- Harga minyak Asia Jumat, 6 Maret 2026 turun setelah menguat, namun tetap naik signifikan mingguan akibat konflik Timur Tengah.
- Kontrak berjangka Brent dan WTI mengalami penurunan persentase minor setelah kenaikan persentase tajam sebelumnya minggu itu.
- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus menopang harga minyak tinggi sebabkan kekhawatiran gangguan pasokan Selat Hormuz.
Suara.com - Harga minyak mengalami penurunan di pasar Asia pada hari Jumat, 6 Maret 2026 setelah sempat menguat selama lima hari berturut-turut.
Meski demikian, secara akumulatif mingguan, harga minyak tetap menunjukkan kenaikan tajam akibat memanasnya konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan global.
Mengutip dari Investing.com, harga kontrak berjangka minyak Brent yang berakhir pada bulan Mei turun 1,5 persen menjadi 84,13 dolar AS per barel pada pukul 02:53 GMT (09:53 WIB ), sementara harga kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 2 persen menjadi 79,44 dolar AS per barel.
Tercatat harga minyak Brent melonjak hampir 5 persen pada sesi sebelumnya ke level tertinggi sejak Juli 2024, sementara harga minyak WTI melonjak lebih dari 8 persen.
Kedua harga tersebut berada di jalur yang tepat untuk naik lebih dari 17 persen minggu ini, jika tren kenaikan berlanjut.
Harga minyak dunia tetap berada di level tinggi meski para pelaku mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah reli tajam awal pekan ini.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memasuki hari ketujuh, melibatkan eskalasi serangan antara AS, Israel, dan Iran, terus menekan pasar energi global.
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada keamanan infrastruktur energi dan stabilitas Selat Hormuz sebagai jalur transit minyak paling krusial di dunia.
Analis dari ING menyatakan, dalam laporannya bahwa harga minyak di pasar masih mendapatkan dukungan kuat.
Baca Juga: APBN Jadi 'Bemper', Menko Airlangga: MBG Itu Investasi 1 Dolar Menghasilkan 7 Dolar
Hal ini disebabkan oleh minimnya indikasi penurunan ketegangan di Timur Tengah serta belum pulihnya aliran energi secara normal di kawasan tersebut.
"Jelas, dengan setiap hari yang berlalu tanpa adanya pemulihan aliran pasokan, pasar minyak akan menyesuaikan kembali harga jumlah pasokan yang hilang, sehingga membuka ruang bagi harga untuk naik," tulis Analis IG.
Sementara itu, dalam upaya untuk meredakan beberapa kekhawatiran terkait pasokan, AS mengumumkan akan mengizinkan penjualan minyak Rusia ke India untuk jangka waktu 30 hari.
Menurut analis IG, meskipun faktor-faktor tertentu dapat memberikan tekanan penurunan harga dalam jangka pendek, hal tersebut bukan merupakan solusi utama.
Mereka menegaskan bahwa harga minyak hanya akan turun secara stabil jika jalur distribusi melalui Selat Hormuz telah kembali beroperasi normal.
Para analis juga mengatakan lonjakan harga minyak dapat memicu tekanan inflasi secara global, terutama jika konflik tersebut mengganggu pasokan dalam jangka waktu yang lama.