Inilah Manfaat Indonesia Kembali Jadi Anggota OPEC

Adhitya Himawan | Suara.com

Minggu, 13 Desember 2015 | 14:08 WIB
Inilah Manfaat Indonesia Kembali Jadi Anggota OPEC
Logo OPEC. (Shutterstock)

Suara.com - Sidang Ke-168 OPEC di Wina, Austria, 4 November 2015, memiliki arti penting bagi Indonesia sebagai salah satu produsen minyak di dunia.

Dalam sidang tersebut, Indonesia resmi aktif kembali sebagai anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) setelah sempat keluar pada bulan September 2008.

Pada bulan Mei 2008, Indonesia mengumumkan bahwa mereka telah mengajukan surat untuk keluar dari OPEC pada akhir 2008 mengingat Indonesia saat itu menjadi importir minyak (sejak 2003) atau net importer dan tidak mampu memenuhi kuota produksi yang telah ditetapkan. Keputusan keluarnya Indonesia dari OPEC pada Konferensi Ke-149 OPEC yang berlangsung 9--10 September 2008 di Wina, Austria.

Namun, keanggotaan kembali dalam organisasi pengekspor minyak tersebut sebenarnya wajar saja mengingat Indonesia merupakan salah satu negera eksportir kekayaan alam itu yang disegani.

Gubernur Indonesia untuk OPEC Widhyawan Prawiraatmadja dalam keterangannya mengatakan bahwa pengaktifan kembali tersebut ditandai dengan keikutsertaan Indonesia dalam sidang tersebut.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said pun turut hadir dalam sidang yang dihadiri 12 negara anggota lainnya.

Widhyawan yang akan menjabat Gubernur Indonesia untuk OPEC selama dua tahun (2015--2017) mengatakan bahwa sebagai negara besar dengan kebutuhan energi yang relatif cukup tinggi dan terus meningkat, Indonesia perlu memastikan ketahanan energinya.

"Saat ini, Indonesia dalam proses transisi dari penggunaan energi yang didominasi oleh energi fosil menuju energi baru terbarukan yang lebih berkesinambungan pada masa datang," ujarnya.

Menurut dia, peningkatan ketahanan energi dilakukan dengan membenahi sektor energi dalam negeri dalam bentuk memudahkan perizinan untuk investasi, menggalakkan eksplorasi, serta meningkatkan tata kelola.

"Hal ini diperkuat dengan peningkatan peran aktif negara dalam kerja sama luar negeri, baik secara multilateral maupun bilateral," katanya.

Saat ini, lanjut dia, Indonesia telah menjadi anggota International Energy Agency (IEA) sejak 17 November 2015 dan kembali mengaktifkan keanggotaannya di OPEC mulai 2016 dengan tujuan memastikan kepentingan nasional Indonesia terjaga.

Widhyawan mengatakan bahwa Indonesia akan mendapatkan manfaat dari keberadaannya di tengah-tengah dua organisasi energi global yang penting tersebut.

"Indonesia akan menjadi bagian dari pengambilan keputusan, bukan penerima akibat dari keputusan," katanya.

Selain itu, pergaulan atau jaringan energi internasional membuka pintu yang luas untuk percepatan alih teknologi dan kesempatan bisnis seperti dalam hal pasokan minyak dan produk yang saling menguntungkan, akses pada penelitian dan pengembangan terkini, serta kesempatan bagi putra dan putri terbaik Indonesia berkiprah lebih luas dalam organisasi energi global.

Soal pengaktifan kembali keanggotaan Indonesia di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Sudirman Said sudah melaporkan kepada Presiden RI Joko Widodo.

"Hari ini saya bertemu Presiden untuk melaporkan hasil-hasil sidang OPEC," kata Sudirman Said di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, (7/12/2015).

Ia menyebutkan salah satu hasil sidang OPEC adalah menerima pengaktifan secara resmi keanggotaan Indonesia di organisasi itu. "Kemudian, hasil sidang yang kedua, Widyawan Prawiraatmaja dikukuhkan sebagai Gubernur OPEC," kata Sudirman.

Ia menyebutkan dalam waktu dekat Indonesia juga harus segera memberikan nama-nama untuk menjadi "national representative" yang bekerja di Sekretariat OPEC di Wina, Austria.

Satu Komunitas Menurut Sudirman, dengan kembali menjadi anggota OPEC, Indonesia ada dalam satu komunitas yang punya peran dalam menentukan pasokan energi internasional, terutama migas.

"Dengan berada di tengah-tengah mereka, kita punya jaringan, punya hubungan baik, itu akan membuat kita punya akses pada pemikiran-pemikiran ke depan sehingga bisa kita jadikan sebagai dasar untuk menata strategi dan kebijakan energi kita," katanya.

Ia menyebutkan langkah itu sudah mulai membuahkan hasil karena beberapa pembelian langsung pada negara produsen sudah dirintis dan sudah membuka potensi-potensi keberhasilan.

Sudirman mencontohkan sekitar dua pekan lalu ada tanda tangan perjanjian antara Pertamina dan Saudi Aramco untuk membangun kilang sehingga akan ada pasokan "crude" ke Indonesia.

Saudi Arabia dan Indonesia sedang menjajaki kemungkinan kerja sama dalam membangun penyimpanan sehingga ada investasi dalam "storage"-nya kemudian mereka menaruh produknya atau "crude"-nya di Indonesia.

"Bagi Indonesia suatu keuntungan karena dengan begitu biaya stok akan ditanggung oleh pemilik barang," katanya.

Selain itu, dengan Iran Indonesia mendapatkan pasokan LPG dengan harga jauh lebih murah daripada harga pasar karena jangka panjang.

"Kemudian juga penjajakan kerja sama dalam listrik dan juga kilang dengan Qatar. Dalam waktu dekat, kita akan tanda tangani MoU dengan Qatar untuk pembangunan pembangkit listrik 500 megawatt di Sumut bersama dengan PLN," katanya.

Direktur Utama PT Pertamina Dwi Sutjipto menilai pengaktifan RI di OPEC dapat mendorong efisiensi dalam pembelian minyak karena RI dapat melakukan pembelian langsung dengan negara anggota lain yang tergabung.

"Di OPEC yang ditargetkan melaksanakan pendekatan ke negara-negara yang memiliki minyak, jadi inputnya bisa dapat deal langsung, 'g to g', 'b to b', lebih efisien," katanya.

Ia mengatakan bahwa pengaktifan kembali Indonesia di organisasi tersebut tidak berarti Indonesia berupaya menjadi negara pengekspor, melainkan untuk tujuan membangun jaringan.

"OPEC siapa saja orang memiliki kepentingan, bukan hanya orang menjual, juga orang yang membeli," kata dia.

Menurut dia, Pertamina akan memanfaatkan kembalinya Indonesia di OPEC dengan membangun hubungan seluas-luasnya dan melancarkan pembelian langsung.

OPEC adalah organisasi internasional antar pemerintahan yang bertujuan untuk melakukan koordinasi dan menyatukan kebijakan perminyakan negara-negara anggotanya dan untuk menjamin stabilitas pasar minyak bumi dunia melalui pasokan minyak bumi yang efisien, ekonomis, dan teratur termasuk dengan menetapkan kuota produksi untuk negara-negara anggotanya.

OPEC didirikan melalui Konferensi Bagdad yang diadakan di Bagdad, Irak pada tanggal 10--14 September 1960 oleh lima negara pendiri yang sekaligus menjadi negara-negara anggota pertama OPEC, yaitu Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Venezuela.

OPEC mewakili kekuatan politik dan ekonomi yang cukup signifikan. Dua pertiga dari cadangan minyak dunia serta setengah ekspor minyak dunia dimiliki negara anggota OPEC.

Meskipun OPEC sering dianggap sebagai berlaku "jahat" dalam arena politik, organisasi ini juga memiliki tujuan yang bisa dijustifikasi.

OPEC berfungsi mencegah anggotanya dimanfaatkan oleh negara-negara industri dengan memastikan bahwa negara-negara pengekspor minyak mendapatkan harga minyak yang adil. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Stok AS Hadang Reli Minyak Mentah Dunia

Stok AS Hadang Reli Minyak Mentah Dunia

Bisnis | Rabu, 18 Maret 2026 | 12:20 WIB

Iran Bebas Ekspor Minyak ke China saat 6 kapal Tanker Dibom di Selat Hormuz, Kok Trump Diam Saja?

Iran Bebas Ekspor Minyak ke China saat 6 kapal Tanker Dibom di Selat Hormuz, Kok Trump Diam Saja?

