Basriwadi, Mendulang Rezeki via Madu Hutan Danau Sentarum

Adhitya Himawan | Dwi Bowo Raharjo | Suara.com

Selasa, 31 Mei 2016 | 07:29 WIB
Basriwadi, Mendulang Rezeki via Madu Hutan Danau Sentarum
Presiden Asosiasi Periau Danau Sentarum Basriwadi, di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Minggu (29/5/2016). [Suara.com/Dwi Bowo Raharjo]

Mulai tahun 2006, petani madu hutan yang ada di sekitar Taman Nasional Danau Sentarum, khususnya di desa Leboyan dan Semangit, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat mulai dihargai hasil panen mereka setiap tahunnya. Hal ini sudah mereka rasakan setelah terbentuknya Asosiasi Periau Danau Sentarum sejak sepuluh tahun lalu.

Presiden APDS Basriwadi menjelaskan sebelum dibentuknya asosiasi ini, masyarakat setempat yang mayoritas profesinya sebagai nelayan mencoba mencari uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara menjadi petani madu. Nah pada saat itu, hasil panen mereka hanya dihargai Rp25 ribu per kilo.

"Dulu murah sekali harga madu, sebleum ada APDS harganya per kilo sekitar Rp20 ribu tahun 2005. Melihat situasi harga nggak stabil dan kualitas nggak diperhatinkan kita buat APDS, pada tahun 2006 per kilo Rp25 ribu, sekarang (2016) naik per kilo Rp90 ribu untuk petani, kita (APDS) jual per kilo Rp140 ribu," ujar Baswiradi di Dusun Batu Rawa, Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat kepada wartawan, Minggu (29/5/2016).

APDS adalah perkumpulan kelompok petani madu hutan dari kawasan Taman Nasional Danau Sentarum yang memanfaatkan dan mengelola kawasan untuk tujuan konservasi dan peningkatan pendapatan secara lestari.

Sejauh ini APDS mencakup 15 Periau (organisasi tradisional yang mengelola madu hutan dan wilayahnya) yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu. Adapun anggotanya sebanyak 305 orang.

Belum lama ini Bupati Kapuas Hulu AM Nasir meresmikan Rumah Workshop Madu Hutan yang dikelola APDS di Semangit, Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau, pada Sabtu (14/5/2016) lalu.

Rumah workshop tersebut dibangun sebagai sumber informasi pengolahan dan tahap awal pengolahan madu hutan organik dalam kemasan di Kabupaten Kapuas Hulu, khususnya di Danau Sentarum. Rumah ini sekaligus menjadi sekretariat Koperasi APDS yang sebelumnya menggunakan rumah warga.

"Rumah workshop ini adalah salah satu kerjasma APDS dan TNDS, dalam rangka konservasi di taman nasional, ini ada seluruh masyarakat yang mengelola madu hutan," jelas dia.

Sebelum memanen madu, masyarakat terlebih dahulu memasang tikung atau dahan buatan yang sengaja dipasang di pohon-pohon rendah agar para lebah mau bersarang. Dahan buatan dari kayu yang sudah mati dengan ukuran panjang 1,5 - 2 meter dan lebar 15x20 sentimeter dan tebal 3-5 sentimeter. Saat pohon-pohon mulai berbunga, maka lebah akan datang mencari makan dan membuat sarang di dahan tiruan tersebut.

Teknik inilah yang berperan penting dalam pengembangan produksi madu organik di kawasan konservasi, sehingga memberikan kontribusi penting bagi kehidupan perekonomian masyarakat petani madu Danau Sentarum.

"Proses pertama pembuatan tikung, dari daun buatan diats pohon, pada saat musim lebah biasanya bulan September - Maret, itu biasanya musim madu," kata Baswiradi.

Panen yang dilakukan saat ini menggunakan teknik panen lestari. Panen dilakukan pada siang hari dan diharuskan menggunakan pisau stainless anti karat. Karena apabila panen di lakulan di malam hari banyak lebah yang mati, dan lebah yang selamat tidak dapat kembali ke sarangnya, dikarenakan karena lebih memerlukan cahaya untuk orentasi, 

Kalau dahulu panen dilakukan memotong seluruh sarang lebah, kini panen hanya mengambil sebagian kepala madu saja, serta pengambilan madu sudah tidak lagi dilakukan dengan cara memeras, melainkan hanya tinggal menunggu netes. Teknik pengasapan pun juga diterapkan.

Seluruh proses dilakukan secara higienis sesuai dengan standar Internal Control System yang sudah disepakati oleh para anggota kelompok petani madu. 

ICS adalah sistem penjaminan mutu terhadap madu hutan yang dilakukan secara internal, terdokumentasi dengan baik, serta dapat diperiksa oleh pihak lain berdasarkan standar yang telah ditentukan untuk mendapatkan sunber produk madu hutan yang berkualitas tinggi.

Dikethaui, apabila musim madu hutan tiba, masyarakat yang biasnaya bekerja sebagai pencari ikan akan pindah profesi untuk sementara menjadi petani madu. Biasanya panen dilakukan pada musim penghujan dan pada saat pohon-pohon di kawasan TNDS berbunga. 

Berikut skema alur produksi madu di Kapuas Hulu

Menyikapi standar - pembuatan tikung - pemasangan tikung - inspeksi sebelum panen - persiapan panen - panen - memisahkan madu dari sarang - memisahkan kualitas madu - pengisian ke dalam jirijen - penyimpanan di jirijen - pengendapan - proses persetujuan - persiapan dehumidifying -  dehumidifying (pengurangan kadar air) - menyiapkan botol kemasan - pemasangan lebel - pengisian madu ke dalan botol - pengepakan madu ke dalam kardus - produksi.

Berdasarkan data yang diperoleh, dari total produksi madu  tahun 2014-2015 di Kapuas Hulu sebesar 29.004 ton madu hutan, petani madu menerima pendapatan lebih dari Rp2.4 miliar dengan harga minimum per kilonya Rp85 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. Madu-maduu ini dijual ke mitra Jaringan Madu Hutan Indonesia, PT. Dian Niaga di Jakarta, dan sisanya dijual ke sebuah LSM lokal, Riak Bumi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Dari 2.000 Meter ke 30 Hektare: Kisah Rosita dan Hutan Organik yang Tumbuh dari Keteguhan

Dari 2.000 Meter ke 30 Hektare: Kisah Rosita dan Hutan Organik yang Tumbuh dari Keteguhan

Lifestyle | Sabtu, 14 Februari 2026 | 20:46 WIB

Cerita Perempuan di Dunia Riset, Membuktikan Karier dan Keluarga Bisa Sejalan

Cerita Perempuan di Dunia Riset, Membuktikan Karier dan Keluarga Bisa Sejalan

Lifestyle | Jum'at, 23 Januari 2026 | 19:30 WIB

Warren Buffett: Anak Ajaib dari Omaha yang Mengubah Dunia Investasi

Warren Buffett: Anak Ajaib dari Omaha yang Mengubah Dunia Investasi

Your Say | Sabtu, 27 Desember 2025 | 07:35 WIB

Ketika Mimpi Tak Punya Batas: Kisah Inspiratif dari Para Siswa dan Alumni SLB N Cilacap

Ketika Mimpi Tak Punya Batas: Kisah Inspiratif dari Para Siswa dan Alumni SLB N Cilacap

Lifestyle | Kamis, 04 Desember 2025 | 20:37 WIB

Perjalanan Inspiratif Samuel Christ: Bikin Finansial Jadi Mudah Dipahami Anak Muda

Perjalanan Inspiratif Samuel Christ: Bikin Finansial Jadi Mudah Dipahami Anak Muda

Lifestyle | Rabu, 26 November 2025 | 11:58 WIB

Dari Tugas Kuliah Jadi Bisnis Nyata, Begini Cara Es Jeruk Naik Kelas Jadi Minuman Premium

