Wawancara Alexander Gurning, Pianis Klasik Dunia: Bangga Jadi Orang Batak

Arsito Hidayatullah
Wawancara Alexander Gurning, Pianis Klasik Dunia: Bangga Jadi Orang Batak
Ilustrasi wawancara. Alexander Gurning, pianis klasik dunia berdarah Batak. [Foto: Instagram @alexgurning / captured. Olah gambar: Suara.com]

Alexander Gurning, pianis dunia yang sudah tampil di berbagai pentas ini memang cinta Indonesia, terutama Parapat, kota di tepi Danau Toba yang merupakan daerah asal ayahnya.

Suara.com - Bakat pianis dunia bermarga Gurning ini sudah tampak saat dia masih kanak-kanak. Kala itu ia memang masih lebih tertarik pada gitar dan menyanyi. “Like real Batak,” ujarnya sambil tertawa saat berbincang dengan Rin Hindryati dari Suara.com via Zoom dari rumahnya di Brussels, Belgia.

Lahir di Belgia dari pasangan campuran Indonesia - Polandia yang bermukim di sana, Alexander belajar piano di Royal Conservatoire di Brussels. Di sana ia berhasil memenangi top prize. Setelah menyelesaikan studinya, ia lantas menjadi asisten di kelas pianis Rusia Evgeny Moguilevsky selama 3 tahun. Ia lalu pindah ke Moskow. Di sana, dia memperdalam ilmunya dengan berguru pada Naumov dan Merzhanov di Moscow Conservatory.

Naumov adalah profesor piano di Moscow Tchaikovsky Conservatory. Dia juga anggota juri di banyak kompetisi internasional. Sedangkan Merzhanov merupakan profesor di Moscow Conservatory sejak 1947 hingga kematiannya pada 20 Desember 2012 di Moskow.

Alexander Gurning kemudian acap tampil di banyak panggung dunia termasuk di Peking, Sapporo, Schleswig-Holstein, Obidos, Lugano, La Roque d'Antheron, Saratoga, Tanglewood, dan Verbier Festivals. Dia juga berkesempatan unjuk kemampuan bersama pianis klasik terbesar dunia, Martha Algerich. Musisi asal Argentina ini memang idolanya.

Saat usianya baru 20 tahun, Alexander sudah konser sendirian di Jepang yang ditonton 5.000 orang.

Meski sudah malang melintang di pentas utama dunia, Alexander Gurning baru sekitar 3 tahun lalu tampil di Indonesia. Waktu itu dia menggelar konser terbatas di Sekolah Musik dan Erasmus Huis, pusat kebudayaan Belanda di Jakarta.

"When you are mixed, sometimes your identity could be problematic [Kalau berdarah campuran, terkadang identitas Anda bisa menjadi masalah]. Saya khawatir jangan-jangan saya tidak diterima di sana,” kenangnya.

Ternyata ia beroleh sambutan hangat dari publik Indonesia kala itu. Pada sisi lain, pria berusia 47 tahun yang kini bermukim di Brussel kagum melihat bakat para pianis muda Indonesia. Itu ia saksikan sendiri di Sekolah Musik di Jakarta.

Dia masih menyimpan impian untuk kembali dan menggelar konser di Indonesia. Sebenarnya, dia dijadwalkan tampil bersama pemain selo asal Korea Selatan bulan ini di Jakarta. Namun karena pandemi Corona, acara tersebut terpaksa dibatalkan. Pun 20 konser lainnya.

Dia bertekad untuk kembali ke Indonesia dan menggelar konser.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS