- Harga minyak Brent naik menjadi 102,28 dolar AS per barel pada Selasa, 17 Maret 2026, akibat gangguan pasokan.
- Kenaikan dipicu eskalasi konflik AS-Israel dan Iran yang menyebabkan pemblokiran parsial Selat Hormuz.
- Pasar khawatir inflasi meningkat karena lonjakan energi, mendorong bank sentral mempertimbangkan kebijakan moneter ketat.
Suara.com - Harga minyak melonjak tajam pada perdagangan sesi awal di pasar Asia, Selasa 17 Maret 2026), dengan Brent bertahan di atas 100 dolar AS per barel.
Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Mengutip dari Investing.com, harga minyak mentah mulai pulih setelah sempat merosot 5 persen pada sesi sebelumnya. Meski beberapa kapal dilaporkan berhasil melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis tersebut sebagian besar masih terblokir.
Selain itu, seruan AS kepada sekutunya untuk membantu pengamanan di selat tersebut juga belum mendapat respon positif.
Pada pukul 00:33 GMT, kontrak berjangka minyak Brent naik 2,1 persen menjadi 102,28 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meningkat 2,2 persen ke level 94,50 dolar AS per barel.
Eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran memasuki minggu ketiga tanpa tanda-tanda mereda. Sebagai balasan atas serangan terhadap terminal ekspor Pulau Kharg, Iran mengancam akan menargetkan industri yang berafiliasi dengan AS di Timur Tengah.
Di sisi lain, upaya Presiden Donald Trump meminta bantuan aliansi internasional, termasuk Tiongkok, untuk membuka kembali Selat Hormuz belum membuahkan hasil.
Mayoritas sekutu AS menolak mengirimkan kapal ke wilayah tersebut, meski pemblokiran selat oleh Iran telah mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Laporan terbaru menunjukkan sejumlah kapal tanker gas berbendera India dan Pakistan berhasil melewati Selat Hormuz. Hal ini sejalan dengan pernyataan Iran yang mengizinkan kapal dari negara tertentu melintas, namun tetap mengancam akan menyerang armada yang terafiliasi dengan AS dan sekutunya.
Di sisi lain, pasar global mulai mengkhawatirkan dampak inflasi akibat perang ini. Lonjakan harga energi diprediksi akan memicu kebijakan moneter yang lebih ketat dari bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve, Bank Sentral Eropa, dan Bank of Japan, yang dijadwalkan mengadakan pertemuan pekan ini.