alexametrics

Monica Nirmala: Protokol 3M dan 3T Jadi Kunci Kendalikan Pandemi Covid-19

Bimo Aria Fundrika
Monica Nirmala: Protokol 3M dan 3T Jadi Kunci Kendalikan Pandemi Covid-19
Penasihat Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menkomarinvest), Monica Nirmala. (Dok: Instagram/healthinharmonyngo)

Penasihat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi,Monica Nirmala, menyebut banyak masyarakt yang tidak tahun 3T.

Ya tentu perubahan perilaku tidak mudah. Misal kita tahu merokok bisa membunuh mendatangkan penyakit dan segala macem. Tapi untuk orang orang yang sudah merokok bertahun-tahun disuruh berhenti merokok itu susah. Jadi saya bisa membayangkan orang yang diet juga, disuruh diet ya ngomong sih gampang tapi penerapannya susah. Jadi saya bisa memahami bahwa perubahan perilaku butuh waktu. Masalahnya pandemi butuh perubahan perilaku secepat mungkin, karena kalau tidak kita bisa kalah dengan virusnya. 

Jadi betul, banyak orang yang 40 sampai 50 tahun, ga pernah pakai masker, jadi kan ada perubahan. Atau ada sedikit ketidaknyamanan saat bernapas, walaupun minor jadi tugas kita sebagai masyarakat kita harus mengingatkan. Jadi jangan segan kalau ada orang yang di sebelah kita tidak pakai ketawa ketawa, jangan segan untuk mengingat kan. Kita tidak bisa sehat kalau orang lain tidak sehat. Jadi harus saling menjaga dan mendukung.

Apakah efektif cara pengendalian dengan represif?

Aku melihatnya, persuasif mungkin mudah tinggal kasih penyuluhan dan poster. Represif pemerintah melakukannya misal dengan operasi yustisi Satpol pp tni polri ngasih tahu orang pakai masker dsb. Tapi apakah akan sustain atau engga dengan begitu. Tapi menurut saya yang juga penting itu tekanan sosial atau social pressure.

Masyarakat Indonesia terutama sangat social banget. Kalau temenku engga pake, aku engga pake juga. Kalau gengku ga pake, aku juga ga pake. Jadi itu bisa dimanfaatkan itu sebagai social pressure tadi. Kalau misalnya ya tadi, ayo kita sebagai masyarakat harus saling berani mengingatkan

Kalau saya ke restoran atau mau beli makanan, tahu pedagangnya ga pakai, pak pakai atau saya ga mau belu, atau sebaliknya. Si pedagangnya, "Bu masuk ke resto saya harus pakai". Jadi harus ada mekanisme secara sosial yang saling dorong. Saya pikir kalau mau represif dari polri ga akan sustainable

Karantina mandiri disarankan di dalam rumah tapi kan masih ada keluarga lain, apakah itu efektif?

Oke, kalau konteksnya di rumah kalau dia punya kamar sendiri ya. Nah apakah dia di kamar terus atau masih sharing juga ya, sharing wc dapur, ruang tamu, itu kan saya pikir cukup susah untuk memastikan orang di kamar saya selama 14 hari. Orang kemungkinan besar akan tetap menggunakan ruang ruang yang digunakan bersama. Oleh karena itu membuat isolasi mandiri ini kurang efektif. 

 Aku mau tambahkan juga soal penularan indoor, kalau penularan banyak indoor. Kuncinya ventilasi itu sangat sangat penting. Tadi seperti analogi saya orang merokok, cara termudah untuk bikin ruangan tidak pekat, buka jendela biar keluar. Kurang lebih begitu juga, buka jendela di kantor kantor di restoran di kantor kita buka, jendela pintunya, pastikan ada pertukaran udara. Itu kunci pencegahan penularan untuk indoor, kalau jendelanya kecil atau susah, pikirkan selain ventilasi atau filtrasi. 

Sebenarnya ada hitungan filtrasi untuk satu ruangan tertutup, contoh ada tempat ibadah yang sudah jamaahnya beribadah itu mungkin memikirkan gimana kalau jendelanya ga bisa dibuka. Jadi kita harus pikirkan filtrasi dengan air purifier. 

Komentar