PBB Peringatkan Tingkat Gas Rumah Kaca Masih Capai Rekor Tertinggi

Pebriansyah Ariefana, Lintang Siltya Utami

Jum'at, 27 November 2020 | 08:59 WIB
PBB Peringatkan Tingkat Gas Rumah Kaca Masih Capai Rekor Tertinggi
Ilustrasi pemanasan global. [Shutterstock]

Suara.com - PBB memperingatkan bahwa tingkat gas rumah kaca global masih berada di tingkat tertinggi pada catatan rekor. Meskipun pandemi virus Corona (Covid-19) terjadi dan diberlakukannya penguncian atau lockdown, aturan itu tidak memberikan dampak signifikan secara berkelanjutan.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengatakan akan ada pengurangan emisi CO2 global untuk tahun 2020, tetapi itu tidak akan mempengaruhi tingkat CO2 di atmosfer lebih dari fluktuasi tahun ke tahun secara normal.

Tingkat CO2 tercatat mencapai 410 bagian per juta pada tahun 2019 dan angka akhir untuk tahun 2020 diperkirakan akan lebih tinggi.

Meskipun aturan lockdown mengurangi lebih sedikit CO2 ke atmosfer. Tetapi kadar CO2 yang sudah ada di atmosfer terlalu banyak sehingga pengurangan tahun ini kemungkinan tidak akan berdampak besar dalam jangka panjang.

"Karbondioksida tetap berada di atmosfer selama berabad-abad dan bahkan di lautan lebih lama. Terakhir kali Bumi mengalami konsentrasi karbon dioksida yang sebanding adalah 3-5 juta tahun yang lalu, ketika suhu lebih hangat 2-3 derajat Celcius dan permukaan laut 10-20 meter lebih tinggi dari sekarang," kata Profesor Petteri Taalas, Sekretaris Jenderal WMO, seperti dikutip Science Alert pada Jumat (27/11/2020).

Para ilmuwan telah memperingatkan selama beberapa dekade bahwa lebih banyak CO2 di atmosfer berarti lebih banyak panas yang terperangkap di Bumi. Ini akan membuat suhu naik, es mencair, peristiwa cuaca ekstrem lebih sering terjadi, serta lautan menjadi asam dan menjadi kurang ramah bagi kehidupan laut.

Sejak tahun 1990, WMO melaporkan gas rumah kaca yang menempel di udara telah menyebabkan peningkatan total pancaran radiasi sebesar 45 persen, di mana CO2 menyumbang empat perlima dari dampak tersebut.

Penelitian lain juga setuju dengan kesimpulan bahwa tingkat gas rumah kaca di atmosfer masih meningkat, di mana peningkatan tersebut disebabkan banyak faktor yang tidak terkait dengan penguncian pandemi.

"Kami melampaui ambang batas global 400 bagian per juta C02 pada tahun 2015 dan hanya empat tahun kemudian, kami melewati 410 bagian per juta. Peningkatan seperti itu belum pernah terlihat dalam sejarah catatan kami," tambah Taalas.

baca juga

Meski begitu, aturan lockdown karena pandemi setidaknya membuat sedikit perbedaan. WMO memperkirakan bahwa emisi CO2 berkurang hingga 17 persen di beberapa titik dalam setahun dan bisa turun 4,2 hingga 7,2 persen selama tahun 2020.

Namun, itu hanya bersifat sementara pada kenaikan level CO2 di atmosfer. Jumlah CO2 kemungkinan akan naik lagi, meskipun tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Taalas mengatakan harus ada transformasi lengkap dari sistem industri, energi, dan transportasi yang efektif untuk menurunkan CO2 di atmosfer.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengenal Proses Terjadinya Efek Rumah Kaca dan Pemanasan Global

Mengenal Proses Terjadinya Efek Rumah Kaca dan Pemanasan Global

Tekno | Kamis, 03 September 2026 | 15:10 WIB

Peringatkan! Suhu Bumi Lampaui Batas Ambang Kritis, Sangat Rawan Bencana

Peringatkan! Suhu Bumi Lampaui Batas Ambang Kritis, Sangat Rawan Bencana

News | Rabu, 02 September 2026 | 16:44 WIB

Emisi Metana TPA AS Disebut Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan, Apa Penyebabnya?

Emisi Metana TPA AS Disebut Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan, Apa Penyebabnya?

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:55 WIB

Adopsi Bus Listrik Masih di Bawah 10 Persen, Bagaimana Strategi Percepatannya?

Adopsi Bus Listrik Masih di Bawah 10 Persen, Bagaimana Strategi Percepatannya?

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:40 WIB

Transportasi Darat Sumbang 87 Persen emisi, Bagaimana Kemenhub Percepat Dekarbonisasi?

