Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran

Redaksi | Suara.com

Jum'at, 13 Februari 2026 | 13:31 WIB
Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran
Siti Aminah Tardi, Direktur Eksekutif The Indonesian Legal Resource Center (ILRC); Anggota Indonesia Femicide Watch (IFW). [Suara.com]
  • Femisida intim, pembunuhan perempuan oleh pasangan, menunjukkan peningkatan kasus, mencapai 204 pada 2024 di Indonesia.
  • Pemicu utama femisida intim meliputi kecemburuan, posesif, dan penolakan tanggung jawab atas kehamilan yang tidak diinginkan.
  • Perayaan Hari Kasih Sayang perlu didefinisikan ulang menjadi komitmen membangun relasi setara bebas kekerasan.

Dalam teori coercive and control, pelaku cenderung berubah dari mengontrol menjadi menghukum karena korban dinilai melanggar norma peran gender dan otoritas maskulinitasnya.

Selain faktor-faktor seperti kecemburuan, sikap posesif, kepemilikan seksual dan keinginan untuk mendominasi, femisida juga terjadi ketika laki-laki merasa kehilangan kuasa atas pasangannya.

Contohnya dalam kasus perselingkuhan—baik yang nyata maupun hanya dugaan—atau saat perempuan meminta berpisah, kemudian memicu kecemburuan, keposesifan, amarah yang meledak-ledak dan berakhir dengan kematian.

Selain motif di atas, pada femisida intim pacaran, terdapat penyebab khas yaitu kehamilan yang tidak dikehendaki. Sebab itu lantas menjadi ruang atas tuntutan untuk peningkatan komitmen, seperti permintaan dinikahi.

Kondisi pelaku yang masih bersekolah, berkuliah, atau memiliki isteri, menyebabkan penolakan untuk bertanggungjawab sehingga mendorong pemaksaan aborsi dan atau disertai pembunuhan.

Hal ini menunjukkan minimnya kesadaran atas kesehatan reproduksi pada laki-laki dan perempuan.

Padahal, kesadaran atas otonomi tubuh dan kesehatan reproduksi memungkinkan untuk membuat pilihan serta keputusan bijaksana dan bertanggung jawab atas kesehatan reproduksi.

Kasus-kasus femisida dengan latar kehamilan, menunjukkan pelaku hanya ingin mendapatkan keuntungan seksual, namun tidak bertanggungjawab atas perilakunya.

Dalam situasi ini, tubuh perempuan menjadi medan negosiasi komitmen yang tidak setara—di mana laki-laki dapat menghindari tanggung jawab, sedangkan perempuan menanggung risiko biologis dan sosial atas stigma hamil di luar perkawinan.

Valentine: Saatnya Mendefinisikan Ulang Cinta

Femisida memang menjadi hal paling ekstem dari kekerasan dalam pacaran. Namun, akarnya berasal dari relasi timpang antara laki-laki dan perempuan.

Dalam hubungan tak imbang ini, laki-laki di tempatkan superior dan memiliki kuasa untuk mengontrol, menghukum dan mendisiplinkan pemikiran, tubuh dan reproduksi perempuan.

Karenanya, pada hari Valentine tahun ini, kita perlu bertanya ulang: cinta seperti apa yang sedang kita rayakan?

Jika cinta membuat takut, membungkam, mengontrol, melukai dan membuat kita tidak tumbuh, maka itu bukanlah cinta.

Bila atas nama cinta, menuntut kepemilikan penuh atas tubuh dan hidup seseorang, termasuk aktivitas seksual, maka itu bukan romantis, tapi eksploitatif.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bukan Sekadar Bunuh Diri, Kematian Mahasiswi Unima adalah Femisida Tidak Langsung

Bukan Sekadar Bunuh Diri, Kematian Mahasiswi Unima adalah Femisida Tidak Langsung

Opini | Selasa, 20 Januari 2026 | 11:48 WIB

Feminist Jakarta Serukan Negara Tanggung Jawab Atas Femisida dan Kerusakan Lingkungan

Feminist Jakarta Serukan Negara Tanggung Jawab Atas Femisida dan Kerusakan Lingkungan

News | Minggu, 07 Desember 2025 | 01:51 WIB

Prabowo Perintahkan Audit Kematian Ibu Hamil di Papua, Aktivis Sebut Kasus Femisida

Prabowo Perintahkan Audit Kematian Ibu Hamil di Papua, Aktivis Sebut Kasus Femisida

News | Senin, 24 November 2025 | 21:38 WIB

Jakarta Feminist: Kematian Ibu dan Bayi di Papua Usai Ditolak 4 RS Merupakan Bentuk Femisida

Jakarta Feminist: Kematian Ibu dan Bayi di Papua Usai Ditolak 4 RS Merupakan Bentuk Femisida

News | Senin, 24 November 2025 | 14:58 WIB

Aktivis Feminis Desak Negara Akui Femisida Sebagai Kejahatan Khusus dan Masuk UU

Aktivis Feminis Desak Negara Akui Femisida Sebagai Kejahatan Khusus dan Masuk UU

News | Kamis, 13 November 2025 | 18:10 WIB

Kasus Femisida Melonjak, Komnas Perempuan Sebut Negara Belum Akui sebagai Kejahatan Serius

Kasus Femisida Melonjak, Komnas Perempuan Sebut Negara Belum Akui sebagai Kejahatan Serius

News | Kamis, 13 November 2025 | 16:13 WIB

Terkini

Tak Ada Cara Lain Pemulihan Ekonomi: Tumbuhkan Trust dan Reschedule Utang

Tak Ada Cara Lain Pemulihan Ekonomi: Tumbuhkan Trust dan Reschedule Utang

Opini | Rabu, 13 Mei 2026 | 13:11 WIB

Komcad dalam Paradigma Baru SDM: dari Meja Kantor ke Garis Pertahanan

Komcad dalam Paradigma Baru SDM: dari Meja Kantor ke Garis Pertahanan

Opini | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:25 WIB

Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma

Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma

Opini | Rabu, 29 April 2026 | 07:36 WIB

Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Opini | Sabtu, 18 April 2026 | 08:05 WIB

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Opini | Rabu, 15 April 2026 | 12:29 WIB

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Opini | Jum'at, 27 Maret 2026 | 16:32 WIB

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Opini | Senin, 16 Maret 2026 | 12:47 WIB

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Opini | Senin, 02 Maret 2026 | 14:26 WIB

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Opini | Selasa, 10 Februari 2026 | 15:33 WIB

Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker

Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker

Opini | Rabu, 04 Februari 2026 | 19:05 WIB