- Kesaksian Pengasuh Daycare Little Aresha membongkar dugaan penipuan fasilitas.
- Kesaksian Pengasuh Daycare Little Aresha membeberkan praktik balita diikat.
- Kesaksian Pengasuh Daycare Little Aresha mengungkap penyitaan HP pengasuh.
Suara.com - Tabir kepalsuan di balik operasional Daycare Little Aresha perlahan mulai terkuak di meja hijau.
Dalam sidang yang berlangsung pada 14 September 2026 di Pengadilan Negeri Yogyakarta, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan pengasuh Daycare Little Aresha, Desi Ananda Kusuma dan Admin Little Aresha Fitria Adiba sebagai saksi.
Pada kesaksiannya di depan majelis hakim, Desi Ananda Kusuma membongkar dugaan penipuan terstruktur yang dilakukan oleh Ketua Yayasan Little Aresha, Dyah Kusumastuti terhadap para orang tua murid saat melakukan survei lokasi sebelum menitipkan anaknya.
Desi membeberkan bahwa fasilitas nyaman yang dipamerkan Dyah Kusumastuti kepada calon wali murid hanyalah sebatas formalitas untuk menjual citra tempat penitipan anak tersebut.
Desi mengatakan Dyah selalu memamerkan ruangan kamar yang dilengkapi AC, tersedia kasur yang empuk, serta arena bermain yang representatif pada orangtua murid ketika survei.
Namun, kenyataan pahit justru terjadi sesaat setelah para orang tua menyelesaikan survei dan meninggalkan lokasi.
Kasur yang dipamerkan Dyah Kusumastuti kepada orangtua murid ketika survei tak pernah digunakan anak-anak ketika dititipkan.
"Saat survei itu orangtua hanya diperlihatkan kamar depan yang ada AC-nya untuk baby besar. Kasur yang ditunjukkan ke ortu itu setelahnya disingkirkan ke ruangan lain atas suruhan Dyah," ungkap Desi Ananda Kusuma ketika menjawab pertanyaan JPU.

Anak Tidur Tanpa Kasur, Tanpa Baju, dan Diikat
Sehari-hari, Desi mengayakan anak-anak yang dititipkan sehari-hari hanya tidur beralaskan playmat di atas lantai tanpa adanya fasilitas kasur yang layak.
Tak hanya soal kasur, fasilitas AC yang menjadi daya tarik utama saat survei ternyata juga hanya pajangan belaka.
Desi menyebutkan bahwa AC hanya berada di ruang baby besar atau kamar yang dipamerkan kepada orangtua ketika survei.
AC dalam kamar baby besar itu pun tidak pernah dinyalakan. Sementara, kamar lain hanya dilengkapi kipas angin, tanpa kasur dan hanya beralaskan playmat.
"Di ruang lain hanya kipas angin, AC tidak difungsikan," tambah Desi.
Selain itu, Desi mengatakan anak-anak biasanya langsung diikat ketika baru datang dan ketika hendak tidur.
Ikatan anak-anak biasanya akan dilepas ketika hendak mandi dan beraktivitas, seperti foto untuk dikirimkan ke orangtua.
"Ditalinya itu tidak tentu jamnya. Biasanya kalau anak mau tidur, kalau aktivitas dilepas ikatannya," ujar Desi.
Desi juga mengatakan anak-anak dibiarkan tak memakai baju dan hanya menggunakan pampers atas perintah Dyah Kusumastuti.
"Setahu saya alasannya biar pakaian tidak kotor," ujarnya.
Kondisi serba minim ini kian diperparah dengan dihentikannya fasilitas air hangat untuk mandi anak-anak kelas baby mungil ketika ruangan dipindahkan ke lantai atas.
Anak-anak yang masih bayi terpaksa dimandikan dengan air dingin setiap hari.
Akses Komunikasi Diputus, Orang Tua Diisolasi
Dyah Kusumastuti juga disinyalir membangun tembok pembatas yang ketat agar kebohongan fasilitas dan praktik pengasuhan yang menyimpang, seperti pengikatan kaki dan tangan balita tidak bocor keluar.
Selama jam kerja, ponsel para pengasuh disita di meja depan. Pengasuh dilarang keras berkomunikasi langsung dengan orang tua murid.
"Orang tua kalau mau tanya kondisi anak selalu langsung ke Dyah. Karena Dyah melarang pengasuh komunikasi dengan orangtua," terang Desi.
Setiap daily report atau laporan harian anak wajib disetorkan terlebih dahulu kepada Dyah untuk disaring sebelum dikirimkan ke orang tua.
Dalam laporan tersebut, pihak pengelola tidak pernah memasukkan informasi maupun foto mengenai kondisi anak yang dibedong atau ditali selama berada di daycare.