Rhenald Kasali: "Sharing Economy" dan Bisnis Murah Masa Kini

Pebriansyah Ariefana
Rhenald Kasali: "Sharing Economy" dan Bisnis Murah Masa Kini
Rhenald Kasali. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Sebagian besar masyarakat semua inginkan transportasi online. Bagaimana bisa melawan keinginan mereka?

Suara.com - Pakar Manajemen dan Bisnis, Rhenald Kasali baru saja dinobatkan sebagai salah satu guru manajemen dunia. Dia disejajarkan dengan pakar manajemen dunia.

Menariknya, Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia itu menjadi satu-satunya orang Indonesia yang masuk ke dalam Top 30 Global Gurus in Management. Penghargaan ini diberikan lembaga riset The Global Guru. Rhenald disejajarkan dengan John P Kotter (Harvard Business School, AS), Clayton Christensen (Harvard Business School, AS), atau juga Roger Martin (the Rotman School of Management, Kanada).

Ditemui suara.com di kantor Rumah Perubahan, Bekasi, Jawa Barat pekan lalu, Rhenald mengaku terkejut saat pertama kali mendapat kabar itu. Sebab dia tidak mendaftar atau juga berharap dapat penghargaan.

"Waktu ada surat masuk di email, saya tanya ke teman-teman ini hoax apa bukan? Siapa orang jahil yang mengirimkannya? Cari dan telusuri, jangan-jangan ada yang jahil," ceritanya.

Rhenald banyak menghasilkan pengusaha sukses melalui School of Entrepreneur yang dia dirikan. Menurut dia, penghargaan dunia terhadap seorang pakar manajemen di Indonesia sangat berarti. Sebab, kualitas penilaian itu berdasarkan karya yang dihasilkan. Sehingga objektif. Karirnya sebagai ilmuan, Rhenald banyak melakukan inovasi melalui pemikirannya. Dia pernah mempopulerkan istilah etika entrepreneur dan social entrepreneur.

Setelah konsep etika entrepreneur dan social entrepreneur, saat ini Rhenald mempopulerkan konsep bisnis sharing economy. Sharing economy menjadi tren bisnis masa kini. Bentuk bisnis itu menciptakan banyak peluang di tengah persaingan global dan perkembangan teknologi.

Lelaki bergelar profesor ilmu  manajemen itu mengatakan dampak nyata bentuk bisnis sharing economy di Indonesia adalah demo sopir taksi yang berujung anarkis, Selasa (22/3/2016) pekan lalu. Para sopir taksi protes dengan kemunculan bisnis transportasi online. Hasil dari demo itu, pemerintah meminta pebisnis transportasi online mengikuti peraturan ‘transportasi konvensional’ lewat Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Rhenald Kasali menilai keputusan itu kurang tepat dan tidak menyelesaikan masalah.

Menurut Rhenald, pemerintah perlu membuat terobosan ‘radikal’ untuk menyambut konsep bisnis baru tersebut. Terobosan apa itu?

Dalam wawancara khusus ini, Rhenald pun banyak memberikan solusi agar Indonesia mempunyai banyak pengusaha baru.

Simak wawancara lengkap suara.com dengan Rhenald Kasali berikut ini:

Anda masuk ke dalam Top 30 Global Gurus in Management 2016 yang dirilis oleh lembaga riset The Global Gurus, Maret kemarin. Anda dijajarkan dengan ekonom dunia. Apa arti penghargaan ini untuk Anda secara khusus, dan Indonesia secara umum?

Tentu kita syukuri sebagai Bangsa karena ada nama Indonesia di sana. Walau kami sendiri tidak pernah memikirkan itu, tahu pun tidak, dan mendaftar pun tidak. Secara personal, biasa saja tidak ada satu yang spesial. Mungkin pandagan orang jadi lebih baik. Tapi tidak pernah bekerja untuk dapat penghargaan.

Anak-anak di sini (karyawan di Rumah Perubahan) tanya, bapak kasih penghargaan terus, kapan dapat penghargaannya? Saya bilang kita harus menghargai orang lain, karena kita guru. Saya banyak sekali terlibat dalam penjurian. Kan ada orang yang kerjanya menyebarkan proposal dan minta di-vote, kami tidak pernah melakukan itu. Tapi penghargaan ini, bagi Indonesia adalah sebuah prestasi.

Anda disejajarkan dengan orang-orang yang juga masuk ke dalam Top 30 Global Gurus in Management 2016 itu, seperti John P Kotter (Harvard Business School, AS), Clayton Christensen (Harvard Business School, AS), atau juga Roger Martin (the Rotman School of Management, Kanada). Anda merasa sejajar dengan mereka?

Tidak. Saya pasti pembaca buku mereka. Tapi mereka membaca buku saya, belum tentu. Kami sering bertemu di forum internasional. Tapi kan biasa para akademisi bertemu. Karena kami bukan akademisi yang pop culture atau popular. Kami komunitas dari dunia yang sangat serius, ilmuan. Kami berbagi hasil riset, persentasikan apa yang kami lalukan dan temukan dalam forum internasional. Boleh dikatakan saya mengidolakan dan membaca buku mereka. Dunia akademis karya mereka sangat digunakan.

Anda sempat tidak percaya masuk sejajar dengan mereka?

Iya. Waktu ada surat masuk di email, saya tanya ke teman-teman ini hoax apa bukan? Siapa orang jahil yang mengirimkannya? Cari dan telusuri, jangan-jangan ada yang jahil.

Sejauhmana dunia memandang eksistensi pakar ekonomi Indonesia?

Cara pandang untuk menguji karya perorangan berbeda antara Indonesia dengan negara barat. Mereka menghargai orang dilihat dari karya-karyanya, tidak memandang orang itu siapa. Bahkan dari bangsa mana, itu juga tidak penting. Kami sudah milik komunitas global yang dilihat dari karyanya. Pribadi kami, tidak dikenal seperti di Indonesia.

Kalau di Indonesia, mungkin kami ini bintang televisi. Mengapa menjadi bintang? Karena ini adalah public education yang di Indonesia ditempuh dengan cara pop culture, begitu kita kasih bahasan yang lebih berat pasti nggak nyabung sama masyarakat. Karena masyarakat kita belum menjadi pembaca serius. Makanya harus diberikan contoh atau juga sentuhan emosional. Kalau di dunia ilmiah itu dianggap menipu. Di dunia ilmiah, punya sosok sendiri yang serius.

Saya harus memberikan contoh yang baik menghadapi para pemain draman di televisi. Makanya di Indonesia lebih susah. Bayangkan bagaimana caranya menasihati politisi di DPR, sementara mereka para lulusan sarjana dari universitas negeri dan terbaik, sudah menjadi ‘pemain teater’. Di depan rakyat mereka pro rakyat dan religius, tapi di belakang mereka berpelukan dan bagi-bagi duit.

Bagiamana saya harus bicara di depan pemerintah daerah (Pemda) yang aparaturnya tidak betah duduk lama-lama. Saya harus jaga ritme kata-kata dan pijet yang kuat kaki agar berenergi. Sampai last minute, saya harus mengubah materi karena melihat suasana.

Artinya pembawaan Anda berbeda di setiap tempat?

Iya. Di kampus, seminar, televisi, dan media berbeda. Tapi basisnya sama, scientific. Kami bukan dunia gossip dan opini. Jadi saya sempat gelisah kalau orang menyebut saya motivator. Karena motivator itu kan tidak scientific. Mereka berdasarkan cerita, baca dan keriangan di lapangan memotivasi sudah menjadi stand up comedian dan menjadi hiburan. Orang di lapangan suruh teriak, angkat tangan dan pijet-pijetan. Misalnya si motivator bilang, “tidak perlu kerja keras, yang penting cepat kaya.” Bagaimana itu? Di otak saya nggak bisa sampai. Mereka terinspirasi buku, dan langsung bicara tanpa kritis membaca. Sebagai akademisi, itu bukan hal yang bisa saya ajarkan ke anak-anak saya.

Kiprah Anda sebagai praktisi manajemen sudah dikenal luas. Lalu tahun 2007, Anda mendirikan Rumah Perubahan. Sudah sejauh mana lembaga yang Anda dirikan ini membuat perubahan?