Bisnis | Kamis, 12 Maret 2026 | 17:09 WIB

Donald Trump Rilis 172 Juta Barel Cadangan Minyak AS

Donald Trump Rilis 172 Juta Barel Cadangan Minyak AS

Bisnis | Kamis, 12 Maret 2026 | 09:44 WIB

IEA Siapkan Cadangan Minyak Rekor, Harga Minyak Dunia Melemah

IEA Siapkan Cadangan Minyak Rekor, Harga Minyak Dunia Melemah

Bisnis | Rabu, 11 Maret 2026 | 11:33 WIB

Berapa Cadangan Minyak Indonesia? Bahlil Ngaku Optimis Tak Terdampak Perang AS-Iran

Berapa Cadangan Minyak Indonesia? Bahlil Ngaku Optimis Tak Terdampak Perang AS-Iran

Lifestyle | Rabu, 04 Maret 2026 | 17:11 WIB

2 Kapal Tanker Pertamina Terjebak Perang Iran vs AS - Israel, Stok BBM Nasional Cuma Aman 20 Hari?

2 Kapal Tanker Pertamina Terjebak Perang Iran vs AS - Israel, Stok BBM Nasional Cuma Aman 20 Hari?

Entertainment | Rabu, 04 Maret 2026 | 12:06 WIB

Junaedi Saibih Divonis Bebas dalam Kasus Suap Vonis Korupsi Ekspor CPO

Junaedi Saibih Divonis Bebas dalam Kasus Suap Vonis Korupsi Ekspor CPO

News | Rabu, 04 Maret 2026 | 07:05 WIB

Perang Iran Ancam Inflasi Massal, OPEC+ Bersiap Tambah Pasokan BBM

Perang Iran Ancam Inflasi Massal, OPEC+ Bersiap Tambah Pasokan BBM

Bisnis | Selasa, 03 Maret 2026 | 08:11 WIB

Efek Venezuela dan Sentimen OPEC+, Harga Minyak Melemah ke Level 69 Dolar AS

Efek Venezuela dan Sentimen OPEC+, Harga Minyak Melemah ke Level 69 Dolar AS

Bisnis | Jum'at, 30 Januari 2026 | 11:51 WIB

Pertamina EP Temukan Sumber Minyak Baru di Sumsel, Segini Potensinya

Pertamina EP Temukan Sumber Minyak Baru di Sumsel, Segini Potensinya

Bisnis | Selasa, 06 Januari 2026 | 22:23 WIB

Terkini

Purbaya Serang Balik Ekonom Ferry Latuhihin: Dia Tak Pernah Pegang Data Ekonomi

Purbaya Serang Balik Ekonom Ferry Latuhihin: Dia Tak Pernah Pegang Data Ekonomi

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 20:51 WIB

PT BSA Logistic Indonesia Segera IPO, yang Pertama di 2026

PT BSA Logistic Indonesia Segera IPO, yang Pertama di 2026

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 20:33 WIB

Purbaya Pastikan Indonesia Aman dari Status Darurat Energi, Beda dari Filipina

Purbaya Pastikan Indonesia Aman dari Status Darurat Energi, Beda dari Filipina

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 20:15 WIB

Batas Pelaporan SPT Diperpanjang hingga 30 April 2026

Batas Pelaporan SPT Diperpanjang hingga 30 April 2026

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 20:15 WIB

Jasamarga: Volume Kendaraan Masuk Jakarta Naik 41,8 Persen

Jasamarga: Volume Kendaraan Masuk Jakarta Naik 41,8 Persen

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 20:00 WIB

Disetujui Prabowo, Purbaya Sebut Bea Keluar Batu Bara Bisa Berlaku 1 April 2026

Disetujui Prabowo, Purbaya Sebut Bea Keluar Batu Bara Bisa Berlaku 1 April 2026

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 19:56 WIB

Menkeu Purbaya: Kebijakan Wajib WFH Segera Diumumkan

Menkeu Purbaya: Kebijakan Wajib WFH Segera Diumumkan

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 19:51 WIB

Diskon Tarif 30% Mulai Berlaku Besok untuk 9 Ruas Tol, Ini Daftarnya

Diskon Tarif 30% Mulai Berlaku Besok untuk 9 Ruas Tol, Ini Daftarnya

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 19:20 WIB

RI Jepang Kerja Sama Energi, Pengamat: Indonesia Tak Lagi Sekadar Pemasok

RI Jepang Kerja Sama Energi, Pengamat: Indonesia Tak Lagi Sekadar Pemasok

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 19:13 WIB

Purbaya Kesal Diserang Ekonom Terus Menerus: Mereka Gembar-gembor Ketakutan

Purbaya Kesal Diserang Ekonom Terus Menerus: Mereka Gembar-gembor Ketakutan

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 18:19 WIB