Lebih Rendah, Ekonomi Indonesia Diramal Mentok 5,2 Persen di 2026

Selasa, 13 Januari 2026 | 08:36 WIB
Lebih Rendah, Ekonomi Indonesia Diramal Mentok 5,2 Persen di 2026
Suasana gedung-gedung bertingkat di Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • HSBC Global Research memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 sebesar 5,2%, lebih rendah dari target pemerintah.
  • Pertumbuhan didukung permintaan domestik kuat karena kebijakan fiskal dan moneter tetap akomodatif sepanjang 2026.
  • Peningkatan konsumsi rumah tangga bergantung pada reformasi manufaktur dan peningkatan penanaman modal asing.

Suara.com - HSBC Global Research memperkirakan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berpeluang tumbuh 5,2 persen.

Target ini lebih rendah lebih rendah dari yang ditetapkan pemerintah, dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 5,4 persen.

Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research, Pranjul Bhandari, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan dipengaruhi oleh tantangan ekonomi global yang dibayangi ketidakpastian geopolitik.

"Pandangan kami adalah permintaan domestik akan mampu menutupi penurunan permintaan eksternal. Kami melihat tahun 2026 sebagai tahun di mana kebijakan fiskal dan moneter tetap bersifat stimulatif dan akomodatif bagi pertumbuhan di kisaran 5,2 persen," jelasnya dalam acara HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026 secara virtual, Senin (12/1/2025).

Dia pun memperkirakan pertumbuhan domestik justru akan meningkat cukup baik, karena akan ada transmisi yang lebih kuat dari berbagai program bantuan.

Salah satunya beberapa skema kesejahteraan sosial yang mulai matang dan menjadi lebih efektif.

Ilustrasi APBN
Ilustrasi APBN

"Kami memperkirakan bahwa pada 2026 pertumbuhan PDB nominal akan meningkat, yang berarti penerimaan pajak bisa meningkat, sehingga pemerintah punya lebih banyak uang untuk dibelanjakan tanpa perlu menambah defisit anggaran, seperti yang terjadi tahun ini," terang Pranjul.

Kata dia, kebijakan pemerintah masih akan bersifat akomodatif untuk menopang pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026.

Apalagi, pemerintah dinilai memiliki ruang fiskal yang lebih luas untuk meningkatkan belanja tanpa harus melampaui target defisit APBN.

Baca Juga: Defisit APBN 2025 Hampir 3 Persen, Purbaya Singgung Danantara hingga Penurunan Pajak

"Saya pikir di antara keduanya, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kecepatan untuk melakukan lebih banyak pelonggaran kebijakan moneter, pemotongan suku bunga pada saat ini, daripada melakukan lebih banyak pelonggaran fiskal pada saat ini," ujarnya.

Pranjul menambahkan, peran konsumsi rumah tangga sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, peningkatan konsumsi hanya dapat dicapai melalui kenaikan upah dan penciptaan lapangan kerja.

“Bagaimana mencapainya? Tidak ada jalan pintas. Diperlukan reformasi di sektor manufaktur serta peningkatan penanaman modal asing,” tandas dia.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI