Perawat RSPI, Maulia Hindun: Keinginan Menolong Kalahkan Takut pada Corona

Arsito Hidayatullah | Muhammad Yasir
Perawat RSPI, Maulia Hindun: Keinginan Menolong Kalahkan Takut pada Corona
Ilustrasi wawancara. Maulia Hindun Audhah, perawat di RSPI Sulianti Saroso. [Foto: Muhammad Yasir / Olah gambar: Suara.com]

Bagi Maulia Hindun, sang perawat pasien corona yang sudah siap sejak awal gelombang wabah itu sampai di RSPI, kalaupun harus tertular dia "lillahi ta'ala".

Suara.com - Seiring penyebaran wabah atau pandemi corona Covid-19 yang terus meluas hingga jumlah pasien pun terus bertambah, kiprah sekaligus nasib tenaga medis termasuk para perawat pun menjadi perhatian. Banyak sudah yang melontarkan kekaguman, menyebut mereka pahlawan, bahkan menciptakan lagu; sementara tak sedikit pula yang merasa khawatir dengan posisi rentan para tenaga medis tersebut.

Yang khawatir ini pun ada dua sisi: pertama, mereka yang mengkhawatirkan nasib para tenaga medis yang rentan tertular, apalagi dengan kenyataan bahwa memang sudah ada beberapa dokter yang jadi korban dan wafat karenanya. Namun kedua, ada sisi lain pula yang justru khawatir ketika tahu ada tenaga medis atau perawat pasien corona di lingkungannya, lantaran stigma bahwa tenaga medis berpotensi jadi pembawa virus itu.

Lantas, bagaimana sebenarnya perasaan, sekaligus juga suka-duka dan pengalaman sehari-hari seseorang seperti Maulia Hindun Audhah, perawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi atau RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, bekerja di tengah pandemi corona ini? Secara eksklusif kepada wartawan Suara.com yang berkesempatan menemuinya baru-baru ini, Maulia tanpa ragu menyampaikan ceritanya. Berikut petikan wawancara singkat dengannya:

Sudah berapa lama Anda jadi perawat di sini? Bisa ceritakan sedikit suka-dukanya, termasuk saat wabah (pandemi) corona sekarang ini?

Saya bekerja di RSPI kurang lebih 15 tahun. Sebelumnya saya kerja di ruang rawat inap biasa. Setahun ini, pas setahun ini, saya dipindahkan ke IGD.

Jadi, pengalaman (dengan penyebaran infeksi) Covid-19 ini benar-benar luar biasa, ya. Ada haru, sedih, panik juga. Karena kita kebetulan lagi wabah, jadi (secara) psikis pasien yang kalangan elite yang ke sini kan. Pasien itu merasa pengennya buru-buru, karena panik juga. Jadinya (dia) pengen semuanya serba cepat.

Jadi kita sebagai perawat harus pintar-pintar menenangkan pasiennya, sering-sering ngejelasin. Kadang kita udah crowded di dalam, keluarganya itu manggil, "Gimana suster?" Karena kan mereka nggak boleh masuk kan. Jadi itu setiap lima menit nanya, "Suster gimana... suster gimana?" Jadi kita ikut nenangin keluarganya juga. Kita kasih pengertian, (bahwa) ini tuh bukan perawatan biasa, keadaannya sedang mewabah. Jadi kita bilang ke keluarga pasien, (agar) tetap bantu doa, biar bapaknya semakin tenang, pasiennya juga akan semakin tenang. Gitu kan.

Kadang-kadang pasien sendiri juga kan masih megang HP, diteleponin terus. Lagi mendesak malah ngobrol, gitu. Jadi, begitulah.

Anda sudah 15 tahun di RSPI, berarti lulus (kuliah) langsung bekerja di sini?

Iya. Jadi saya lulus langsung ikut CPNS. Akademi perawatannya di Bina Insan Jakarta Utara dengan Islamic Center.

Apa sih alasan utama Anda memilih menjadi perawat?

Oh, yang pertama sih, sebenarnya saya lebih sukanya itu ke bidan. Tapi, waktu itu karena tingginya kurang, jadi ya udahlah, (jadi) perawat. Kebetulan lulus di perawat, (dan) lama-lama mencintailah pekerjaan ini.

Apa pernah terbayangkan sebelumnya akan berada di situasi saat ini? Merawat pasien pandemi Covid-19 yang penyebarannya begitu masif?

Sebelumnya sih udah ada kasus kayak flu burung, SARS, cuma saat itu saya dapat di ruang biasa, jadi tidak terlalu terjun langsung lah. Cuma pas Covid ini kebetulan saya di IGD, terus wabahnya juga banyak, jadi sempat stres juga sih. Cuma ya, udahlah, jalanin aja. Insyaallah kalau kita bantuin orang, Insyaallah akan dibantu Allah juga.

