Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.799.000
Beli Rp2.670.000
IHSG 6.723,320
LQ45 657,880
Srikehati 323,518
JII 437,887
USD/IDR 17.492

Rupiah Sudah Tembus Rp17.000, Bukan Tanda Ekonomi Indonesia Memburuk

Dythia Novianty | Rina Anggraeni | Suara.com

Selasa, 31 Maret 2026 | 08:10 WIB
Rupiah Sudah Tembus Rp17.000, Bukan Tanda Ekonomi Indonesia Memburuk
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. [Antara]
  • Pelemahan rupiah hingga mendekati Rp17.000/USD lebih disebabkan oleh tekanan pasar global, bukan fundamental ekonomi Indonesia.
  • Tekanan global meliputi konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, inflasi, dan penguatan dolar sebagai aset aman.
  • Rupiah relatif lebih tahan dibanding mata uang Asia lain, namun pelemahan jangka pendek diperkirakan berlanjut terbatas.

Suara.com - Nilai tukar rupiah yang mendekati bahkan sempat menembus level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai belum mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang memburuk.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, mengatakan pelemahan rupiah lebih tepat dibaca sebagai respons pasar terhadap tekanan global yang sedang meningkat, bukan semata-mata karena faktor domestik.

“Rupiah yang mendekati atau sempat menembus 17.000 tidak otomatis berarti ekonomi Indonesia dipandang sangat buruk oleh investor. Ini lebih sebagai alarm bahwa pasar sedang sangat sensitif terhadap berbagai faktor eksternal,” ujarnya saat dihubungi Suara.com, Selasa (31/3/2026).

Ia menjelaskan, sejumlah faktor global yang memicu tekanan tersebut antara lain memanasnya konflik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak yang mendekati 110 dolar AS per barel, meningkatnya kekhawatiran inflasi global, serta menguatnya dolar AS sebagai aset safe haven.

Tekanan ini, kata dia, tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga menyebar ke berbagai negara di Asia. Bahkan, pelemahan rupiah tergolong lebih ringan dibandingkan mata uang lain di kawasan.

“Per 30 Maret 2026, kurs rupiah berada di level 16.992 per dolar AS dan sejak konflik meletus melemah sekitar 1,8 persen. Namun pelemahannya masih lebih ringan dibandingkan won Korea, rupee India, peso Filipina, dan baht Thailand,” jelasnya.

Harga minyak dunia terus naik akibat krisis di Teluk. Amerika Serikat mendesak negara-negara sekutunya dan China untuk mengerahkan kapal perang untuk membuka Selat Hormuz. [Suara.com/Iqbal]
Harga minyak dunia terus naik akibat krisis di Teluk. Amerika Serikat mendesak negara-negara sekutunya dan China untuk mengerahkan kapal perang untuk membuka Selat Hormuz. [Suara.com/Iqbal]

Rizal menilai, ketahanan rupiah juga ditopang oleh perbaikan terms of trade Indonesia, terutama dari kenaikan harga komoditas seperti crude palm oil (CPO).

Meski demikian, ia tidak menampik adanya kehati-hatian investor terhadap Indonesia. Hal ini tercermin dari arus keluar dana asing di pasar saham serta tekanan yang masih terjadi di pasar obligasi, di tengah pandangan negatif dari sejumlah lembaga pemeringkat.

Dalam jangka pendek, Rizal memperkirakan, tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut. Faktor utama yang perlu dicermati adalah belum meredanya ketegangan geopolitik serta belum pulihnya arus energi global, khususnya melalui Selat Hormuz.

“Selama belum ada penurunan ketegangan yang nyata dan arus energi belum pulih, harga energi yang tinggi dan imbal hasil Amerika Serikat yang tetap tinggi akan terus menopang dolar AS,” katanya.

Ia menambahkan, potensi penguatan data ekonomi Amerika Serikat juga dapat memperpanjang tekanan terhadap rupiah, terutama jika pasar kembali mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga di negara tersebut.

