Mona Lohanda: Mengupas Kesalahan Indonesia di Masa Lalu dan Kini

Pebriansyah Ariefana | Suara.com

Senin, 12 September 2016 | 07:00 WIB
Mona Lohanda: Mengupas Kesalahan Indonesia di Masa Lalu dan Kini
Sejarahwan VOC dan Tionghoa, Mona Lohanda. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Suara.com - Insiden paspor ganda Archandra Tahar saat menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral membuat Sejarahwan Senior Mona Lohanda ‘gatal’ untuk menganalisa dari sisi sejarah. Menurut dia, ada peristiwa penting yang hilang dalam pengangkatan Arcandra.

Alasan Presiden Joko Widodo mengangkat Archandra menjadi Menteri ESDM karena sosok yang mumpuni untuk mengelola sumber daya alam Indonesia. Namun belakangan Jokowi dinilai ‘offside’ karena mengangkat seseorang berkewarganegaraan ganda menjadi menteri. Itu melanggar aturan Undang-Undang No 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara sebab menteri harus WNI.

Namun Mona bertanya, apakah benar itu alasan Jokowi mengangkat Archandra? “Hanya Jokowi dan Archandra yang tahu jawabannya,” kata Mona.

Jawaban atas pertanyaan itu tidak berbekas untuk disimpan menjadi dokumen sejarah. Sebab tiap kali presiden mengangkat menteri, perbincangan keduanya berlangsung lewat telepon. Kalalu pun bertemu langsung, itu dilakukan dengan tertutup. Tidak ada catatan.

Perbincangan ‘rahasia’ itu lah yang disebut Mona sebagai peristiwa penting yang hilang. Lebih bagus kalau ada komunikasi tertulis antara keduanya, sehingga bisa dianalisa latarbelakang insiden itu terjadi.

Namun akhirnya Archandra dipecat dengan alasan kontroversi kewarganegaraan ganda itu. Pemecatan itu pun masih kontroversi. Sejumlah pengacara menggugat Keputusan Presiden tentang pengangkatan dan pemecatan Archandra sebagai menteri.

“Ini bisa tidak terjadi, kalau dia (Arcandra) jujur,” kata perempuan yang memutuskan tidak ingin mempunyai TV dan masih setia membaca koran itu.

Peristiwa kewarganegaraan ganda Archandra menjadi pelajaran untuk semua orang agar tidak menyepelekan bukti sejarah. Menutut Mona, sejarah bisa mengungkap semua hal di masa kini.

Parahnya, menurut dia era modern mengancam pendokumentasian bukti sejarah untuk disimpan. Teknologi digital membuat dokumentasi mudah terhapus. Arus informasi mudah terlupakan saking banyaknya yang hilir mudik di internet.

Menurut Mona, dokumentasi sejarah bisa mengungkap asal usul sebuah peristiwa. Lebih jauh, sejarah masa lalu bisa memperbaiki keadaan di masa depan.

Mona adalah peneliti senior di Indonesia yang banyak mengupas sejarah sebelum kemerdekaan Indonesia. Terutama saat Indonesia dijajah oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Belanda. Dia satu-satunya sejarahwan yang hafal persis peristiwa penjajahan VOC lengkap dengan waktu dan nama-nama yang terlibat di peristiwa itu.

Karena keahliannya dalam sejarah penjajahan Belanda, Mona banyak melahirkan doktor sejarah saat dia menjadi peneliti di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Dia tak tahu pasti jumlah mahasiswa doktor yang dibantu.

Menurut Mona, sejarah masa lalu bisa mengungkap asal usul sebuah peristiwa. Dari yang dia teliti dari zaman penjajahan Belanda, terungkap berbagai kesalahan Indonesia sehingga bisa ‘mudah’ ditaklukan Belanda.

Dia ungkapkan itu semua dalam perbincangan sangat dengan suara.com pekan lalu di sebuah kafe di Serpong, Tangerang Selatan.

Apa saja kesalahan masa lalu Indonesia? Apa hubungannya dengan masa kini? Berikut wawancara lengkap suara.com dengan Mona:

Dedikasih Anda di bidang sejarah Indonesia mendapat apresiasi publik. Tiga penghargaan yang Anda dapat adalah Nabil Award, Cendekiawan Berdedikasi, dan Bakrie Award. Mengapa Anda begitu mencintai sejarah?

Saya masuk sejarah secara tidak sengaja, niat saya masuk sastra Indonesia. SMA saya di SMA Negeri 1 Tangerang jurusan budaya. Waktu saya SMP juga jurusan bahasa. Tapi waktu SMA, guru memasukan saya di Paspal (juruan IPA sekarang). Tapi saya terus ngotot masuk budaya.

Saat saya kuliah, saya juga ingin masuk sastra Indonesia. Tapi di Universitas Indonesia, sastra belajar bahasa Arab dan Melayu. Rupanya saya iseng, masuk ke jurusan Sejarah di Fakultas Sastra.

Karena saya suka baca, maka saya masuk sejarah. Jika orang sejarah nggak suka baca maka pengetahuannya tidak akan banyak.

Ilmu sejarah didasarkan pada pengetahuan seluas-luasnya. Kalau tidak suka baca, sulit menjadi sejarahwan. Ilmu sejarah bisa masuk ke mana saja, mulai dari kedokteran sampai bangunan.

Makanya saya sering diajak dalam revatilisasi bangunan di Jakarta. Saat Fakultas Kedokteran ingin membut kurikulum, mereka perlu data sejarah dan datang ke saya.

Sejarah penting dipelajari, apa gunanya untuk masa kini?

Jika Anda tidak tahu latar belakang Anda dari mana, maka tidak tahu identitas Anda. Sebab orang Indonesia menelusuri identitas dari latar belakang etnis dan bahasa ibu. Problem kita, sekarang melupakan asal usul keluarga. Sebab pelajaran sejarah sempat terhenti lama dan orang kita tidak memperhatikan asal usul dari mana kita.

Ketika di luar negeri, kita akan ditanya identitas asal. Dari mana? Dari Indonesia. Indonesia mana? Jawa, Sumatera atau mana? Karena Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Satu contoh nyata, gejala pulang mudik saat Lebaran. Pemudik sebenarnya mencari akar keluarga. Mereka rela sengsara saat mudik, sampai meninggal di jala. Tapi tetap dipertahankan pulang kampung itu. Di bawah sadar, mereka mencari akar asal usul keluarga.

Tradisi ini ada di berbagai negara. Misalnya di Inggris menjelang Natal, kereta pasti penuh. Begitu juga orang Amerika Serikat. Bagusnya, itu perayaan agama tapi menjadi tradisi keluarga.

Jadi mudik itu tidak akan selesai ketika mereka mencari akar. Masalahnya ketika mereka tercabut dari akar asli dan pindah tempat tinggal, misal di Jakarta.

Buat saya, sejarah  mempelajari akar sebuah negara. Kalau tidak mempelajari sejarah, maka kita akan gamang. Sebab dunia semakin seragam, karena era globalisasi seakan menyamakan kita semua.

Mulai dari makan sampai bahasa. Namun tidak bagus jika seragam, karena monoton dan membosankan. Makanya harus dicari akar identitasnya.

Sejauhmana kelengkapan data sejarah di Indonesia?

Tidak akan pernah lengkap, masih harus dicari dan dikumpulkan. Terutama di era digital, data cenderung cepat obsolete atau usang. Data sejarah masa lalu kebanyakan ditulis, jika dipelihara maka akan terus terjaga. Di era digital, data sejarah cepat hilang karena kebanyakan mudah dihapus.

Zaman penjajahan Belanda, ada profesi juru tulis yang menuliskan setiap laporan. Tulisan itu dikirimkan ke Belanda dengan kapal laut selama 6 bulan. Saat ini informasi didistribusikan bisa lewat telepon, tapi banyak info yang hilang karena tidak ditulisakan transkipsinya.

Ada satu peristiwa saat Presiden Soeharto jika ingin mengangkat menteri, semua orang menunggu telepon dari Cendana. Apa yang dibicarakan calon menteri dan Pak Harto, kita tidak tahu. Saat zaman Belanda, pengangkatan pejabat harus ditulis.

Sehingga sejarah mencatat peristiwa saat itu. Dalam banyak hal, komunikasi manusia yang baik adalah yang meninggalkan jejak dan langsung, termasuk tatap muka.

Anda mengusulkan dalam pengangkatan menteri harus tercatat, bukan hanya lewat telepon…

Bisa juga. Tapi kalau dengan surat, akan mudah bocor. Karena kalau Anda ingin tahu begitu menteri bermasalah setelah diagkat, sepeti Menteri ESDM Arcandra. Dia kasus kewarganegaraan double, kenapa waktu di Amerika terjadi seperti itu? Ini bisa tidak terjadi, kalau dia (Arcandra) jujur.

Kalau pesan saya, menterinya harus jujur. Mengenai alasan presiden angkat Arcandra, kan hanya presiden yang tahu. Kalau alasan tertulis hanya formalitas saja.

Teknologi banyak mendukung banyak, tapi jangan terlalu ketergantungan. Jangan sampai Anda diperbudak. Banyak naskah zaman sekarang kehilangan jejak sejarah. Sebab dengan penulisan dengan komputer, akan menghilangkan proses pembuatan sebuah naskah.

Berbeda saat zaman kemerdekaan, naskah apapun dibuat dulu dengan tangan, lalu Bung Karno (Presiden Soekarno) mencoret bagian-bagian yang harus diperbaiki. Setelah naskah dinyatakan benar, maka diketik. Coretan itu adalah bagian dari sejarah. Dalam sejarah yang diperlukan adalah proses. 

Indonesia mempunyai banyak sejarah. Mulai dari masa penjajahan sampai peristiwa politik era orde lama dan orde baru, hingga kini. Bagian sejarah Indonesia mana yang paling penting dalam perjalanan bangsa?

Ada dua peristiwa yang krusial dan penting untuk negara. Pertama saat VOC datang. VOC membujuk kerajaan-kerajaan di Indonesia yang belum bersatu. Sebab dengan berhasilnya VOC membujuk para sultan dan raja, mereka bisa menancapkan kaki di Indonesia.

Sampai menjadikan Batavia menjadi ibukota tahun 1620. Kalau saja saat itu, para raja dan sultan tidak terbujuk, mungkin VOC bisa diusir dan Indonesia tidak dijajah.

Kelemahan Indonesia, saat  itu tidak mempunyai pola pikir modern. Kerajaan saat itu belum tahu Indonesia punya wilayah dari Sabang hingga Merauke. Bahkan yang mengenalkan perbatasan antar wilayah di Indonesia adalah kolonial.

Sebab VOC mempunyai berbagai perjanjian perbatasan dengan Inggris dan Portugis. Ada kekuasaan lain di kawasan Asia Tenggara, misal Spanyol di Filipina, Portugis di Timor Timur dan Inggris di Malaysia dan Brunai.

Saat kerusial kedua, saat Indonesia menyatakan merdeka tahun 1945, lalu sekutu datang dibonceng Belanda. Tapi Indonesia bisa mengatasi dan menang. Itu berkat bantuan diplomasi dari Belanda.

Di dunia modern, Anda tidak bisa bergerak jika tidak berdiplomasi dengan dunia luar. Begitu juga konflik di sebuah negara tidak akan selesai kalau tidak ada campur tangan dari dunia luar.