Jadi, pertama kali merawat pasien positif Covid-19 itu, awal Maret?

Nggak. Sebelumnya kita awal-awal Januari itu sudah merawat pasien yang suspect, tapi kan tidak ada hasil yang positif. Nah, yang baru mulai akhir Februari lah itu mulai ada pasien. Dengar berita di luaran sana kan Indonesia wabahnya telat dibandingkan negara lainnya. Awal-awal itu memang udah banyak yang panik, sehari itu bisa 40 lebih. Dinas pagi aja, itu (banyak) pasien yang udah datang mempertanyakan, (bilang) "Saya pulang dari luar negeri". Padahal dia nggak ada riwayat sakit apa-apa, nggak ada keluhan apa-apa, cuma punya riwayat bepergian.

Situasi terkini RSPI Saroso, Senin (2/3/2020) (Suara.com/Ade Dianti)
Situasi di RSPI Sulianti Saroso pada Senin 2 Maret 2020 lalu. (Suara.com/Ade Dianti)

Pertama kali menangani pasien Covid-19, bagaimana perasaan Anda? Apa ada kekhawatiran tersendiri atau takut misalnya, mengingat ini virus baru yang belum banyak diketahui?

Ya, takut sih ada. Manusiawi ya. Cuma ya, karena kita sudah tahu ilmunya, terus kita juga disiapkan dengan APD (alat pelindung diri) yang lengkap, ruangannya juga ada ruangan isolasinya, jadi Insyaallah rasa takut itu lama-lama menghilang. Jadi lebih rasa yang lebih tingginya itu, rasa ingin menolong orangnya, gitu lho.

Karena kalau IGD kan emang keadaan emergensi ya, pasien yang mendesak. Jadi, nggak tega aja gitu. Jadi rasa ingin menolongnya lebih tinggi dari rasa takutnya sih.

Selama merawat pasien, ada momen tertentu yang berkesan?

Kalau tadi sih, (itu) pasien yang dia benar-benar takut banget. Dipegang kita aja (dia bilang), "Duh, jangan ini ya, saya". Terus saya ajak bercanda, udah tuh, nafasnya (jadi) enak. Jadi kita merasa, "Oh, ternyata pasien tuh butuh lho, untuk didengar, dikasih penjelasan, 'Bu, ibu dibawa santai aja, ibu lagi sakit. Kalau ibu stres, nanti imunnya makin nurun'". Kita jelasin gitu, alhamdulillah, tadi kondisinya juga jadi cukup bagus. Jadi, senang aja gitu, kalau melihat pasiennya ada perbaikan.

Sehari biasanya Anda mengobservasi atau melayani berapa pasien?

Kalau di IGD ini kebetulan lagi banyak, kurang lebih ya, bisa enam (pasien). Jadi gantian. Misalkan enam itu, satu pasiennya butuh pasang infus, ya udah, kita berdua pasang infus. Gitu.

Selama bertugas merawat, Anda kan menggunakan APD, ada visor, kacamata, hazmat, juga masker N95, yang cukup membuat pernapasan tidak nyaman. Bisa diceritakan, bagaimana rasanya?

Awalnya waktu di awal di IGD belum ada pasien sih, kita nggak pakai. Terus pas perbantuan di Ruang Mawar Satu, kita mulai pakai APD. Ya, sempat pertama pakai karena harus benar-benar tertutup, sempat merasa sesak juga sih awal-awalnya. Cuma saya berusaha santai, mungkin karena faktor stres juga kan (jadi) takut. Jadi, tarik napas, dibawa santai. Alhamdulillah sih sekarang udah mulai terbiasa.

Biasanya untuk melayani pasien dengan menggunakan APD lengkap itu berapa lama?

Karena di IGD satu ruangan itu kita bikin banyak, berapa bed (tempat tidur) gitu, jadi kurang lebih tiga sampai empat jam kita pakai APD. Itu tidak dilepas, karena berisiko. Kita berada di ruangan yang sama, tiga sampai empat jam pakai APD itu.

Setelah selesai itu, baru ke ruang anteroom (ruang tunggu, ruang antara)? Dan ketika seluruh APD dilepas, itu sudah mandi keringat, gitu ya?

Iya. Terus terkadang pasien juga bilang, "Suster, kedinginan". (Dia) Minta AC-nya dipanasin. Padahal kan kita pakai bajunya baju plastik. Ya udah, basah semuanya. Tapi kita tetap berorintasi kepada pasien, buat (mereka) senyaman mungkin lah. Kalau pasiennya tidak nyaman, kan semakin banyak keluhan juga. Jadi kita bikin pasien nyaman. Kalaupun kitanya tersiksa sih ya, ya udah, yang penting pasiennya nyaman.

Next, di laman berikutnya, Maulia bercerita bagaimana interaksinya sebagai perawat dengan pasien di tengah wabah corona. Termasuk soal apa yang biasa ditanyakan pasien..!

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS