facebook

Pasar Modal Indonesia Lebih Tangguh Dibanding Negara Lain, Ini Buktinya

M Nurhadi
Pasar Modal Indonesia Lebih Tangguh Dibanding Negara Lain, Ini Buktinya
Kantor Bursa Efek Indonesia di Jakarta. [Antara]

Jika dibandingkan dengan kinerja indeks saham di bursa kawasan Asia lainnya, hanya Singapura yang indeks sahamnya mampu cata kinerja apik.

Suara.com - Pasar modal Indonesia diklaim lebih tangguh dibandingkan pasar modal negara lain di tengah gejolak ekonomi global yang terjadi saat ini.

"Resiliensi dari capital market bisa kita lihat terkait dengan kinerja saham, obligasi, dan juga rupiah secara year to date. Kalau kita ambil contoh pasar saham kita, kinerja JCI (IHSG) year to date memberikan return katakanlah kemarin itu 6,6 persen," ujar Direktur & Head of Fixed Income PT BNP Paribas Asset Management Djumala Sutedja, Selasa (28/6/2022).

Ia menjelaskan, jika dibandingkan dengan kinerja indeks saham di bursa kawasan Asia lainnya, hanya Singapura yang indeks sahamnya mampu cata kinerja apik.

"Dalam hal ini resiliensinya cukup bagus, terutama karena memang tema yang diusung untuk pasar Indonesia yang menarik flow dari investor luar yaitu commodity-related investor," kata Djumala.

Baca Juga: Presiden Jokowi Minta G7 Tak Beri Sanksi Komoditas Pangan dan Pupuk dari Rusia

Sementara dari sisi obligasi, secara year to date (ytd) imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun telah meningkat 0,9 persen dibandingkan obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang naik 1,6 persen.

"Terakhir rupiah, pelemahan rupiah year to date itu mungkin tidak sampai 4 persen terhadap dolar AS, tapi kalau kita lihat regional currencies mungkin range pelemahan sudah di atas 4 persen," ujar Djumala.

Inflasi global, menurut dia, tak dipungkiri jadi kekhawatiran investor. Inflasi sejak tahun lalu menjadi momok di berbagai negara karena adanya ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran.

"Jadi demand karena pembukaan kembali ekonomi, dan supply karena memang masih ada gangguan dari rantai pasokan. Dan itu diperparah dengan konflik geopolitik antar Rusia dan Ukraina," katanya.

Konflik Rusia dan Ukraina jadi salah satu faktor kenaikan harga energi dan makanan. Untungnya, lanjut Djumala, posisi indonesia relatif lebih bagus dari negara lain karena Indonesia merupakan net export komoditas yang justru diuntungkan dengan kenaikan harga-harga komoditas.

Baca Juga: Jokowi Minta Dukungan Negara-negara G7 untuk Fasilitasi Ekspor Gandum dari Ukraina

Dengan demkian, dari sisi kinerja ekspor justru membaik dan dari sisi penerimaan pemerintah baik pajak maupun non pajak yang terkait dengan ekspor komoditas juga positif.

Komentar