alexametrics

Rumus Lawan Covid-19, Ketua Terpilih IDI: 5M + VDJ + 3T + Vaksinasi

Vania Rossa | Lilis Varwati
Rumus Lawan Covid-19, Ketua Terpilih IDI: 5M + VDJ + 3T + Vaksinasi
Ketua Terpilih PB IDI dr. Adib Khumaidi, SpOT. (Suara.com/Lilis Varwati)

"Jika rumus ini bisa dilakukan dengan baik, Insya Allah kita bisa menang melawan Covid-19 dan bisa menyelesaikan pandemi ini."

Suara.com - Sebagai Ketua Terpilih Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2021-2024, dr. Adib Khumaidi, SpOT punya harapan bahwa pandemi Covid-19 akan segera berakhir, khususnya di Indonesia. Dan ia punya rumus tersendiri untuk melawan Covid-19, yaitu 5M + VDJ + 3T + vaksinasi.

Satu-persatu ia menjelaskan, bahwa 5M itu terdiri dari menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan. Ditambah dengan VDJ yang diartikan sebagai ventilasi, durasi, dan jarak untuk tempat pelayanan publik, tempat berkumpulnya massa, restoran, mal, dan sebagainya.

Berikutnya masih ditambah lagi dengan 3T yang menjadi tanggung jawab pemerintah untuk meningkatkan kemampuan testing, meningkatkan kemampuan tracing, dan juga bagaimana mendukung sarana prasarana obat alkes dan untuk treatment. Dan ini semua, ditambah dengan vaksinasi.

"Jika rumus ini bisa dilakukan dengan baik, Insya Allah kita bisa menang melawan Covid-19 dan bisa menyelesaikan pandemi ini," katanya yakin.

Baca Juga: Doni Monardo: Kalau Saya Tak Ambil Keputusan, Mau jadi Apa Negara Kita?

Menurut dokter spesialis orthopaedi dan traumatologi yang menyelesaikan studi kedokteran di Universitas Airlangga dan spesialis di Universitas Indonesia ini, pandemi Covid-19 merupakan pembelajaran bagi kita semua.

"Pembelajaran buat kami di profesi (dokter), pemerintah, juga masyarakat. Sehingga perlu ada evaluasi dan tahapan-tahapan, serta strategi dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Salah satu yang harus dievaluasi adalah bagaimana memberikan suatu pembelajaran edukasi kepada masyarakat, karena problematika ini adalah problematika health emergency karena terkait kesehatan masyarakat," kata dokter yang sehari-hari berpraktik di Rumah Sakit Umum Daerah Cengkareng dan Rumah Sakit Sari Asih Karawaci ini. 

Ditemui di Sekretariat PB IDI, Jakarta, beberapa waktu lalu, Suara.com berkesempatan berbincang-bincang dengan dr. Adib mengenai penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Menurut dokter, di mana posisi Indonesia dalam penanganan Covid-19 jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga?

Kalau secara goal-nya, tentunya kita berbeda. Goal di negara tetangga, katakanlah Singapura, Malaysia, ataupun Australia. Ada beberapa informasi negara bagian di Australia yang sudah kembali ke kehidupan normal.

Baca Juga: Arya Ananda Indrajaya Lukmana: Aplikasi EndCorona Ini Ada Suka-Dukanya Juga

Tapi sekali lagi, ada hal yang memang harus kita pahami bersama, Indonesia berbeda dengan mereka. Indonesia negara kepulauan, banyak heterogenitas, baik itu di masyarakat maupun di dalam suatu bersuku-suku. Tentu pendekatannya berbeda dibandingkan kalau kita lihat dari aspek apa yang sudah dilakukan di Singapura, Malaysia, maupun Australia. 

Posisi kita sekarang, terus terang memang dibandingkan dengan Singapura atau Malaysia, kita cukup ketinggalan dalam proses penanganan. Tapi ada satu hal yang kita bisa katakan terkait dengan masalah vaksin. Target vaksinasi kalau kita bicara persentase dengan 181 juta yang harus divaksin, kita masih jauh. Tapi kalau bicara secara kuantitas, dibandingkan negara tetangga, kita lebih cepat.

Tapi sekali lagi, tentunya dalam aspek dan sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang kita melihat dari negara kita yang juga secara geografis dan suku, edukasi, kultur yang berbeda dibandingkan dengan negara tetangga.

Sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, menurut dokter, kenapa angka infeksi Covid-19 di Indonesia tidak masuk ke dalam 10 besar, seperti halnya AS dan India?