Ada propaganda Indonesia menang karena bambu runcing, itu tidak logis. Saya meragukan, karena pejuang juga memegang senjata rampasan dari Jepang. Namun ada kepercayaan saat tentara Indonesia gerilya, bambu runcing itu dijampi-jampi dan diberikan mantra.

Tapi tidak masalah jika percaya Indonesia menang dengan hanya bambu runcing, itu romantika.

Ada kata menarik yang pernah nyatakan, “Belajar arsip membuat saya bisa mengetahui apa sebab negeri sebesar Indonesia bisa dikuasai Belanda yang luasnya hanya sebesar Provinsi Jawa Barat”. Apa sebabnya? Bisa Anda jelaskan?

Saya pernah berbincang dengan seorang teman dari Inggris. Dia mengatakan, “Mon, Indonesia negara yang luas kok bisa dijajah Belanda yang hanya sebesar Jawa Barat?”.

Itu sebabnya saya mempelajari sejarah masuknya VOC ke Indonesia. Dari bacaan, saya baru mengetahui Belanda bisa menjajah Indonesia karena kerajaan saat itu belum tahu konsep kesatuan.

Sejak dulu lautan atau maritim ditelantarkan, lebih mementingkan pertanian.

Sampai sekarang kebanyakan bisnis dan sumber daya Indonesia dikuasai asing. Apakah hal ini berhubungan karakter orang Indonesia di masa lalu yang mudah ditaklukan?

Di satu pihak, kita memang belum punya karakter yang gigih dan tegak. Namun hubungan dengan asing tidak bisa dihindari. Pada zaman modern, kelemahan kita berawal dari tahun 1950 di zaman Bung Karno Indonesia mempunyai kesalahan.

Sebetulnya kelemhan Bung Karno adalah meniru warisan yang jelek dari Belanda. Sementara warisan bagus dari Belanda tidak ditiru.

Salah satunya konsentrasi pembangunan sepenuhnya di Jakarta. Itu kesalahan masa lalu terbesar Indonesia. Termasuk konsentrasi pembangunan di Jawa.

Indonesia pernah mempunyai proyek tol Anyer-Panarukan. Saya bilang itu proyek gila. Kenapa nggak bangun kereta api? Sementara Belanda di masa lalu banyak membangun jalur kereta api di jalur ekonomi.

Mengapa pembangunan kereta pertama dibuat dari Tuntang Semarang ke Kota Jakarta? Itu untuk mengangkut gula. Lalu kereta dari Sawah Lunto sampai Pelabuhan Padang? Itu untuk angkut batu bara.

Sementara Kalimantan dan Sulawesi belum dibuat karena keburu datang Jepang. Jadi Belanda membangun di semua tempat berdasarkan potensi ekonomi.

Banyak kesalahan, karena Indonesia tidak belajar dari masa lalu dan sejarah.

Sifat positif dari Belanda yang mana yang belum diserap Indonesia?

Dari sisi pemerintahan, Belanda sangat bagus. Indonesia malah membuat sistem otonomi daerah. Sebab Belanda membagi willayah berdasarkan kesatuan budaya dan bahasa.

Contohnya Tangerang masuk ke Batavia karena orang Tangerang berbahasa melayu dan suka nonton lenong. Belanda juga memisahkan Banten. Namun setelah mereka semua disatukan menjadi Jawa Barat. 

Di zaman Pak Harto sistem pemerintahan masih mengacu pada Belanda. Salah satunya menjadikan menteri sebagai anggota MPR. Bahkan Bupati, di zaman Belanda, ditempatkan di Batavia. Mereka melapor keadaan di daerah.

Pascareformasi, banyak sejarah kontroversi yang dipublikasikan. Misal peristiwa G-30S dan juga orang-orang di balik kemerdekaan Indonesia. Terakhir ada foto tokoh PKI di poster Bandara Soekarno-Hatta. Bagaimana pendapat Anda soal hal ini?

