Jasindo Jawab Tantangan Pasar Asuransi dengan 3 Strategi Ini

Iwan Supriyatna
Jasindo Jawab Tantangan Pasar Asuransi dengan 3 Strategi Ini
Direktur Utama Asuransi Jasindo, Andy Samuel.

PT Asuransi Jasa Indonesia atau Asuransi Jasindo tengah melakukan transformasi di tubuh perusahaan.

Suara.com - PT Asuransi Jasa Indonesia atau Asuransi Jasindo tengah melakukan transformasi di tubuh perusahaan. Transformasi ini diyakini akan membuat perusahaan mampu menjawab tantangan pasar asuransi umum ke depannya.

Menurut Direktur Utama Asuransi Jasindo, Andy Samuel, ada tiga poin yang difokuskan perusahaan terkait transformasi ini: sumber daya manusia (SDM), model bisnis, dan digitalisasi.

Terkait SDM, Andy mengaku akan mencetak SDM Jasindo sebagai enebler yang menjembatani korporasi dengan produk asuransi.

“Sehingga peran SDM cukup penting, karena menjadi fasilitator yang harus paham betul kondisi proteksi yang diharapkan oleh korporasi,” katanya.

Baca Juga: Waduh! Pamer Kartu Asuransi untuk Anak, Istri Indra Bekti Malah Dihujat Netizen

Ia melanjutkan, saat ini sekitar 70 persen industri asuransi umum di Indonesia bermain dengan produk yang sama, di situlah SDM menjadi kunci. Karena SDM Jasindo akan memberikan value proposition untuk perusahaan.

Andy meyakini, profile risiko di setiap nasabah berbeda-beda. Terlebih yang disasar adalah korporasi.

“Sehingga, nantinya SDM Jasindo akan membantu mereka terkait program risk management mereka,” lanjutnya.

Nilai tambah inilah yang ke depannya akan menjadi layanan yang diberikan Asuransi Jasindo. Tak sampai di situ, perusahaan juga akan memberikan program mitigasi risiko dan program valuasi.

Untuk mencetak SDM tersebut, perusahaan akan mengembangkan kompetensi karyawan. Dulu, kompetensi mayoritas fokus di back office sisanya baru di bisnis. Kini akan dibalik, komposisi bisnis akan menjadi dominan dan sisanya baru back office.

Baca Juga: Aldila Jelita Pamer Black Card, Warganet Sentil Lagi Soal Donasi: Mampu Tapi Gak Mampu

Terkait model bisnis, Asuransi Jasindo yang tergabung dalam Indonesia Financial Group (IFG) akan memberikan penawaran produk yang menarik terhadap konsumennya. Menurut Andy, kebanyakan perusahaan asuransi itu push product.

Di mana kebanyakan perusahaan menawarkan produk yang sama. Hasil akhir, perusahaan asuransi tahu kebutuhan nasabah dalam konteks risiko dan cara mitigasinya, kemudian membuatnya menjadi produk asuransi. Di poin inilah Adny akan melakukan shifting.

“Ke depannya, nasabah Jasindo akan mengetahui mitigasi risikonya, sehingga nasabah bisa memilih asuransi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Ini menjadi nilai lebih dari Jasindo,” katanya.

Ke depan Asuransi Jasindo merencanakan memperluas digitalisasi ini pada produk lainnya, seperti Asuransi PA dan Asuransi Perjalanan. Dalam prosesnya Asuransi Jasindo memanfaatkan robot artificial intelligence untuk membantu melakukan proses underwriting pada simple risk tersebut, proses ini hanya memakan waktu maksimal 5 menit sampai polis dapat diterbitkan kepada tertanggung selama risiko yang di input sesuai dengan parameter yang telah kami sesuaikan ke dalam robot tersebut.

“Sedangkan digitalisasi dalam proses klaim, saat ini kami sedang mengembangkan suatu sistem yang bernama VCM (Virtual Claim Management) yang berupa aplikasi website. Sehingga ke depannya seluruh proses klaim di luar produk asuransi kendaraan bermotor yang sudah memiliki sistem sendiri, akan melalui VCM ini,” kata Andy.

VCM memudahkan tertanggung dalam melakukan pelaporan dan tracking status pengajuan klaim, karena dapat dilakukan secara mandiri oleh tertanggung. Begitu pula dalam proses pembayaran klaim akan lebih cepat dengan adanya sistem ini.

Terkait digitalisasi, Asuransi Jasindo akan membuat platform untuk mempermudah model bisnis baru Jasindo. Asuransi Jasindo terus berupaya untuk dapat menciptakan ekosistem digital yang baik dengan cara penerapan Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) dengan berfokus kepada Produk dan Layanan yang berbasis pada Kustomisasi Produk, Layanan Berbasis Data serta Produk Cerdas.

Asuransi Jasindo mengalokasikan sejumlah investasi untuk menunjang digitalisasi perusahaan. Komitmen ini juga sebagai bentuk memperkuat karya- karya anak bangsa melalui aplikasi digital.

“Asuransi Jasindo juga berfokus pada investasi dalam pengembangan digital di perusahaan, salah satu dukungan perusahaan adalah dengan cara merencanakan nilai investasi digital pada Rencana Jangka Pendek dan Panjang Perusahaan,” katanya.

Di bidang asuransi pengangkutan/kargo, Jasindo juga bekerjasama sengan freight forwading companies untuk bisa melakukan trace real-time posisi barang kiriman.

Saat ini Asuransi Jasindo telah menggunakan beberapa platform digital hasil karya anak bangsa, seperti aplikasi Protan yang digunakan untuk memudahkan petani melakukan klaim Asuransi Usaha Tani Padi secara real time yang menggunakan layanan GPS sebagai koordinat penentuan luas wilayah perlindungan.

“Selain itu juga ada aplikasi EASY dan ONE by IFG yang saat ini masih dalam proses pendaftaran di OJK. Kami harap aplikasi-aplikasi ini dapat memudahkan masyarakat untuk melakukan kegiatan perasuransian bersama kami,” jelasnya.

Selain aplikasi, Asuransi Jasindo juga memiliki layanan yang dapat mempermudah masyarakat melalui platform website seperti, Jasindotravel.co.id dimana masyarakat dapat membeli produk Jasindo Travel Insurance secara real time dengan manfaat perlindungan hingga internasional dan E-Marine.

“E-Marine dapat digunakan untuk penutupan asuransi pengangkutan baik menggunakan moda transportasi laut, darat dan udara yang dapat dilakukan secara real time dan terintegrasi dengan dukungan reasuransi nasional,” tutupnya.