Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.778.000
Beli Rp2.653.000
IHSG 6.162,045
LQ45 620,444
Srikehati 309,367
JII 386,908
USD/IDR 17.712

Ekonom Nilai Pelemahan Rupiah Berbeda dari Krisis 1998

Dythia Novianty | Rina Anggraeni | Suara.com

Senin, 23 Februari 2026 | 07:55 WIB
Ekonom Nilai Pelemahan Rupiah Berbeda dari Krisis 1998
Mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat. [Antara]
  • Ekonom Bank Permata menyatakan fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih baik daripada krisis moneter 1997-1998.
  • Pelemahan rupiah menguntungkan eksportir namun memberi tekanan biaya signifikan pada importir dan industri bergantung impor.
  • Dampak pelemahan rupiah dirasakan oleh sektor manufaktur, elektronik, dan farmasi, berpotensi meningkatkan harga barang.

Suara.com - Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level Rp17.000 per dolar AS memunculkan kekhawatiran publik. Salah satunya terulangnya krisis moneter 1997-1998.

Namun, Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menekankan bahwa kondisi saat ini sangat berbeda dibandingkan periode krisis tersebut.

Menurut Josua, secara nominal level rupiah saat ini memang mendekati posisi ketika Indonesia mengalami krisis pada 1997-1998. Namun, dari sisi fundamental ekonomi, situasinya tidak dapat disamakan.

“Kalau kita lihat levelnya memang hampir sama seperti saat krisis moneter 1997-1998. Tetapi kondisi ekonomi kita saat itu dengan sekarang tentu jauh berbeda. Fundamental ekonomi kita sekarang jauh lebih baik,” ujarnya di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Josua menjelaskan, dalam jangka pendek pelemahan rupiah memberikan dampak yang berbeda bagi pelaku usaha, terutama antara eksportir dan importir.

Dari sisi eksportir, penguatan dolar AS justru membawa keuntungan. Arus kas berpotensi meningkat dan kemampuan pembayaran korporasi menjadi lebih kuat karena pendapatan berbasis dolar.

Ilustrasi industri saat beroperasi.Suplai gas terhadap industri berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. [Istimewa]
Ilustrasi industri saat beroperasi. [Istimewa]

Sebaliknya, bagi importir dan industri yang bergantung pada bahan baku impor, tekanan biaya mulai terasa. Kenaikan nilai dolar membuat harga barang impor meningkat, termasuk bahan baku produksi.

“Sebagian besar industri manufaktur kita masih mengandalkan bahan baku impor. Jika pelemahan rupiah berlanjut, ini bisa berdampak pada kenaikan biaya produksi dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga barang,” jelasnya.

Beberapa sektor yang berpotensi terdampak antara lain produk elektronik, farmasi dan obat-obatan, serta jasa yang memiliki komponen input impor cukup besar.

"Kenaikan harga di sektor-sektor tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi daya beli masyarakat," bebernya.

Meski demikian, Josua menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik, terutama bagi mereka yang tidak memiliki paparan langsung terhadap risiko nilai tukar.

Sebab, risiko nilai tukar lebih relevan bagi pelaku usaha yang bergantung pada impor atau individu yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam valuta asing, seperti biaya pendidikan di luar negeri.

“Kalau tidak memiliki kebutuhan impor yang tinggi atau tidak memiliki kewajiban dalam mata uang asing, sebenarnya tidak perlu terlalu khawatir dengan pergerakan rupiah saat ini,” tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rupiah Berbalik Loyo di Senin Sore ke Level Rp 16.800/USD

Rupiah Berbalik Loyo di Senin Sore ke Level Rp 16.800/USD

Bisnis | Senin, 02 Februari 2026 | 16:07 WIB

Berlawanan IHSG, Rupiah Justru Berjaya di Senin Pagi

Berlawanan IHSG, Rupiah Justru Berjaya di Senin Pagi

Bisnis | Senin, 02 Februari 2026 | 09:33 WIB

BI Catat Asing Bawa Kabur Dananya Rp 12,40 Triliun dari Pasar Saham

BI Catat Asing Bawa Kabur Dananya Rp 12,40 Triliun dari Pasar Saham

Bisnis | Minggu, 01 Februari 2026 | 12:38 WIB

Meski IHSG Rebound, Rupiah Justru Ambles ke Level Rp 16,797 Pagi Ini

Meski IHSG Rebound, Rupiah Justru Ambles ke Level Rp 16,797 Pagi Ini

Bisnis | Jum'at, 30 Januari 2026 | 09:54 WIB

Rupiah Kembali Melemah Terseret Sentimen Global

Rupiah Kembali Melemah Terseret Sentimen Global

Bisnis | Kamis, 29 Januari 2026 | 17:32 WIB

Rupiah Melemah Tersengat IHSG yang Anjlok, Dolar AS Jadi Kuat ke Level Rp16.788

Rupiah Melemah Tersengat IHSG yang Anjlok, Dolar AS Jadi Kuat ke Level Rp16.788

Bisnis | Kamis, 29 Januari 2026 | 09:49 WIB

Terkini

Daftar Lokasi dan Jadwal Perbaikan Tol Jakarta - Tangerang Periode Mei 2026

Daftar Lokasi dan Jadwal Perbaikan Tol Jakarta - Tangerang Periode Mei 2026

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 19:13 WIB

5 Cara Amankan Cicilan KPR saat Suku Bunga Naik

5 Cara Amankan Cicilan KPR saat Suku Bunga Naik

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 19:10 WIB

Daftar Negara dengan Utang Paling Ekstrem, Indonesia Termasuk?

Daftar Negara dengan Utang Paling Ekstrem, Indonesia Termasuk?

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 18:52 WIB

Awas Aksi Jual Asing! Saham Perbankan Jadi Sasaran Empuk Profit Taking

Awas Aksi Jual Asing! Saham Perbankan Jadi Sasaran Empuk Profit Taking

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 18:01 WIB

Ekonom Ramal Rupiah Susah Turun ke Level Rp 16.000/USD

Ekonom Ramal Rupiah Susah Turun ke Level Rp 16.000/USD

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 17:46 WIB

Bos GoTo Lapor ke Seskab Teddy, Telah Turunkan Potongan Komisi Ojol 8%

Bos GoTo Lapor ke Seskab Teddy, Telah Turunkan Potongan Komisi Ojol 8%

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 17:39 WIB

Prabowo Diminta Evaluasi PLN Imbas Insiden Blackout Sumatra: Rakyat Rugi Besar!

Prabowo Diminta Evaluasi PLN Imbas Insiden Blackout Sumatra: Rakyat Rugi Besar!

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 17:35 WIB

Tekanan Ekonomi Bikin Investor RI Mulai Lirik Aset Kripto dan Emas Digital

Tekanan Ekonomi Bikin Investor RI Mulai Lirik Aset Kripto dan Emas Digital

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 17:28 WIB

Begini Kondisi Listrik di Sumatra, Masih Banyak yang Padam?

Begini Kondisi Listrik di Sumatra, Masih Banyak yang Padam?

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 17:16 WIB

OJK Lihat Bisnis BPD Masih Baik-baik Saja

OJK Lihat Bisnis BPD Masih Baik-baik Saja

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 17:05 WIB