- Harga minyak naik pada Jumat, 20 Februari 2026, dipicu peringatan AS kepada Iran mengenai kesepakatan nuklir.
- Kenaikan harga mencapai puncak enam bulan setelah AS memberi tenggat waktu 10-15 hari kepada Iran.
- Faktor lain kenaikan harga adalah penyusutan stok minyak AS dan penurunan signifikan ekspor minyak Arab Saudi.
Suara.com - Harga minyak mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat, 20 Februari 2026. Kenaikan harga dipicu peringatan keras dari pihak Amerika Serikat yang mendesak Iran untuk segera mencapai kesepakatan nuklir dalam waktu singkat guna menghindari sanksi atau tindakan lebih lanjut.
Mengutip dari Investing.com, harga minyak mentah Brent berjangka naik 21 sen, atau 0,3 persen, menjadi 71,87 dolar AS, sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 23 sen, atau 0,4 persen menjadi 66,66 dolar AS.
Harga minyak mencapai puncaknya dalam enam bulan menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Iran. AS memberikan waktu sekitar 10 sampai 15 hari bagi Teheran untuk tunduk pada tuntutan nuklir, guna merespons kekhawatiran bahwa program yang diklaim damai tersebut sebenarnya memiliki tujuan militer.
Ketegangan di jalur logistik vital meningkat setelah Iran mengumumkan latihan militer bersama Rusia tak lama setelah memblokade sementara Selat Hormuz.
Mengingat seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur sempit ini, potensi gesekan bersenjata menjadi ancaman bagi stabilitas harga energi global.
Kondisi ini diperparah oleh data dari EIA yang menunjukkan penyusutan drastis stok minyak mentah Amerika Serikat sebesar 9 juta barel.
Berdasarkan data terbaru dari Joint Organizations Data Initiative, volume pengiriman minyak mentah Arab Saudi mengalami penurunan ke angka 6,988 juta barel per hari di bulan Desember.
Angka ini mencatatkan titik terendah bagi eksportir minyak mentah utama dunia tersebut dalam tiga bulan terakhir.
Di saat yang sama, melambatnya inflasi inti di Jepang ke angka 2,0 persen pada Januari memberikan tekanan bagi Bank Sentral Jepang dalam rencana pengetatan moneter.
Baca Juga: Pasar Minyak Pantau Negosiasi AS-Iran, Brent Berada di Level 68,59 Dolar AS
Bagi pasar energi, kebijakan suku bunga rendah di negara pengimpor besar seperti Jepang merupakan sinyal positif, karena biaya pinjaman yang murah cenderung menjaga permintaan minyak tetap stabil.