistem penegakan hukum jika melibatkan aparat yang menjadi pelaku.
Nisa mencontohkan mandeknya kasus tewasnya pengemudi ojek online Affan Kurniawan yang dilindas mobil taktis milik kepolisian pada Agustus 2025 lalu.
Budaya impunitas seperti itu, menurut Nisa, dikhawatirkan bisa melahirkan pola pikir arogan yang tertanam pada setiap aparatur yang merasa dapat bertindak sewenang-wenang.
"Mereka menganggap punya kekuatan. Mereka menanggap bahwa sipil tidak punya kekuatan yang setara," kata Nisa saat acara diskusi Menelaah 1 Tahun Peristiwa Agustus dalam 3 Babak di Jakarta pada Kamis (10/9/2026).
Staf Divisi Impunitas KontraS Jessenia Desta, menilai adanya kecenderungan penerapan doktrin militerisme dalam kepolisian juga semakin membuka peluang timbulnya watak aparat yang tak humanis.
Padahal, lanjut Desta, dalam undang-undang kepolisian mewajibkan aparat untuk bertugas dengan tetap berada dalam koridor kemanusiaan.
"Akhirnya mereka menganggap warga sipil itu pakai perspektif keamanan," tambah Desta.
Desta juga menyentil wacana reformasi kepolisian yang terkesan setengah hati. Sebab, menurutnya praktik kerja Korps Bhayangkara justru makin jauh dari cita-cita reformasi sesungguhnya. (Reporter: Alif Bintang)