Kita kecil, perubahan yang sudah kita lakukan kecil. Tempat kita saja masuk kampung, jalan kecil. Kami bekerja dengan anak-anak muda, mereka lah sumber inspirasi kami. Kami bergulat pada pemikiran dimulai dari tahun 2004, kami buat buku yang judulnya ‘Change’. Sejak itu orang di mana-mana ngomongnya perubahan. Kami bukan lembaga bisis, tapi lembaga inspiratif yang membuat sesuatu dan bisa dicontoh orang lain. Sehingga bermanfaat untuk komunitas kecil. Kami menjual pelatihan dan itu laku.

Kami ke Pulau Buru di pedalaman bersama masyarakat adat dan transmigran. Kami membangun integrated farming. Ada 150 ekor sapi yang kami kelola dengan cara syariah atau bagi hasil. Kotoran sapi dijadikan bio gas yang bisa dibawa pulang oleh masyarakat yang mengelola. Karena di sana tidak ada listrik. Kemudian siang hari mereka menyuling minyak kayu putih dengan alat yang kami sediakan. Hasil penjualan akan dibagi dengan sistem syariah.

Kami juga menanam kopi di pegunungan Marapi, Sumatera Barat. Di sana tempat nenek moyangnya orang Padang. Sebanyak 30 ribu pohon Kopi yang kami tanam sudah berbuah dan menjadi salah satu yang terbaik. Kami juga membuat taman kanak-kanak di dekat kantor Rumah Perubahan di Bekasi. Gratis untuk masyarakat sini tapi kualitasnya internasional. Ada juga yang bayar, karena untuk mereka merasa percaya diri karena tidak gratisan. Alat-alat di TK itu kualitas internasional, kalau ke luar negeri kami beli. Sebanyak 8 anak diasuh oleh 1 guru.

Rumah Perubahan juga menjadi sekolah untuk membentuk pengusaha atau entrepreneur. Seperti apa konsepnya?

Tahun 1998 terjadi krisis multidimensi, saya baru pulang dari Amerika. Semua orang bilang saya aneh malah pulang ke Indonesia saat krisis. Tapi keluarga, masa depan dan tempat kerja saya di Indonesia, di Universitas Indonesia. Akhirnya saya bertemu dengan Malik Sjafei, salah satu yang punya Radio Prambors. Dia menawarkan mengisi acara di radionya. Saat itu saya banyak membawa entrepreneur, ternyata menarik. Saya membawa program itu ke televisi. Saya kampanyekan kewirausaan, dan masuk ke pikiran orang.

Saya tunjukan ke masyarakat, kalau kita bisa. Padahal saat itu semua berita memberitakan pengusaha Indonesia bangkrut dan semua kelaparan, tidak punya pekerjaan. Tapi saat itu saya bicara soal harapan. Saat itu pengusaha sudah membuka usahanya. Saya percaya, pasar tetap ada tapi keinginan membeli tidak ada karena semua orang ditakut-takutin karena PHK.

Saya ngobrol dengan teman-teman, akhirnya saya bikin sekolah kewirausahaan. Beberapa pengusaha datang ke sini. Banyak yang sudah dihasilkan dari sekolah ini. Tapi saya kecewa, banyak yang sudah jadi pengusaha, dan datang ke sini malah jadi motivator. Meng-copy bahan-bahan saya dan disampaikan ulang tanpa mempunyai basic science-nya.

Usaha mereka pun ditinggal dan menjadi motivator karena dianggap lebih untung sekali ngomong Rp1 juta. Mereka mengajarkan bagaimana menjadi kaya. Kata saya, itu salah. Kaya itu bukan tujuan, tapi akibat. Kaya itu karena Anda bisa membuat banyak hal yang bagus, jadi pengusaha jujur, sehingga banyak orang yang beli.

Dahulu saya mengajarkan soal etika entrepreneur, lalu social entrepreneur. Saat ini saya sudah bicara soal sharing economy dan dampaknya kemarin demo sopir taksi segala.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS