- Daya beli kelas menengah rapuh, 12,7 juta orang turun kelas dalam 7 tahun terakhir.
- Ramadan 2026 tunjukkan sinyal pulih, namun konsumsi kini bergeser ke kebutuhan pokok.
- Ekonomi terancam jika pelemahan kelas menengah tak segera ditangani secara struktural.
Suara.com - Memasuki pekan pertama Ramadan 2026, indikator makro memang tampak menggembirakan. Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 membaik, inflasi pangan terkendali di angka 1,14%, dan uang beredar tumbuh 10% secara tahunan. Bahkan, aktivitas di Pasar Tanah Abang terpantau lebih ramai dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Pemerintah pun mulai mengguyur berbagai stimulus fiskal untuk memacu konsumsi. Namun, pakar mengingatkan agar pelaku usaha tidak terlena. Ada perbedaan mencolok antara perbaikan indikator musiman dengan pemulihan fondasi ekonomi yang sebenarnya.
"Sinyal pemulihan boleh jadi positif, tetapi daya beli kelas menengah terus tergerus. Dunia usaha akan menanggung dampaknya jika fondasi ini tetap rapuh," tulis laporan COREinsight yang dikutip, Jumat (6/3/2026).
Data Susenas 2025 mengungkap fakta pahit. Proporsi kelas menengah kini hanya tersisa 16% atau sekitar 46,67 juta jiwa. Mayoritas dari mereka melorot menjadi kelompok Calon Kelas Menengah (CKM) yang memiliki daya beli jauh lebih terbatas.
Dampaknya terasa langsung ke sektor ritel. Matahari Department Store, misalnya, mencatatkan perlambatan penjualan dari 34% pada Q1-2024 menjadi 28% pada Q2-2025. Penjualan ritel pakaian bahkan terkontraksi hingga -6% pada 2025, terjun bebas dibandingkan capaian impresif 14% di tahun 2023.
Kini, motor penggerak konsumsi nasional bukan lagi kelas menengah, melainkan kelompok CKM yang menyumbang 43,9% dari total konsumsi nasional.
Dalam laporan CORE itu ada 3 poin utama pergeseran yang telah mengubah peta industri:
- Sektor Jasa & Ritel Modern: Tertekan karena kehilangan konsumen loyal yang hobi spending.
- Sektor Informal: Kian dominan karena kelompok CKM cenderung berbelanja kebutuhan pokok di pasar tradisional atau sektor informal.
- Kualitas Konsumsi: Meskipun nilai belanja Ramadan tumbuh, kualitasnya bergeser dari barang tahan lama (durable goods) dan jasa ke sekadar kebutuhan dasar (perut).
Jika pelemahan kelas menengah ini terus dibiarkan tanpa intervensi struktural yang kuat, geliat Ramadan 2026 dikhawatirkan hanya menjadi "pesta sesaat" di atas fondasi yang kian rapuh.
Baca Juga: Kuasai 60 Persen Populasi, Gen Z dan Milenial Jadi 'Kunci' Masa Depan Asuransi Syariah