Siti Khadijah: Lewat Radio, Bebaskan Perempuan dari Diskriminasi

Pebriansyah Ariefana
Siti Khadijah: Lewat Radio, Bebaskan Perempuan dari Diskriminasi
Pejuang Gender Siti Khadijah. (suara.com/Pebriansyah Ariefana)

Sekarang, penduduk di Deli Serdang sudah sadar gender.

Suara.com - Pejuang gender melalui radio komunitas di Deli Serdang, Sumatera Utara Siti Khadijah meraih Penghargaan SK Trimurti 2016. Penghargaan itu diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Khadijah adalah seorang aktivis pemberdayaan perempuan buruh kebun di bawah Organisasi Himpunan Serikat Perempuan Indonesia (Hapsari). Perempuan kelahiran 13 Maret 1978 ini gencar mendorong penguatan kepemimpinan perempuan dan membangun radio komunitas Hapsari, untuk wadah ekspresi kelompok perempuan pendidikan gender.

Sejak 2001 Khadijah terlibat aktif memberikan pendidikan kepemimpinan, pengembangan unit usaha ekonomi, dan pendidikan gender  lewat berbagai kegiatan kreatif. Semisal, pentas teater perempuan yang mengangkat kasus kekerasan, diskriminasi terhadap perempuan, atau kegiatan pelatihan ekonomi untuk mengentaskan kemiskinan.

Pada 2009, Khadijah dipercaya untuk mengelola radio komunitas Hapsari. Di bawah asuhannya, radio ini berkembang menjadi wadah ekspresi komunitas perempuan yang progesif.

Ia melatih para buruh tani ini untuk percaya diri berbicara di depan publik lewat radio mengenai hak-hak perempuan di ruang publik. Sejumlah konten siaran lainnya berisi kritik terhadap tatanan nilai dan budaya patriarkat dan paternalisme di lingkungan mereka. Selain itu, Siti juga mengajari komunitas perempuan untuk bisa menggunakan media sosial.

Sekarang, penduduk di Deli Serdang sudah sadar gender. Para suami tak keberatan memasak dan menyapu halaman rumah, bahkan mencuci baju. Sementara sang istri ikut bekerja tanpa lupa memberikan ASI ke anak.

Simak cerita inspiratif Khadijah yang berjuang puluhan tahun menyadarkan masyarakat tentang kesetaraan gender melalui radio komunitas di wawancara suara.com berikut ini:

Bagaimana cerita awal Anda menjadi aktivis gender di Deli Serdang?

Awalnya saya tidak menyangka-nyangka jadi aktivis. Sebab di Organisasi Himpunan Serikat Perempuan Indonesia (Hapsari) mempunyai sistemnya kaderisasi, tidak tiba-tiba menjadi aktivis. Saya ikut organisasi itu. Setelah ikut kegiatan organisasi itu, saya mulai mengenal gender.

Pola pendidikan Hapsari dengan cara menempatkan anggotanya di kampung-kampung dan rumah penduduk untuk melakukan penyuluhan tentang gender ke masyarakat kampung.

Saya sendiri pernah tinggal di desa terpencil di pesisir Sumatera Utara selama 3 bulan. Di sana saya mendirikan TK. Karena di sana tidak ada sekolah TK untuk anak-anak. Saya datang dari satu rumah ke rumah di Kampung Nagalawan.  Ketika TK-nya sudah berjalan, kita serahkan ke desa. Sampai sekarang murid TK yang saya bangun sudah pada besar-besar, bahkan sudah punya anak.

Saat ini Hapsari sudah mengurusi hal-hal besar. Sudah memperjuangkan UU anti kekerasan seksual.

Tahun 2004, saya mulai mengelola radio Hapsari. Saya mengawali karier di radio dengan mengurusi adminnistrasi sampai menjadi penyiar. Di radio itu, saya juga menyebarkan pendidikan gender ke masyarakat awam.

Bagaimana masyarakat memandang kesetaraan terhadap perempuan saat itu?

Sebab gender masih dianggap sebagai produk penentang lelaki di desa dan kampung-kampung. Mereka sama sekali tidak tahu soal gender, gender makanan apa sih? Makanya saya memulai pendidikan gender itu dengan menjawab pertanyaan perbedaan perempuan dan laki-laki.

Selama ini defenisi perempuan adalah orang yang harus berbakti kepada suami, yang urusannya dapur, sumur dan kasur. Kalau pun perempuan kerja, hanya dianggap sebagai pembantu dan membantu. Padahalnya posisinya, suaminya tidak bekerja. Tapi tetap dianggap membantu suami.

Kalau kami mengadakan diskusi soal gender, saya selalu ditentang oleh pemuka agama. Saya dianggap sebagai penentang kodrat perempuan.

Bagaimana awalnya organisasi Hapsari ini berdiri?

Hapsari didirikan tahun 1990. Organisasi ini bersiri di Desa Sukasari yang jaraknya berpuluh-puluh kilometer dari Kota Medan. Desa terpencil, akses jalan buruk dan pembangunan lambat. Perempuan di sana berbeda perlakuannya dengan lelaki. Lelaki di sana boleh keluar malam, tapi kalau perempuan belum pulang sampai pukul 22.00 malam, dia akan dicari.

Hapsari lahir dari kegelisahan itu. Mengapa perempuan diperlakukan seperti itu? Ini terjadi di Deli Serdang. 

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS