Yuli Riswati: Ingin Bantu Sesama Pekerja, Malah Ditahan bak Pelaku Kriminal

Arsito Hidayatullah
Yuli Riswati: Ingin Bantu Sesama Pekerja, Malah Ditahan bak Pelaku Kriminal
Ilustrasi wawancara Yuli Riswati. [Foto: Arry Saputra / Olah gambar: Suara.com]

Wawancara pekerja migran Indonesia di Hong Kong yang belakangan dideportasi, Yuli Riswati, soal aktivitasnya sebagai jurnalis warga dan pengalaman traumatisnya saat ditahan.

Suara.com - Nama Yuli Riswati tiba-tiba saja jadi bahan pemberitaan sekaligus bahan pembicaraan lumayan heboh beberapa pekan terakhir. Pekerja migran Indonesia atau yang juga biasa dikenal dengan istilah tenaga kerja Indonesia (TKI) itu tepatnya bermasalah dengan pihak berwenang Hong Kong, negeri tempatnya mencari nafkah selama beberapa tahun terakhir.

Tapi Yuli belakangan bermasalah terutama bukan sehubungan pekerjaan rutinnya sehari-hari, melainkan terkait aktivitasnya yang juga sebagai jurnalis warga atau citizen journalist. Tepatnya lagi, ini konon ada hubungannya dengan rangkaian reportase atau liputan-liputannya terkait demonstrasi warga Hong Kong belakangan. Yang jelas, ujung-ujungnya Yuli sempat harus ditahan berhari-hari di fasilitas Imigrasi Hong Kong, sebelum akhirnya dideportasi ke Indonesia.

Seperti apa cerita Yuli yang belakangan sudah menjalin kontak dan di-back up oleh sejumlah organisasi --antara lain seperti AJI Surabaya dan LBH Surabaya-- itu? Apa yang melatarbelakangi aktivitasnya di dunia tulis-menulis hingga menekuni citizen journalism? Bagaimana pula pengalamannya ditahan di Hong Kong, termasuk saat harus mengalami prosedur tak biasa? Berikut petikan wawancara dengannya, termasuk dari keterangan pers yang disampaikannya baru-baru ini, yang dirangkum Suara.com.

Apa latar belakang yang membuat Anda berangkat ke Hong Kong?

Sebagai seorang buruh tani desa, alasan saya untuk pergi ke luar negeri untuk menjadi buruh rumah tangga sama dengan alasan ibu rumah tangga di Indonesia, karena faktor ekonomi dan ingin mencari uang lebih untuk mencukupi kebutuhan hidup yang kami dapatkan di Indonesia terutama orang yang berpendidikan rendah seperti kami. Jadi itu yang membuat saya pergi ke luar negeri untuk menjadi pekerja rumah tangga, (yaitu) adalah mimpi untuk lebih baik untuk memperbaiki persoalan ekonomi keluarga dan hidup layak. Karena saya notabenenya bukan orang yang memiliki ijazah dan melamar pekerjaan yang tinggi.

Bagaimana kemudian ketika di Hong Kong Anda bisa mempunyai aktivitas menulis?

Selain sebagai pekerja rumah tangga, awalnya ide itu muncul dari kebutuhan saya dan hobi. Ketika sesampainya saya di Hong Kong, saya mendapati banyak hal yang saya tidak tahu. Saya ingin tahu, tapi tidak tahu bagaimana cara mengakses apa yang saya ingin tahu itu. Terutama ada banyak masalah terkait hukum setempat, informasi yang saya butuhkan, bagaimana jika saya bermasalah, gimana mengaksesnya. Kemudian muncul ide: siapa sih yang mau bantu saya kalau bukan saya sendiri. Di situ saya mulai berusaha, entah itu lewat selebaran, perpustakaan setempat, rajin membaca.

Kemudian suatu hari saya, mendapati aktivitas pekerja rumah tangga lain di Victoria Park. Dari situ ternyata saya tahu ada aktivitas serikat para buruh di sana, buruh pekerja migran Indonesia di Hong Kong, namanya IMWU (Indonesian Migrant Workers Union). Dari situ saya kemudian tertarik dan ikut mereka. Di situ saya mendapat kesadaran tentang hukum-hukum perburuhan setempat. Di situ saya mulai aktif membantu teman-teman lainnya, aktif demonstrasi menuntut hak-hak buruh di sana.

Saya sadar kemudian, saat aksi-aksi di jalan nggak ada yang dengerin setelah orasi. Kayak terabaikan, nggak ada media yang memberitakan. Dari situ timbul keinginan saya untuk, apa sih yang bisa memperpanjang suara kami. Kalau dipikir-pikir itu sebuah tulisan. Kenapa nggak ada berita yang aku inginkan? Cuma gitu-gitu aja, nggak ada berita yang mengangkat pekerja rumah tangga. Dari situ saya mulai kayak belajar menulis dan membaca. Dari situ awalnya masih belum berani untuk publikasi tulisan, karena (ragu entah) layak baca atau tidak. Kemudian suatu ketika ada perlombaan menulis bertema pekerja rumah tangga migran dan perjuangan hidupnya, yang diadakan Forum Lingkar Pena Hong Kong, suatu organisasi di Hong Kong. Salah satu tulisan saya menjadi pemenang, dan timbul rasa percaya diri.

Dari situ saya semakin (rajin) baca dan nulis. Pada akhirnya saya tertarik menulis puisi dan cerpen, dan berita, karena sejauh pengalaman saya sebagai paralegal di IMWU, saya tahu banyak kasus tentang pekerja asing di sana. Tapi saya nggak mungkin menulis, membeberkan tanpa adanya bukti atau menyembunyikan rahasia orang; jatuhnya semakin kayak mengada-ada. Jadi saya belajar menggunakan fiksi, menuliskan cerita yang sebenarnya fakta mereka, kasus mereka, dalam sebuah cerpen. Jadi dimulainya pada kesadaran dan kebutuhan diri sendiri. Jika saya sendiri membutuhkan sebuah informasi yang informatif dan berguna untuk saya, bagaimana dengan komunitas saya. Otomatis butuh dong. Akhirnya saya kemudian ada inisiatif untuk membangun sebuah portal online khusus untuk kami sendiri, Migran Pos itu.

Mengajak teman-teman PRT yang berkeinginan sama, tak berorientasi pada uang, tapi ingin berbagi, sharing pengalaman, dan bagaimana kita dari seorang pekerja rumah tangga (bisa) berguna untuk pekerja rumah tangga lainnya.

Kapan berdirinya Migran Pos?

Berdirinya tahun 2019, waktu Hari Perempuan Internasional. Baru berani bikin itu, (sempat) pesimis karena portal berita online sudah banyak. Kami itu notabenenya PRT, ini nanti akan ke mana? Tapi kita nggak berpikir itu, yang penting ini bisa bermanfaat sesama komunitas kita. Kita tidak pernah berpikir media kita dikenal banyak orang, bahkan sampai membawa saya ke dalam kasus yang saya alami. Awalnya kita pingin punya idealisme, kami pingin memberikan (alternatif bagi) media daring lainnya yang tak memberikan informasi soal komunitas kami.

Jurnalis Yuli Riswati yang dideportasi Pemerintah Hong Kong saat ditemui di Surabaya, Selasa (3/12/2019). (Suara.com/Arry Saputra).
Yuli Riswati, pekerja migran Indonesia yang juga jurnalis warga, yang akhirnya dideportasi pemerintah Hong Kong, saat ditemui di Surabaya, Selasa (3/12/2019). [Suara.com / Arry Saputra]

Yang menjalankan Migran Pos ini berapa orang?

Awalnya saya berdiskusi dengan salah satu teman, Aryo Adityo, dia wartawan Metro TV. Dia sebelum bekerja menjadi seorang wartawan, dia juga bekerja untuk NGO dan mengenal pekerja rumah tangga migran yang di Hong Kong. Dan dia juga pernah menjadi wartawan koran Suara atau koran berbahasa Indonesia untuk pekerja rumah tangga migran di Hong Kong. Saya ingin bikin web, terus dibantu, dan terpikir nama Migran Pos. Aku ingin portal ini menjadi pos-nya untuk migran. Aku memilihkan menu, karena banyak berita hoaks, ada banyak makanan nggak sehat, kita bisa memilihkan menu yang sehat. Karena itu kita ingin membuat Migran Pos.

