Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo

Liberty Jemadu | Suara.com

Senin, 18 Mei 2026 | 11:27 WIB
Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo
Aktivis dan politikus Pius Lustrilanang. [Suara.com/Syahda]
  • Artikel The Economist mengkritik kebijakan fiskal Presiden Prabowo yang berisiko mengancam stabilitas ekonomi dan demokrasi di Indonesia.
  • Program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis dinilai berisiko membebani anggaran negara di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.
  • Tantangan pemerintahan Prabowo adalah menjaga disiplin fiskal agar tidak memicu krisis politik dan tuduhan otoritarianisme di masa depan.

Padahal pelemahan checks and balances, politik kartel, dominasi oligarki, hingga politisasi penegakan hukum sudah berlangsung jauh sebelum Prabowo menjadi presiden.

Vedi Hadiz dalam Localising Power in Post-Authoritarian Indonesia (2010) justru menunjukkan bahwa setelah Reformasi, Indonesia tidak benar-benar keluar dari dominasi elite lama. Yang berubah hanyalah pola distribusi kekuasaannya.

Demokrasi Indonesia berkembang menjadi sistem elektoral yang tetap dikuasai oleh konsolidasi elite politik dan ekonomi. Karena itu, terlalu sederhana jika seluruh kecenderungan iliberal Indonesia hari ini diletakkan hanya di pundak Prabowo. Ia mungkin mempercepat proses tersebut, tetapi ia bukan penciptanya.

Meski demikian, ada satu hal yang sangat tepat ditangkap oleh The Economist: kombinasi antara tekanan fiskal, konsentrasi kekuasaan, dan melemahnya oposisi memang dapat menjadi campuran berbahaya. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa krisis ekonomi hampir selalu berubah menjadi krisis politik. Kejatuhan Soekarno didahului kehancuran ekonomi. Kejatuhan Soeharto dipicu krisis moneter. Dalam konteks seperti itu, pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan nilai tukar, tetapi juga persoalan legitimasi politik.

Inilah tantangan terbesar pemerintahan Prabowo. Jika ia berhasil menjaga stabilitas fiskal sambil membangun kapasitas negara melalui MBG dan proyek-proyek sosialnya, ia mungkin akan dikenang sebagai arsitek baru negara kesejahteraan Indonesia. Tetapi jika disiplin fiskal runtuh, rupiah terus melemah, dan ketidakpuasan sosial membesar, maka seluruh narasi tentang pembangunan negara kuat akan berubah menjadi tuduhan otoritarianisme yang jauh lebih sulit dibendung.

Pada akhirnya, artikel The Economist terlalu bias secara ideologis dan terlalu hitam-putih dalam membaca Prabowo. Tetapi justru karena itu tulisan tersebut penting dibaca. Ia menunjukkan bagaimana dunia internasional mulai memandang Indonesia: bukan lagi sekadar demokrasi muda yang menjanjikan, tetapi negara besar yang sedang dipertaruhkan arah masa depannya.

Pius Lustrilanang
Aktivis dan mantan politikus Partai Gerindra.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Presiden Prabowo Tepis Isu RI Bakal Collapse, Sebut Indonesia Masih Oke!

Presiden Prabowo Tepis Isu RI Bakal Collapse, Sebut Indonesia Masih Oke!

Video | Senin, 18 Mei 2026 | 11:00 WIB

Riwayat Pendidikan Prabowo Subianto yang Bilang Orang Desa Tak Pakai Dolar

Riwayat Pendidikan Prabowo Subianto yang Bilang Orang Desa Tak Pakai Dolar

Lifestyle | Senin, 18 Mei 2026 | 10:34 WIB

Mengapa Komentar Presiden soal Rupiah dan Dolar Menyesatkan sekaligus Berbahaya?

Mengapa Komentar Presiden soal Rupiah dan Dolar Menyesatkan sekaligus Berbahaya?

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 06:05 WIB

Pernyataan Orang Desa Tak Pakai Dolar Menyesatkan, FKBI Ingatkan Prabowo RI Ketergantungan Impor

Pernyataan Orang Desa Tak Pakai Dolar Menyesatkan, FKBI Ingatkan Prabowo RI Ketergantungan Impor

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 19:15 WIB

Prabowo: Keamanan dan Ketertiban Negara Sangat Ditentukan oleh Pangan

Prabowo: Keamanan dan Ketertiban Negara Sangat Ditentukan oleh Pangan

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 17:05 WIB

Terkini

Tak Ada Cara Lain Pemulihan Ekonomi: Tumbuhkan Trust dan Reschedule Utang

Tak Ada Cara Lain Pemulihan Ekonomi: Tumbuhkan Trust dan Reschedule Utang

Opini | Rabu, 13 Mei 2026 | 13:11 WIB

Komcad dalam Paradigma Baru SDM: dari Meja Kantor ke Garis Pertahanan

Komcad dalam Paradigma Baru SDM: dari Meja Kantor ke Garis Pertahanan

Opini | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:25 WIB

Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma

Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma

Opini | Rabu, 29 April 2026 | 07:36 WIB

Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Opini | Sabtu, 18 April 2026 | 08:05 WIB

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Opini | Rabu, 15 April 2026 | 12:29 WIB

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Opini | Jum'at, 27 Maret 2026 | 16:32 WIB

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Opini | Senin, 16 Maret 2026 | 12:47 WIB

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Opini | Senin, 02 Maret 2026 | 14:26 WIB

Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran

Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran

Opini | Jum'at, 13 Februari 2026 | 13:31 WIB

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Opini | Selasa, 10 Februari 2026 | 15:33 WIB