Transportasi Darat Sumbang 87 Persen emisi, Bagaimana Kemenhub Percepat Dekarbonisasi?

Your Say | Senin, 20 Juli 2026 | 12:16 WIB

Di Balik Server Raksasa: Rahasia Kelam di Balik Kecepatan Kecerdasan Buatan

Di Balik Server Raksasa: Rahasia Kelam di Balik Kecepatan Kecerdasan Buatan

Your Say | Rabu, 15 Juli 2026 | 11:42 WIB

Panas Lembap Kian Berbahaya akibat Perubahan Iklim, Mengapa Tubuh Semakin Sulit Beradaptasi?

Panas Lembap Kian Berbahaya akibat Perubahan Iklim, Mengapa Tubuh Semakin Sulit Beradaptasi?

News | Jum'at, 10 Juli 2026 | 16:35 WIB

Studi: Pemanasan Global Berpotensi Memicu Pelepasan Metana Lebih Besar dari Ekosistem Alami

Studi: Pemanasan Global Berpotensi Memicu Pelepasan Metana Lebih Besar dari Ekosistem Alami

News | Rabu, 17 Juni 2026 | 10:42 WIB

Beruang Kutub Dulu Putih Kini Kelabu: Tanda Alam yang Terabaikan dari Krisis Iklim Global

Beruang Kutub Dulu Putih Kini Kelabu: Tanda Alam yang Terabaikan dari Krisis Iklim Global

Your Say | Selasa, 16 Juni 2026 | 18:17 WIB

Konsentrasi Karbon Dioksida di Atmosfer embali Cetak Rekor: Apa Artinya bagi Indonesia?

Konsentrasi Karbon Dioksida di Atmosfer embali Cetak Rekor: Apa Artinya bagi Indonesia?

News | Selasa, 16 Juni 2026 | 11:15 WIB

Terkini

18 Tim Sepakbola Putri SD Ramaikan Junior Putri Cup 2026 di Semarang

18 Tim Sepakbola Putri SD Ramaikan Junior Putri Cup 2026 di Semarang

Jawa Tengah | Senin, 14 September 2026 | 08:09 WIB

IHSG Bidik Rebound di Awal Pekan, Ini Daftar Saham Pilihan 4 Analis Ternama

IHSG Bidik Rebound di Awal Pekan, Ini Daftar Saham Pilihan 4 Analis Ternama

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 08:07 WIB

Hari Keenam, 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda Dicari hingga 6.010 NM

Hari Keenam, 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda Dicari hingga 6.010 NM

Foto | Senin, 14 September 2026 | 08:00 WIB

Hubungan Sempurna di Medsos Cuma Ilusi? Ini Bukti Gen Z Mulai Sadar!

Hubungan Sempurna di Medsos Cuma Ilusi? Ini Bukti Gen Z Mulai Sadar!

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 08:00 WIB

Indonesia Dikepung Lima Bencana, Jusuf Kalla Sebut Lingkungan Rusak oleh Kita Sendiri

Indonesia Dikepung Lima Bencana, Jusuf Kalla Sebut Lingkungan Rusak oleh Kita Sendiri

Jogja | Senin, 14 September 2026 | 07:59 WIB

Viral Karnaval Mirip Ritual Satanisme di Pekalongan, Ada Penyembelihan Hewan dan Okultisme

Viral Karnaval Mirip Ritual Satanisme di Pekalongan, Ada Penyembelihan Hewan dan Okultisme

Entertainment | Senin, 14 September 2026 | 07:54 WIB

Warung Makan Non Halal di Sukoharjo Diduga Dibakar oleh OTK

Warung Makan Non Halal di Sukoharjo Diduga Dibakar oleh OTK

Surakarta | Senin, 14 September 2026 | 07:51 WIB

5 Pilihan HP Murah 5G Mulai Rp 2 Jutaan, Performa Stabil Fitur Melimpah

5 Pilihan HP Murah 5G Mulai Rp 2 Jutaan, Performa Stabil Fitur Melimpah

Tekno | Senin, 14 September 2026 | 07:38 WIB

Pertamina Patra Niaga dan Pemprov Sulsel Bersinergi, Antrean BBM di SPBU Makassar Mulai Melandai

Pertamina Patra Niaga dan Pemprov Sulsel Bersinergi, Antrean BBM di SPBU Makassar Mulai Melandai

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 07:37 WIB

Pertamina Patra Niaga Pastikan Kebijakan Harga BBM Berjalan Sesuai Kebijakan Pemerintah

Pertamina Patra Niaga Pastikan Kebijakan Harga BBM Berjalan Sesuai Kebijakan Pemerintah

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 07:30 WIB

×