Ada beberapa aspek yang kita juga harus lihat. Jangan melihat dari sisi kuantitas saja. Kalau saya melihatnya bukan hanya dari sisi jumlah kasus positif saja, tapi juga harus lihat kasus yang dirawat, kasus kematian. Karena kalau kita bicara positivity rate, nanti akan tergantung dari kemampuan testing.

Kemudian tergantung juga dengan tracing yang harus kita lakukan. Kita tahu peningkatan positivity rate itu, umpamanya kalau di Jakarta karena cukup masif dengan kemampuan laboratorium yang bisa melakukan testing, tapi itu bukan kemudian secara global testing kita meningkat, tidak.

Jadi ada hal yang harus kita perbaiki terkait dengan masalah positivity rate itu. Tapi yang harus kita lihat adalah angka yang dirawat. Kalau sekarang kita lihat memang cenderung turun, dalam artian yang dirawat di isolasi bisa kita katakan datanya hanya sekitar 20 persen dibandingkan Desember-Januari yang bisa sampai 90 sampai 100 persen okupansi bed-nya. Tapi kita nggak bisa cuma lihat dari ruang isolasi saja untuk rawat inap yang ringan sedang, tapi juga harus lihat ICU kita masih banyak yang dirawat dengan Covid-19. Artinya, kita belum selesai dengan pandemi Covid-19 ini.

Masih harus ada upaya yang tetap kita harus jaga dan itu harus tetap kita lakukan. Jadi jangan terlena dengan satu kasus atau data yang yang kita lihat lebih rendah dari negara lain. Tapi kalau umpamanya kemampuan testing kita meningkat, bukan tidak mungkin kita juga dapat data yang juga cukup banyak. Tapi sekali lagi, yang harus kita perhatikan adalah angka perawatan dan angka kematian. Dua hal itu yang harus jadi salah satu indikator, apakah strategi kita sudah tepat atau belum.

Tapi klaim Satgas Covid-19, kemampuan testing kita masih sesuai target, walaupun memang diakui menurun dari kemampuan sebenarnya. Angka kasus harian juga sudah melandai, apa itu mencerminkan kita telah baik dalam menerapkan 3M?

Memang kalau kita lihat kecenderungan naik turunnya kasus di Indonesia ada beberapa karakter. Kalau naiknya kasus, naiknya perawatan, naiknya angka kematian, itu pasca ada mobilitas massa yang besar. Contohnya Agustus pasca long weekend, November-Desember ada libur Natal dan tahun baru. Akhirnya, Januari kasus meningkat, bahkan angka kematian meningkat. Kemudian sekarang turun. Satu sisi tidak ada event yang berkumpul banyak masa, satu sisi lain juga ada PSSB atau PPKM itu terus terang juga membantu dalam turunnya angka. Tapi sekali lagi, ini tidak bisa dikatakan indikator kita melandai. Ini belum selesai. 

Karena sekarang ada puasa, kemudian kemarin juga ada kebijakan tarawih. Asalkan dilakukan protokol dengan baik, Insya Allah kita masih bisa terhindar dari paparan. Tapi kalau protokol tidak bisa dijalankan dengan baik, bukan tidak mungkin itu bisa jadi satu potensi untuk meningkatkan kasus juga. Ditambah lagi juga nanti ada lebaran. Sekali lagi, kita belum selesai dengan pandemi ini, dan masyarakat tetap harus mematuhi protokol dan mematuhi dari anjuran-anjuran pemerintah.

Ketua IDI dr. Adib Khumaidi, SpOT. (Suara.com/Lilis Varwati)
Ketua Terpilih PB IDI dr. Adib Khumaidi, SpOT. (Suara.com/Lilis Varwati)

Belakangan, masyarakat seolah sudah "bersahabat" dengan kondisi pandemi ini. Fenomena apa ini? Apa ini hanya  terjadi di Indonesia, atau memang seluruh dunia sudah seperti ini dengan kondisi pandemi?

Memang kita harus pahami bahwa pandemi itu juga mempengaruhi sosial ekonomi masyarakat. Satu dua bulan pertama mungkin masyarakat masih bisa, artinya bukan hanya di Indonesia saja, tapi juga dunia. Tapi pada saat kita sudah mulai menginjak 1 tahun pandemi, kita nggak bisa sesederhana mengatakan stay at home.

Nanti kalau kita stay at home, siapa yang kasih makan secara ekonomi. Kemudian psikologis. Saya tidak mungkin hanya di rumah saja tanpa melakukan kegiatan, aktivitas apapun. Sehingga persepsi inilah yang harus kita luruskan sama-sama. 

Persepsinya tidak bisa hanya Anda mengatakan tidak boleh bekerja, cukup di rumah saja untuk bekerja. Padahal kita tahu pekerjaan itu tidak serta merta bisa dilakukan di rumah, harus juga dilakukan di kantor. Sehingga yang harus dilakukan adalah pendekatan strategis di mana masyarakat bisa melaksanakan protokol, tidak sekadar memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan. Paling penting adalah bagaimana kesiapan tempat-tempat fasilitas publik terfasilitasi untuk bisa terhindar dari paparan Covid. 

Contohnya dengan ventilasi yang baik, kemudian ada pengaturan jarak, tidak hanya skrining masuk cek suhu atau cuci tangan pakai hand sanitizer, tidak sekadar itu. Tapi setting ruangan harus kita ubah. Jadi kita nggak boleh mengikuti persepsi masyarakat yang menganggap sudah seperti biasa. Karena kesan yang muncul ini yang terjadi di India, dipikir sudah turun akhirnya ada event ritual, itu yang akhirnya meningkatkan kasus. Bukan tidak mungkin nanti di Indonesia juga bisa terjadi ledakan pasca lebaran. 

Jadi kita harus benar-benar bisa memahami mengapa pemerintah melarang mudik. Ini yang saya kira perlu untuk dipahami oleh masyarakat. Jadi masyarakat kita minta untuk protokol kesehatan, tapi fasilitas pelayanan publik restoran, perkantoran juga harus disiapkan untuk bisa bagaimana mereka beraktivitas tapi terhindar dari paparan Covid-19.

Menurut dokter, apakah ke depan setelah vaksin makin mutakhir, pada akhirnya infeksi Covid-19 hanya akan jadi epidemi seperti flu biasa?

Secara ilmu kesehatan masyarakat, pandemi itu nanti bisa berubah jadi epidemi. Sekarang memang belum terjadi, tapi bukan tidak mungkin nanti akan terjadi. Apalagi dengan karakter Indonesia yang negara kepulauan, bukan tidak mungkin nanti akan ada satu lokasi-lokasi yang memang epidemi.

Seperti halnya epidemi malaria, dengue, epidemi yang terkait dengan penyakit menular lainnya yang terjadi di suatu daerah tertentu. Saya kira itu bisa terjadi. Kita paham masyarakat sudah teredukasi, sudah tahu cara untuk mengurangi (paparan), termasuk sudah tahu kalau ada kemungkinan gejala, sehingga akan semakin cepat berobat. 

Kalau semakin cepat berobat, semakin cepat ditangani, dan ditangani di tempat yang memang sesuai untuk penanganan Covid-19, maka angka kematian juga bisa kita cegah. Ini yang saya kira perlu untuk dipahami oleh masyarakat.

Apakah mungkin wabah Covid-19 di Indonesia bisa terkendali tahun ini, mengingat Satgas juga optimis setelah program vaksinasi mulai gencar dilakukan?

Saya masih melihat salah satu indikator utama kita adalah pasca lebaran. Kalau pasca lebaran ini kasus cenderung landai dan tidak ada peningkatan kasus, maka saya optimis akhir tahun ini kita bisa selesai di pandemi covid-19. Tapi kalau umpama pasca lebaran ini ada kecenderungan naik, maka kita akan semakin masuk dalam satu kondisi, ya kalau saya bilang di Indonesia belum ada gelombang kedua, gelombang ke-3, tapi masih naik turun. Jadi, indikator utama kalau dari sudut pandang saya pribadi lihat dari pasca lebaran.

Apakah vaksin yang sudah dilakukan hampir 4 bulan ini sudah menunjukkan hasil yang positif, misal angka penularan berkurang, angka kematian menurun dan sebagainya?

Ada hal yang masih harus dievaluasi. Salah satunya adalah mengenai target sasaran atau kita bicara target pencapaian sasaran. Saya bilang kalau dari kemarin yang pertama untuk nakes bisa dikatakan melebihi target, karena target 1,3 juta ternyata yang divaksin 1,4 juta, dan sekarang berlanjut pada masyarakat lansia. Ini masih berproses dalam meningkatkan cakupannya.

Kalau kita bicara target cakupan yang masih kurang, ada beberapa aspek yang harus dilihat, satu aksesibilitasnya. Jadi kemudahan mendapatkan akses untuk vaksin. Ini yang saya kira masih perlu ditingkatkan.

Saya sepakat pada upaya yang sudah dilakukan pemerintah, baik itu Puskesmas, swasta di berikan peran untuk bisa melakukan vaksinasi terutama pada kelompok lansia. Artinya bukan tergantung pada instansi pemerintah saja. Itu satu upaya mempermudah akses.

Kedua, tidak terfokus pada akses itu saja atau hanya bisa melalui satu aplikasi, tapi akses harus bisa dibantu oleh kelompok masyarakat di kelompok paling bawah. Data jumlah penduduk itu ada di RT, RW, kelurahan. Libatkan RT, RW untuk mendata kemudian fasilitasi di situ. Ada satu tempat mendapatkan vaksinasi dan secara massal dan itu melibatkan mereka. 

Kemudian yang paling penting juga adalah ketersediaan vaksin dan distribusi. Baru terakhir adalah bagaimana kita menyediakan SDM untuk dokter, perawat, bidan. Saya kira mereka sudah siap dan di level yang paling bawah karena program imunisasi ini merupakan jadi program yang rutin dilakukan.

Selama ini kita juga pernah ada imunisasi nasional. Jadi, kalau untuk SDM siap, tapi bagaimana kemudahan akses distribusi ketersediaan vaksin dan edukasi. Karena kita sekarang masih kurang edukasi tentang masalah vaksin, masih banyak informasi hoax terkait vaksin.

Pemerintah perlahan mulai mengendurkan larangan yang dulu ketat diterapkan di awal pandemi. Perjalanan mulai marak, liburan mulai lumrah, dan sebentar lagi mungkin sekolah mulai bertatap muka. Apa tanggapan dokter sebagai Ketua Terpilih PB IDI dengan hal ini?

Harus ada asesmen, penilaian. Ada indikatornya. Kita bicara dalam aspek kewilayahan, memang tidak bisa bicara secara nasional. Katakanlah bicara DKI Jakarta, mungkin akan berbeda antara Jakarta Barat, Selatan, Timur, dan sebagainya. Ataupun antara Bekasi dan Jakarta pasti berbeda.

Asesmen tentu harus ada indikator, salah satunya zonasi. Kalau memang itu wilayah merah, saya kira itu sangat perlu dipertimbangkan terkait dengan pembukaan. Potensi untuk bisa perkumpulan massa, baik itu sekolah maupun tempat pelayanan publik, tempat wisata, dan restoran.

Tapi yang paling penting juga adalah assessment ini dijadikan satu upaya yang dievaluasi secara rutin. Kalaupun nanti itu sudah dikatakan dalam satu wilayah itu turun, tidak serta merta langsung buka.

Prinsipnya adalah menyiapkan semua tempat, apakah itu sekolah, tempat pelayanan publik, kantor restoran, mal, dan sebagainya itu harus tetap menjalankan protokol, itu penting. Termasuk protokol perjalanan.

Adaptasi kebiasaan baru itu adalah kita akan beradaptasi, kalau kita sekolah sekarang duduknya agak berjarak, kalau sekarang sekolah jadi dua kelas pagi dan siang atau ganjil-genap untuk mengatur supaya kepadatan di dalam kelas. Jadi hal itu harus tersosialisasikan dari sekarang.

Sehingga kita semua kalau umpama sudah siap, sekolah sudah siap, guru sudah siap, infrastruktur juga sudah siap, semua sudah mematuhi protokol. Kemudian dilakukan asesmen cukup siap, maka itu baru bisa dibuka. Tapi selama itu belum dilakukan, hanya sekedar sekolah buka, mal buka, atau perjalanan buka, tidak bisa. Harus ada asesmen dan evaluasi. 

Apa saran dokter sebagai tenaga kesehatan terhadap masyarakat, dan juga terhadap pemerintah, agar kita semua bisa berhasil melalui pandemi ini?

Ada rumusnya itu adalah 5M menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan. Plus VDJ, ventilasi, durasi, dan jarak buat tempat pelayanan publik, buat tempat yang bisa berkumpulnya massa, restoran, mall, dan sebagainya. Tetap memperhatikan ventilasi, durasi, dan jarak. Kalau tidak ada ventilasi yang baik harus ada air purifier. Kemudian tetap mengatur jarak.

Ditambah lagi adalah 3T yang menjadi tanggung jawab pemerintah untuk meningkatkan kemampuan testing, meningkatkan kemampuan tracing juga bagaimana mendukung sarana prasarana obat alkes dan untuk treatment. Ditambah juga dengan vaksinasi.

Jadi 5M + VDJ + 3T + vaksinasi ini adalah rumus yang kalau itu bisa dilakukan dengan baik insya Allah kita bisa menang melawan Covid-19 dan bisa menyelesaikan pandemi ini.

Komentar