Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.767.000
Beli Rp2.632.000
IHSG 6.599,240
LQ45 651,086
Srikehati 320,576
JII 428,616
USD/IDR 17.661

Trump Batal Serang Iran, Harga Minyak Dunia Melandai

M Nurhadi | Suara.com

Selasa, 19 Mei 2026 | 06:39 WIB
Trump Batal Serang Iran, Harga Minyak Dunia Melandai
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Instagram.com/realdonaldtrump)
  • Harga minyak mentah Brent turun ke US$109 per barel setelah Presiden AS menunda rencana serangan militer terhadap Iran.
  • Penundaan serangan tersebut dilakukan atas permintaan para pemimpin negara Arab di kawasan Teluk selama proses negosiasi berlangsung.
  • Konflik geopolitik memicu kenaikan imbal hasil obligasi global, ancaman inflasi, serta lonjakan biaya operasional pada sektor penerbangan dunia.

Suara.com - Grafik harga minyak mentah dunia ditutup melandai pada perdagangan hari Senin waktu setempat. Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan keputusan untuk menunda rencana serangan militer terhadap Iran yang semula dijadwalkan pada hari Selasa.

Penundaan tersebut dilakukan atas permohonan langsung dari para pemimpin negara-negara Arab di kawasan Teluk.

Minyak mentah standar internasional, Brent, langsung merosot dari level US$112 per barel ke posisi US$109 per barel segera setelah pernyataan Trump diunggah melalui platform media sosial Truth Social.

Meski demikian, harga tersebut tetap tinggi.

Sebelum pengumuman tersebut keluar, pergerakan harga minyak sepanjang hari Senin sempat bergejolak hebat. Pasar energi global terus menunjukkan volatilitas tinggi sejak Iran menutup jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz sebagai bentuk balasan atas serangan udara AS dan Israel yang pecah sejak 28 Februari lalu.

Jalur sempit ini merupakan rute krusial yang dilewati oleh hampir seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia.

Arah pergerakan harga minyak mentah belakangan ini sangat sensitif terhadap sinyal kemajuan ataupun kebuntuan dari negosiasi damai untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Pada awal perdagangan Senin, harga minyak sempat melonjak menyusul unggahan Trump yang memperingatkan Teheran agar segera mengambil tindakan.

Namun, sentimen pasar berbalik arah setelah muncul laporan dari salah satu kantor berita Iran yang menyebutkan bahwa AS telah menyetujui pelonggaran sanksi sementara terhadap ekspor minyak mentah Iran selama proses diplomasi berlangsung.

Melalui unggahan berikutnya di Truth Social, Trump mengonfirmasi bahwa negosiasi serius tengah berjalan. Ia mengungkapkan bahwa para pemimpin dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) telah memintanya untuk menangguhkan operasi militer.

Trump menyatakan dirinya mendapat laporan bahwa sebuah kesepakatan yang "sangat bisa diterima" oleh AS akan segera tercapai, dengan target utama memastikan tidak ada senjata nuklir bagi Iran. Kendati demikian, Trump tetap memberikan peringatan keras.

"Militer AS akan tetap bersiap untuk melakukan serangan berskala penuh dan besar-besaran terhadap Iran dalam sekejap, jika kesepakatan yang dapat diterima gagal tercapai," tegas Trump.

Hingga saat ini, pihak otoritas Iran belum memberikan respons publik terkait pernyataan terbaru tersebut.

Efek Domino: Tekanan pada Obligasi Negara dan Industri Penerbangan

Konflik berkepanjangan di Timur Tengah ini tidak hanya mengguncang sektor komoditas energi, melainkan juga menekan pasar keuangan global dengan menaikkan biaya pinjaman pemerintah (bond yields).

Dikutip BBC, respon para pelaku pasar adalah lonjakan harga energi yang akan memicu inflasi tinggi, sehingga memaksa bank-bank sentral di berbagai negara untuk kembali mengerek suku bunga acuan.

Berikut adalah dampak rembetan di pasar keuangan dan industri global:

  1. Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS & Jepang: Imbal hasil obligasi US Treasury 10-tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam setahun terakhir di angka 4,63% sebelum akhirnya melandai. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang jangka panjang (30 tahun) melonjak ke rekor tertinggi di level 4,2%, dan tenor 10 tahun melesat ke angka 2,8%—posisi tertinggi sejak Oktober 1996—menyusul rencana pemerintah setempat menerbitkan utang baru guna membiayai anggaran tambahan untuk meredam dampak ekonomi akibat perang.
  2. Kecemasan Risiko Inflasi di Eropa: Di Eropa, pergerakan imbal hasil obligasi di zona euro sempat dibuka menguat tinggi sebelum akhirnya ikut merosot sejalan dengan melandainya harga minyak. Isu ini turut menjadi pembahasan utama dalam pertemuan para menteri keuangan G7 di Paris. Kepala Bank Sentral Eropa (ECB), Christine Lagarde, saat ditanya mengenai aksi jual massal di pasar obligasi global, menjawab singkat: "Saya selalu khawatir, karena itulah tugas saya."
  3. Ancaman 'Summer of Pain' bagi Sektor Bisnis: Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, memperingatkan bahwa tingginya harga energi menempatkan perekonomian global dalam situasi yang mengkhawatirkan. "Kita sedang mendekati periode musim panas yang penuh penderitaan (summer of pain), kecuali jika blokade Selat Hormuz segera dibuka," ujarnya kepada BBC.
  4. Dilema Biaya Bahan Bakar Maskapai: Tingginya harga minyak mentah berimbas langsung pada lonjakan biaya avtur bagi maskapai penerbangan yang mulai memasuki puncak musim liburan. Maskapai penerbangan Ryanair melaporkan bahwa meskipun laba setahun penuh mereka naik menjadi €2,26 miliar, ketidakpastian akibat perang Iran dan konflik Rusia-Ukraina membuat proyeksi bisnis ke depan sulit diprediksi. Ryanair menyatakan telah mengunci harga untuk 80% kebutuhan bahan bakar mereka melalui kontrak lindung nilai (hedging), namun sisa 20% pasokan lainnya tetap terekspos lonjakan harga pasar akibat konflik geopolitik tersebut.
     

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai

CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:52 WIB

Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara

Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:42 WIB

Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global

Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 14:31 WIB

AS Rencanakan Serangan Baru ke Iran? Puluhan Pesawat Amunisi

AS Rencanakan Serangan Baru ke Iran? Puluhan Pesawat Amunisi

News | Senin, 18 Mei 2026 | 14:16 WIB

Perang AS - Iran Makin Parah, Donald Trump Lakukan Hal Tak Terduga Ini

Perang AS - Iran Makin Parah, Donald Trump Lakukan Hal Tak Terduga Ini

News | Senin, 18 Mei 2026 | 13:47 WIB

Gegara Foto Bareng Orang Ini, Sardar Azmoun Dicoret dari Skuad Iran Piala Dunia 2026

Gegara Foto Bareng Orang Ini, Sardar Azmoun Dicoret dari Skuad Iran Piala Dunia 2026

Bola | Senin, 18 Mei 2026 | 13:03 WIB

Terkini

Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita

Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:10 WIB

Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru

Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:08 WIB

Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun

Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:02 WIB

PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025

PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:56 WIB

CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai

CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:52 WIB

BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:45 WIB

Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026

Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:18 WIB

PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen

PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:50 WIB

Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:45 WIB

Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara

Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:42 WIB