Kendati demikian, Rizal menegaskan, pelemahan rupiah tidak akan berlangsung tanpa batas. Dalam waktu dekat, nilai tukar diperkirakan bergerak terbatas.

“Rupiah kemungkinan akan bergerak dalam rentang 16.900 hingga 17.000 per dolar AS dalam jangka pendek,” pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengapa Kritik Ekonom Disebut 'Noise' Oleh Prabowo dan Purbaya?

Mengapa Kritik Ekonom Disebut 'Noise' Oleh Prabowo dan Purbaya?

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 12:54 WIB

Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.975

Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.975

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 09:42 WIB

BI Beberkan Kerugian jika Masyarakat Tukar Uang Lebaran Ditempat Tidak Resmi

BI Beberkan Kerugian jika Masyarakat Tukar Uang Lebaran Ditempat Tidak Resmi

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 08:41 WIB

Bank Indonesia Diramal Tahan Suku Bunga, Stabilitas Rupiah Jadi Pertimbangan Utama

Bank Indonesia Diramal Tahan Suku Bunga, Stabilitas Rupiah Jadi Pertimbangan Utama

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 07:31 WIB

Rupiah Tembus Rp 17 Ribu, Purbaya Sewot: Tanya BI, Kalau Saya Ngomong Nanti Bahaya

Rupiah Tembus Rp 17 Ribu, Purbaya Sewot: Tanya BI, Kalau Saya Ngomong Nanti Bahaya

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 07:00 WIB

Rupiah Kian Kritis, Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS

Rupiah Kian Kritis, Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS

Bisnis | Senin, 16 Maret 2026 | 16:21 WIB

Terkini

Waspada, Ekonomi Indonesia Bakal Dihantam Tekanan Global

Waspada, Ekonomi Indonesia Bakal Dihantam Tekanan Global

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 08:44 WIB

Bank Indonesia Perkuat Pengendalian Inflasi Demi Jaga Harga Bahan Pokok Tidak Naik

Bank Indonesia Perkuat Pengendalian Inflasi Demi Jaga Harga Bahan Pokok Tidak Naik

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 08:13 WIB

OJK Perkuat Kepastian Hukum Demi Jaga Penyaluran Kredit

OJK Perkuat Kepastian Hukum Demi Jaga Penyaluran Kredit

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 07:23 WIB

BRI Consumer Expo 2026 Hadirkan Solusi Finansial Lengkap di Jakarta

BRI Consumer Expo 2026 Hadirkan Solusi Finansial Lengkap di Jakarta

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 18:34 WIB

Kadin China Protes Kenaikan Pajak RI, Purbaya: Kami Mementingkan Kepentingan Negara Kita

Kadin China Protes Kenaikan Pajak RI, Purbaya: Kami Mementingkan Kepentingan Negara Kita

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 18:24 WIB

Purbaya Siapkan Stimulus Baru di Q2 2026, Ada Insentif Mobil Listrik hingga Pendanaan Industri

Purbaya Siapkan Stimulus Baru di Q2 2026, Ada Insentif Mobil Listrik hingga Pendanaan Industri

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 17:30 WIB

Purbaya Pamer Satgas Debottlenecking Kantongi Investasi 30 Miliar USD

Purbaya Pamer Satgas Debottlenecking Kantongi Investasi 30 Miliar USD

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 17:09 WIB

Purbaya Ramal Perang AS vs Iran Berakhir September 2026

Purbaya Ramal Perang AS vs Iran Berakhir September 2026

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:58 WIB

Sempat Tolak, Ini Alasan Purbaya Akhirnya Kasih Insentif Mobil Listrik

Sempat Tolak, Ini Alasan Purbaya Akhirnya Kasih Insentif Mobil Listrik

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:48 WIB

Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia Perkuat Sektor Moneter dan Sistem Pembayaran

Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia Perkuat Sektor Moneter dan Sistem Pembayaran

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:47 WIB