Dari Tugas Kuliah Jadi Bisnis Nyata, Begini Cara Es Jeruk Naik Kelas Jadi Minuman Premium

Lifestyle | Jum'at, 17 Oktober 2025 | 14:59 WIB

Kisah Inspiratif Wook Lee, Pemimpin Visioner di Balik Tokenisasi Global

Kisah Inspiratif Wook Lee, Pemimpin Visioner di Balik Tokenisasi Global

Lifestyle | Selasa, 14 Oktober 2025 | 13:57 WIB

Kisah Inspiratif Pak Menlu: Bangkit dari Kegagalan, Kini Jadi Raja Beton Banyuwangi

Kisah Inspiratif Pak Menlu: Bangkit dari Kegagalan, Kini Jadi Raja Beton Banyuwangi

Lifestyle | Sabtu, 30 Agustus 2025 | 14:37 WIB

Dari Pungut Sisa Makanan Pejabat, Kini Terima Beasiswa Menteri: 7 Fakta Haru Samsul dan Aidil

Dari Pungut Sisa Makanan Pejabat, Kini Terima Beasiswa Menteri: 7 Fakta Haru Samsul dan Aidil

News | Selasa, 26 Agustus 2025 | 23:27 WIB

Di Tengah Demo DPR, Kisah Denny dari Cakung Ini Bikin Hati Adem!

Di Tengah Demo DPR, Kisah Denny dari Cakung Ini Bikin Hati Adem!

Video | Senin, 25 Agustus 2025 | 17:40 WIB

Terkini

Purbaya Serang Balik Ekonom Ferry Latuhihin: Dia Tak Pernah Pegang Data Ekonomi

Purbaya Serang Balik Ekonom Ferry Latuhihin: Dia Tak Pernah Pegang Data Ekonomi

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 20:51 WIB

PT BSA Logistic Indonesia Segera IPO, yang Pertama di 2026

PT BSA Logistic Indonesia Segera IPO, yang Pertama di 2026

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 20:33 WIB

Purbaya Pastikan Indonesia Aman dari Status Darurat Energi, Beda dari Filipina

Purbaya Pastikan Indonesia Aman dari Status Darurat Energi, Beda dari Filipina

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 20:15 WIB

Batas Pelaporan SPT Diperpanjang hingga 30 April 2026

Batas Pelaporan SPT Diperpanjang hingga 30 April 2026

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 20:15 WIB

Jasamarga: Volume Kendaraan Masuk Jakarta Naik 41,8 Persen

Jasamarga: Volume Kendaraan Masuk Jakarta Naik 41,8 Persen

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 20:00 WIB

Disetujui Prabowo, Purbaya Sebut Bea Keluar Batu Bara Bisa Berlaku 1 April 2026

Disetujui Prabowo, Purbaya Sebut Bea Keluar Batu Bara Bisa Berlaku 1 April 2026

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 19:56 WIB

Menkeu Purbaya: Kebijakan Wajib WFH Segera Diumumkan

Menkeu Purbaya: Kebijakan Wajib WFH Segera Diumumkan

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 19:51 WIB

Diskon Tarif 30% Mulai Berlaku Besok untuk 9 Ruas Tol, Ini Daftarnya

Diskon Tarif 30% Mulai Berlaku Besok untuk 9 Ruas Tol, Ini Daftarnya

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 19:20 WIB

RI Jepang Kerja Sama Energi, Pengamat: Indonesia Tak Lagi Sekadar Pemasok

RI Jepang Kerja Sama Energi, Pengamat: Indonesia Tak Lagi Sekadar Pemasok

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 19:13 WIB

Purbaya Kesal Diserang Ekonom Terus Menerus: Mereka Gembar-gembor Ketakutan

Purbaya Kesal Diserang Ekonom Terus Menerus: Mereka Gembar-gembor Ketakutan

Bisnis | Rabu, 25 Maret 2026 | 18:19 WIB