Sebetulnya tidak simpang siur, sebab penguasa menggunakan sejarah untuk kepentingan politik. Ini terjadi juga di Rusia dan Cina. Itu bahaya. Makanya sebagai sejarahwan juga harus memilih, mau ikut yang politik atau murni sejarah. Saya ikut yang murni sejarah, tak pernah ambil proyek buku sejarah negara.

Tapi tidak ada kebenaran yang mutlak dalam ilmu sejarah. Karena kebenaran dilihat dari siapa yang menelaah sejarah itu.

Biografi singkat Mona Lohanda

Mona adalah Seorang sejarawan dan arsiparis, pernah bekerja di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Bidang yang digelutinya sejarah Batavia atau Jakarta. Dedikasinya ke sejarah membuat Mona merima berbagai penghargaaan, antara lain Nabil Award (2010), cendekiawan berdedikasi dari Harian Kompas (2012) dan Bakrie Award (2016).

Mona Lohanda di Tangerang, Banten Tahun 1947. Dia bekerja di ANRI sejak 1972 dan pensiun pada 2012. Karena pengetahuan, pengabdian, dan ketekunannya, Mona banyak membantu para sarjana/peneliti Indonesia dan mancanegara dalam penelusuran arsip.

Mona menyelesaikan studi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Mona kemudian melanjutkan studi pascasarjana di Departement of History, School of Oriental and African Studies di University of London. Mona pun pernah menyenyam pendidikan S3 untuk gelar Ph.D di Universitas Katolik Nijmegen, Belanda.

Mona banyak menulis artikel dan buku, di antaranya The Kapitan Cina of Batavia, 1837-1942: A History of Chinese Establishment in Colonial Society (Djambatan, 1996) dan Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia (Masup Jakarta, 2007). Mona juga sering terlibat sebagai penyunting buku sejarah dan narasumber di sejumlah instansi.

Sampai kini, Mona masih nyaman memperoleh informasi dengan membaca majalah dan koran. Dia berlangganan lebih dari 5 majalah dan koran tiap hari. Mona memutuskan tidak menonton televisi karena merasa hanya membuang waktu saja.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Mereka Mengajak Liburan di Museum dengan Cara Beda

