Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.772.000
Beli Rp2.632.000
IHSG 6.723,320
LQ45 657,880
Srikehati 323,518
JII 437,887
USD/IDR 17.491

Biaya Logistik RI Masih Mahal, Boroknya Mau Diobati

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Rabu, 02 Juli 2025 | 15:20 WIB
Biaya Logistik RI Masih Mahal, Boroknya Mau Diobati
Biaya logistik yang masih mencekik perekonomian Indonesia menjadi sorotan utama pemerintah. (Foto: Fadil-Suara.com)

Suara.com - Biaya logistik yang masih mencekik perekonomian Indonesia menjadi sorotan utama pemerintah. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan komitmen untuk menurunkan biaya logistik nasional dari 14,29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi 8 persen pada tahun 2030. 

Target ambisius ini memajukan jadwal yang sebelumnya diproyeksikan pada 2045, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengatasi "borok" logistik Indonesia yang selama ini menghambat daya saing.

Airlangga menyoroti bahwa banyak negara di Asia Tenggara telah berhasil mencapai biaya logistik dalam satu digit. "Berbagai negara lain di ASEAN itu hampir seluruhnya single digit. Jadi kita masih ada nilai yang harus kita turunkan," ujar Airlangga dalam konferensi pers peluncuran ALFI CONVEX 2025 di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (2/7/2025).

Pemerintah tengah mempersiapkan serangkaian langkah strategis untuk mempercepat penurunan ini. Airlangga berharap pada November mendatang, rencana komprehensif, termasuk deregulasi sektor logistik, sudah dapat dipersiapkan. Langkah ini diharapkan mampu membawa biaya logistik Indonesia menyentuh angka satu digit yang lebih kompetitif.

Di tempat yang sama, Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Akbar Djohan, mengungkapkan salah satu ganjalan utama dalam menekan biaya logistik adalah tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas jasa pengurusan transportasi atau freight forwarding. Menurut Akbar, praktik pengenaan PPN ini tidak lazim ditemukan di negara lain.

"Pajak freight cost ini juga membebani karena praktik-praktik di luar negeri ini tidak ditemukan. PPN untuk freight," terang Akbar.

Dampak dari PPN freight forwarding ini sangat signifikan. Akbar menjelaskan bahwa pajak ini mengurangi kompetensi dan daya saing ekspor serta produk Indonesia. Pengusaha logistik di Indonesia kesulitan untuk membebankan biaya freight forwarding ini kepada pembeli dari luar negeri karena mayoritas negara mitra dagang tidak memiliki pajak serupa.

"Kita nggak bisa charge ke buyer karena di luar negeri tidak eksis itu. Tidak ada pengenaan-pengenaan pajak karena rata-rata di luar negeri itu mendorong ekspornya," tegas Akbar.

Dengan demikian, upaya pemerintah untuk menekan biaya logistik nasional hingga satu digit pada 2030 akan sangat bergantung pada efektivitas deregulasi yang direncanakan, serta kemampuan untuk meninjau kembali kebijakan pajak yang dianggap membebani sektor logistik dan mengurangi daya saing ekspor Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

PMI Manufaktur RI Anjlok, Menko Airlangga: Industriawan Lagi Pesimistis!

PMI Manufaktur RI Anjlok, Menko Airlangga: Industriawan Lagi Pesimistis!

Bisnis | Rabu, 02 Juli 2025 | 14:26 WIB

Menko Airlangga Soroti Peringkat Logistik RI di Tingkat Global: Cuma Menengah!

Menko Airlangga Soroti Peringkat Logistik RI di Tingkat Global: Cuma Menengah!

Bisnis | Rabu, 02 Juli 2025 | 14:04 WIB

Usai Peringkat Daya Saing RI Anjlok, Pemerintah Lakukan Deregulasi Kebijakan di Sektor Perdagangan

Usai Peringkat Daya Saing RI Anjlok, Pemerintah Lakukan Deregulasi Kebijakan di Sektor Perdagangan

Bisnis | Senin, 30 Juni 2025 | 18:45 WIB

Terkini

Purbaya Balas Kritik Media The Economist: Lihat Eropa, Harusnya Puji Kita

Purbaya Balas Kritik Media The Economist: Lihat Eropa, Harusnya Puji Kita

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 15:14 WIB

Pendapatan GBK Tembus Rp 812 Miliar, Tertinggi Dalam 63 Tahun

Pendapatan GBK Tembus Rp 812 Miliar, Tertinggi Dalam 63 Tahun

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 15:11 WIB

BPS: Harga Cabai Sudah Naik di 247 Kota

BPS: Harga Cabai Sudah Naik di 247 Kota

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:44 WIB

Teknologi Energi Surya RI Dilirik Bangladesh

Teknologi Energi Surya RI Dilirik Bangladesh

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:34 WIB

Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global

Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:31 WIB

Percepat Proyek Tata Air Daan Mogot, Brantas Abipraya: Penyesuaian Badan Jalan Dilakukan Bertahap

Percepat Proyek Tata Air Daan Mogot, Brantas Abipraya: Penyesuaian Badan Jalan Dilakukan Bertahap

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:29 WIB

Apa yang Dimaksud Trading Halt? Ramai Dibicarakan karena IHSG Anjlok

Apa yang Dimaksud Trading Halt? Ramai Dibicarakan karena IHSG Anjlok

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:22 WIB

Direksi Emiten Tambang Emas AMMN Mundur

Direksi Emiten Tambang Emas AMMN Mundur

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:21 WIB

Dilema PI 10% Blok Ganal: Antara Hak Daerah dan Beban Investasi Jumbo

Dilema PI 10% Blok Ganal: Antara Hak Daerah dan Beban Investasi Jumbo

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:17 WIB

Rupiah Tembus Rp17.645, Garuda Indonesia Kian Berat Menanggung Utang Dolar

Rupiah Tembus Rp17.645, Garuda Indonesia Kian Berat Menanggung Utang Dolar

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:05 WIB