- Video viral petani di Tuban menggunakan drone memicu diskusi mengenai kemampuan teknologi drone dalam mengangkat beban manusia.
- Drone logistik seperti DJI FlyCart 100 dirancang khusus untuk distribusi barang berat, bukan sebagai transportasi penumpang manusia.
- Perusahaan EHang asal China mengembangkan drone EHang 184 sebagai kendaraan udara listrik khusus untuk mengangkut satu penumpang.
Suara.com - Video seorang petani asal Tuban, Jawa Timur, yang pulang dari kebun pisang dengan bergantung pada drone berukuran besar sukses menyita perhatian warganet.
Aksi tersebut memunculkan rasa penasaran karena banyak orang baru mengetahui bahwa drone ternyata mampu mengangkat beban sebesar tubuh manusia.
Cuplikan video yang telah ditonton jutaan kali itu juga memicu pertanyaan apakah teknologi drone memang dirancang untuk menerbangkan manusia atau hanya mengangkut barang.
Lantas, apakah drone bisa mengangkat manusia dan apakah sudah ada drone yang memang dibuat khusus sebagai alat transportasi penumpang?
Apakah Drone Bisa Angkat Manusia?
Jawabannya adalah bisa, tetapi bergantung pada kapasitas angkut dan tujuan pembuatannya.
Pada dasarnya, drone bekerja dengan menghasilkan daya angkat dari sejumlah baling-baling yang digerakkan motor listrik.
Selama tenaga yang dihasilkan lebih besar daripada total beban yang dibawa, drone secara teknis dapat mengangkat objek, termasuk manusia.
Namun, tidak semua drone memiliki kemampuan tersebut. Drone yang umum digunakan untuk fotografi, videografi, atau hobi hanya dirancang membawa kamera atau perlengkapan ringan sehingga tidak mungkin digunakan untuk mengangkat seseorang.
Sebaliknya, saat ini telah tersedia drone industri yang dirancang khusus untuk membawa muatan dalam jumlah besar. Salah satunya adalah DJI FlyCart 100 (DJI FC100) yang diperkenalkan sebagai drone logistik untuk mengangkut barang di berbagai medan.
Drone tersebut memiliki kapasitas muatan maksimum hingga 80 kilogram pada mode baterai tunggal dan 65 kilogram pada mode baterai ganda.
Selain itu, DJI FC100 juga memiliki bobot lepas landas maksimum mencapai 149,9 kilogram dengan jarak tempuh tanpa muatan hingga 26 kilometer.
Perangkat ini dilengkapi berbagai teknologi pendukung, seperti sistem penimbangan beban secara real time, fitur anti-ayun otomatis agar muatan tetap stabil selama penerbangan, hingga sistem pelepas tali darurat apabila terjadi kondisi tertentu.
DJI FC100 juga dirancang untuk mendukung pengangkutan barang di area yang sulit dijangkau kendaraan darat, seperti kawasan pegunungan, perkebunan, hingga wilayah kepulauan.
Meski memiliki kemampuan membawa beban yang besar, drone logistik seperti DJI FC100 dikembangkan untuk kebutuhan distribusi barang, bukan sebagai kendaraan yang mengangkut manusia.
Karena itu, video viral petani di Tuban belum dapat dijadikan acuan bahwa seluruh drone berkapasitas besar aman digunakan untuk menerbangkan seseorang, terlebih jenis drone yang digunakan dalam video tersebut belum diketahui secara pasti.
Apakah Ada Drone Khusus Pengangkut Manusia?
Selain drone logistik, perkembangan teknologi juga melahirkan drone yang sejak awal memang dirancang sebagai kendaraan untuk mengangkut penumpang.
Salah satu yang paling dikenal adalah EHang 184, drone buatan perusahaan teknologi asal China bernama EHang yang mulai diperkenalkan dan diuji coba pada 2018 di Kota Guangzhou.
Berbeda dengan drone pengangkut barang, EHang 184 memang dibuat sebagai kendaraan udara tanpa awak yang dapat membawa satu orang penumpang.
Drone ini menggunakan tenaga listrik dan mampu mengangkut penumpang dengan berat maksimal sekitar 100 kilogram.
Dalam sekali penerbangan, EHang 184 dapat terbang selama kurang lebih 23 menit dengan kecepatan maksimum mencapai 100 kilometer per jam.
Perusahaan pengembangnya juga mengungkapkan bahwa EHang 184 telah melewati lebih dari 1.000 kali uji terbang sebelum diperkenalkan kepada publik.
Selain itu, drone ini dirancang mampu bertahan pada kecepatan angin hingga sekitar 50 kilometer per jam, sehingga memiliki tingkat kestabilan yang lebih baik saat beroperasi.
Pengembangan EHang 184 dilakukan bukan hanya untuk transportasi pribadi, tetapi juga diarahkan bagi berbagai kebutuhan lain, seperti ambulans udara hingga sektor pariwisata.
Pendiri EHang, Derrick Xiong, menjelaskan teknologi tersebut dikembangkan untuk menghadirkan pilihan transportasi yang lebih praktis di masa depan.
"Pesawat tanpa awak ini akan membantu warga menghindari macet di jalan-jalan. Tapi kami juga sedang mengembangkan aplikasi lainnya. Kami memikirkan tentang angkutan transportasi darurat, atau kami bisa juga mengantar pasien ke rumah sakit, atau transportasi pariwisata. Kalian tahu, seperti terbang dari satu pulau ke pulau lain," kata Derrick Xiong
EHang 184 akan dipasarkan dengan kisaran harga sekitar 200.000 hingga 300.000 USD, menjadikannya salah satu pionir kendaraan udara pribadi berbasis listrik.