Mereka Mengajak Liburan di Museum dengan Cara Beda

Lifestyle | Sabtu, 09 Juli 2016 | 15:21 WIB

Obon Tabroni: Era Buruh "Go Politic" Sudah Dimulai

Obon Tabroni: Era Buruh "Go Politic" Sudah Dimulai

wawancara | Senin, 18 Juli 2016 | 07:00 WIB

Nurul Taufiqu Rochman: Teknologi Nano untuk Masa Depan Indonesia

Nurul Taufiqu Rochman: Teknologi Nano untuk Masa Depan Indonesia

wawancara | Senin, 11 Juli 2016 | 07:00 WIB

Sofwan Manaf: Lebaran dan Pengampunan Dosa Setelah Ramadan

Sofwan Manaf: Lebaran dan Pengampunan Dosa Setelah Ramadan

wawancara | Senin, 04 Juli 2016 | 07:00 WIB

Abdul Basit: Ahmadiyah dan Islam Santun Bertoleransi

Abdul Basit: Ahmadiyah dan Islam Santun Bertoleransi

wawancara | Senin, 13 Juni 2016 | 07:00 WIB

Euro 1968, Lempar Koin Warnai Jalan Sukses Italia

Euro 1968, Lempar Koin Warnai Jalan Sukses Italia

| Kamis, 19 Mei 2016 | 06:00 WIB

Piala Eropa 1960, Inisiasi Mimpi Delaunay yang Dimenangi Soviet

Piala Eropa 1960, Inisiasi Mimpi Delaunay yang Dimenangi Soviet

| Kamis, 19 Mei 2016 | 16:52 WIB

Spanyol Tuan Rumah Euro 1964,  Spanyol Juaranya

Spanyol Tuan Rumah Euro 1964, Spanyol Juaranya

| Kamis, 19 Mei 2016 | 07:12 WIB

Tebus Kegagalan di Yugoslavia, Jerman Barat Raih Gelar Eropa ke-2

Tebus Kegagalan di Yugoslavia, Jerman Barat Raih Gelar Eropa ke-2

| Kamis, 12 Mei 2016 | 13:13 WIB

Cekoslowakia, Juara Eropa Pertama Lewat Titik Putih

Cekoslowakia, Juara Eropa Pertama Lewat Titik Putih

| Jum'at, 13 Mei 2016 | 08:03 WIB

Terkini

Sekjen ATSI Merza Fachys: Operator Siap Laksanakan Registrasi SIM Biometrik, Tapi...

Sekjen ATSI Merza Fachys: Operator Siap Laksanakan Registrasi SIM Biometrik, Tapi...

wawancara | Senin, 13 April 2026 | 21:01 WIB

Strategi Anggya Kumala Jadikan Oreo Gerakan Kebaikan Bagi Keluarga Indonesia

Strategi Anggya Kumala Jadikan Oreo Gerakan Kebaikan Bagi Keluarga Indonesia

wawancara | Senin, 23 Februari 2026 | 15:06 WIB

Feri Amsari Bongkar Sisi Gelap Korupsi Politik: Kasus Bisa 'Diciptakan' Demi Jerat Lawan!

Feri Amsari Bongkar Sisi Gelap Korupsi Politik: Kasus Bisa 'Diciptakan' Demi Jerat Lawan!

wawancara | Rabu, 18 Februari 2026 | 14:29 WIB

Kunardy Darma Lie, Ambisi Membawa KB Bank Jadi 10 Besar di Indonesia

Kunardy Darma Lie, Ambisi Membawa KB Bank Jadi 10 Besar di Indonesia

wawancara | Selasa, 06 Januari 2026 | 21:31 WIB

Prodjo Sunarjanto: Peluang Besar Logistik, Mobil Listrik hingga Tantangan dari Gen Z

Prodjo Sunarjanto: Peluang Besar Logistik, Mobil Listrik hingga Tantangan dari Gen Z

wawancara | Kamis, 04 Desember 2025 | 16:43 WIB

Rolas Sitinjak: Kriminalisasi Busuk dalam Kasus Tambang Ilegal PT Position, Polisi Pun Jadi Korban

Rolas Sitinjak: Kriminalisasi Busuk dalam Kasus Tambang Ilegal PT Position, Polisi Pun Jadi Korban

wawancara | Jum'at, 14 November 2025 | 21:09 WIB

Transformasi Sarana Menara Nusantara dari 'Raja Menara' Menuju Raksasa Infrastruktur Digital

Transformasi Sarana Menara Nusantara dari 'Raja Menara' Menuju Raksasa Infrastruktur Digital

wawancara | Senin, 13 Oktober 2025 | 14:33 WIB

Tatang Yuliono, Bangun Koperasi Merah Putih dengan Sistem Top Down

Tatang Yuliono, Bangun Koperasi Merah Putih dengan Sistem Top Down

wawancara | Senin, 29 September 2025 | 14:21 WIB

Reski Damayanti: Mengorkestrasi Aliansi dalam Perang Melawan Industri Scam

Reski Damayanti: Mengorkestrasi Aliansi dalam Perang Melawan Industri Scam

wawancara | Rabu, 10 September 2025 | 20:23 WIB

Andi Fahrurrozi: Engineer Dibajak Timur Tengah saat Bisnis Bengkel Pesawat Sedang Cuan

Andi Fahrurrozi: Engineer Dibajak Timur Tengah saat Bisnis Bengkel Pesawat Sedang Cuan

wawancara | Rabu, 27 Agustus 2025 | 20:36 WIB