Kemudian dibantu bikin website dan domain-nya, mendonasikan bantu untuk beli. Kemudian saya punya tim, ngajak teman dekat, tapi cuma dua orang. Kita nawarin nggak ada imbalan, tapi belajar bareng, berproses bareng. Jadi kita bisa bertemu dengan belajar menulis, menyalurkan hobi kita dengan belajar dengan benar. Jadi kita ada 6 perempuan, semuanya PRT. Jadi kami menganggap kerja itu sukarela karena dari hati, ingin berguna untuk orang lain. Kami belajar membeli buku jurnalis, berusaha dapat narasumber mulai dari nol.

Seperti apa di sana (cara) mendapatkan info untuk liputan?

Media ini dibangun jelang Pemilu kan. Saya menghubungi KJRI, (melaporkan) membuat media Migran Pos, meminta izin melakukan peliputan jalannya pemilu di Hong Kong. Minta izin, KJRI pada detik-detik terakhir menjawab, 'Iya, kami memberi izin Anda untuk meliput, tolong kirim data siapa yang meliput.' Waktu itu ada 3 TKP, butuh 3 orang, akhirnya meminta bantuan yang lain untuk membagi, (itu) berita awal.

Karena efek Pemilu, membuat PRT di sana terbagi dua kubu, saling sebar berita hoaks. Jadi kayak harus ada sesuatu yang beda. Itu berhasil diberikan Migran Pos. Ternyata banyak yang tertarik, dan akhirnya kami ada dan berhasil melakukan peliputan aktual dari tempatnya. Dari semua berita yang ada, hanya kami yang bisa menyajikan nggak bela sana dan nggak bela sini.

After Pemilu, kita butuh misi jalan-jalan, berproses memasukkan info jalan-jalan dan aktivitas PRT di Hong Kong. Kita akhirnya juga belajar video, karena orang-orang lebih suka lihat Youtube. Kita belajar semuanya dari nol, (termasuk) menggunakan HP. Maksimal banget, awalnya jelek, dan meningkat (dan) meningkat.

Awal memberitakan demo (protes warga Hong Kong)?

Pada suatu waktu, saya terjebak macet. Kita tulis juga ada macet besar di MTR, ketika di pusat libur pekerja rumah tangga ternyata ada demonstrasi. Berbasis pengalaman saya di serikat buruh, bahwa demo di Hong Kong adalah kegiatan sah, dilindungi hukum, ada izin dan tidak mengganggu demonstrasi. Tapi ada bus terjebak dan taksi yang terjebak. Saya tanya, ternyata dapat info ada demo untuk menentang ekstradisi. Ternyata aksi itu melebihi (jumlah) orangnya, akhirnya membuat transportasi terjebak.

Kita beritakan itu, karena merasa (sebagai) kebutuhan informasi, yang terjadi di Hong Kong seperti apa. Kemudian kami continue memberitakan itu dan aktivitas lainnya. Jadi kayak sudah menjadi acuan teman-teman kami. Awalnya nggak terpikir, konfiden bahwa itu kebutuhan, nggak mikir secara politik. Otomatis soal seperti ini (kan orang) harus tahu.

Kemudian yang awalnya yang aksi mingguan, jadi demo harian, terjadi kerusuhan dan vandalisme. Itu kami kontinyu memberitakan, karena tidak diberitakan media lain. Jadi mereka benar-benar membutuhkan berita yang berbahasa Indonesia. Dan itu tidak bisa didapatkan media di Indonesia, karena mereka hanya mengutip dari media asing atau mengutip video yang viral.

Bagaimana kejadian yang menimpanya itu bermula, serta pengalaman buruknya selama ditahan, dituturkan oleh Yuli Riswati di laman berikutnya..!

Kontributor : Arry Saputra

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS