Literasi Keuangan Tertinggal dari Inklusi, Mahasiswa Rentan Terjebak Utang di Era Cashless

Dythia Novianty, Rina Anggraeni

Kamis, 21 Mei 2026 | 08:43 WIB
Literasi Keuangan Tertinggal dari Inklusi, Mahasiswa Rentan Terjebak Utang di Era Cashless
Ilustrasi E-Wallet. (Unsplash)
baca 10 detik
  • Survei SNLIK 2025 menunjukkan indeks inklusi keuangan Indonesia mencapai 80,51 persen, namun literasi keuangan hanya 66,46 persen.
  • Generasi muda rentan terhadap perilaku konsumtif dan jebakan utang karena menggunakan layanan keuangan tanpa memahami risiko yang ada.
  • OJK bersama institusi pendidikan dan industri terus mendorong edukasi finansial untuk menekan kerugian akibat kejahatan keuangan digital.

Suara.com - Tingginya adopsi layanan keuangan digital belum sepenuhnya diimbangi dengan literasi yang memadai. 

Untuk itu, masyarakat khususnya mahasiswa yang hidup dalam ekosistem keuangan digital serba instan, mulai dari e-wallet hingga pinjaman online dan paylater, perlu mendapatkan edukasi finansial yang lebih kuat.

Adapun berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan Indonesia tercatat sebesar 66,46 persen sementara inklusi telah mencapai 80,51 persen. 

Lalu, pada kelompok usia 18–25 tahun, literasi berada di level 73,22 persen dan inklusi 89,96 persen.

Sekitar 60 persen generasi muda tercatat telah berinvestasi di aset digital, sementara hampir 68 persen aktif menggunakan e-wallet. 

Namun, tingginya partisipasi tersebut belum tentu diiringi pemahaman risiko yang memadai.

“Banyak anak muda sudah aktif menggunakan teknologi dan berinvestasi, tetapi belum tentu memiliki pemahaman yang cukup tentang risiko dan cara mengelolanya," ujar CEO dan Chief Editor Warta Ekonom Muhammad Ihsan dalam siaran pers yang diterima, Kamis (21/5/2026).

Menurutnya, hal ini membuat mereka adaptif terhadap teknologi, tetapi juga rentan terhadap perilaku konsumtif, lemahnya kontrol keuangan, dan jebakan utang.

Ia juga menyoroti besarnya potensi generasi muda dalam ekosistem keuangan digital. Investor pasar modal domestik didominasi investor lokal hingga 99,78 persen dengan mayoritas berusia di bawah 30 tahun.

baca juga

Sementara itu, jumlah investor kripto di Indonesia telah melampaui 21 juta orang.

Sayangnya, fenomena budaya YOLO dan FOMO juga turut memperparah kondisi tersebut dengan mendorong pengeluaran berlebih, bahkan melalui utang konsumtif.

"Kondisi ini diperparah oleh budaya YOLO dan FOMO, yang mendorong pengeluaran berlebih, bahkan melalui utang konsumtif, sehingga tingkat utang generasi muda di sektor fintech menjadi relatif lebih tinggi," tuturnya.

Sejalan dengan itu, Direktur Departemen Literasi dan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Andi Muhammad Yusuf, menegaskan bahwa pesatnya digitalisasi telah mendorong terbentuknya masyarakat cashless, namun juga menghadirkan tantangan baru dari sisi pemahaman dan perlindungan konsumen.

Ia menilai, tingginya inklusi keuangan yang mencapai 80,51 persen belum sepenuhnya diiringi literasi yang memadai, sehingga menimbulkan kesenjangan antara penggunaan dan pemahaman produk keuangan.

“Orang memakai produk keuangan tapi tidak paham apa yang dipakai. Ini mengandung kerawanan, termasuk meningkatnya pengaduan dan potensi kejahatan keuangan digital,” ujarnya.

Ilustrasi Scam. [Pixabay]
Ilustrasi Scam. [Pixabay]

Ia menambahkan, rendahnya literasi keuangan menjadi salah satu faktor meningkatnya kasus penipuan dan penyalahgunaan layanan keuangan.

OJK mencatat, nilai kerugian akibat kejahatan keuangan digital telah mencapai sekitar Rp9,1 triliun berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Center (IASC) sepanjang November 2024 hingga Januari 2026.

Untuk itu, OJK terus mendorong penguatan literasi melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan) yang dilakukan secara masif dan kolaboratif bersama industri jasa keuangan dan institusi pendidikan.

“Literasi keuangan bukan sekadar pengetahuan, tetapi harus berdampak pada kesejahteraan. Individu yang memahami cara mengelola keuangan cenderung lebih stabil secara finansial dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Kampus Binus Alam Sutera, Lim Sanny, menilai bahwa penguatan literasi keuangan di kalangan mahasiswa menjadi semakin penting di tengah percepatan digitalisasi sektor keuangan.

Maka dari itu, adanya kemudahan transaksi yang ditawarkan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan pengelolaan keuangan yang bijak.

“Seiring dengan kemajuan teknologi, transaksi menjadi lebih mudah dan cepat. Namun di balik kenyamanan itu, kita harus tetap bijak dalam mengelola keuangan agar tidak terjebak dalam sikap careless,” ujarnya.

Ia menganggap peran institusi pendidikan tidak hanya sebatas memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga menghadirkan pengalaman praktis melalui kolaborasi dengan pelaku industri yang penting untuk mahasiswa agar mampu memahami risiko dan peluang dalam ekosistem keuangan digital secara lebih komprehensif.

“Kami berharap mahasiswa dapat menggali lebih banyak wawasan dan memahami bagaimana mengelola keuangan secara bijak di era digital, serta siap menerapkannya dalam kehidupan pribadi maupun profesional,” jelasnya.

Direktur Utama ShopeePay Indonesia, Eka Nilam Dari, menegaskan bahwa adopsi pembayaran digital menjadi kebutuhan utama bagi mahasiswa yang memiliki mobilitas tinggi dan frekuensi transaksi yang intens.

Dari sisi keamanan, perusahaannya juga mengedepankan tiga aspek utama yakni efisiensi, manfaat, dan keamanan.

Ia menekankan bahwa kini layanan telah dilengkapi dengan berbagai lapisan proteksi seperti PIN, OTP, hingga fitur two-factor authentication (2FA) serta verifikasi pengguna melalui ShopeePay Plus.

"Layanan verifikasi terhadap transaksi baik itu PIN ataupun OTP itu sudah jadi satu basic standar yang dimiliki," ujarnya.

Dia menambahkan, ada layanan 2FA di mana verifikasi tambahan yang bisa dilakukan oleh para pengguna ShopeePay untuk setiap ada transaksi yang mungkin secara pattern transaksi lain daripada biasanya.

"Tambahan layer dari sisi keamanan itu untuk memastikan bahwa memang orang yang sama ataupun user yang sama yang menggunakan aplikasi tersebut," kata Nilam.

Selain tren e-wallet, Direktur CFX, Lukas Lauw, menyoroti pesatnya perkembangan aset kripto di Indonesia yang turut didorong oleh tingginya partisipasi generasi muda, khususnya mahasiswa.

Ia megatakan bahwa saat ini Indonesia menempati peringkat ketujuh dalam adopsi aset kripto secara global dengan sekitar 52% investor kripto berasal dari kelompok usia 18–24 tahun.

“Proporsi yang bertransaksi di aset kripto itu di usia 18 sampai 24 tahun, sekitar 50%. Jadi ini memang didominasi oleh usia mahasiswa,” ujarnya.

Meski begitu, tren transaksi kripto sempat mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir seiring dengan koreksi harga pasar.

Tercatat, dalam satu kuartal nilai transaksi sekitar Rp75,8 triliun pada periode Januari hingga Maret 2026, yang menunjukkan adanya sensitivitas tinggi terhadap pergerakan harga aset digital di kalangan investor ritel.

Ilustrasi e-wallet. (ist)
Ilustrasi e-wallet. (ist)

Ia menekankan, pentingnya penggunaan platform yang legal dan diawasi regulator untuk meminimalkan risiko kerugian.

Pasalnya, penggunaan platform tidak berizin berpotensi menimbulkan kerugian besar, mulai dari kehilangan dana hingga aset digital.

Maka dari itu, literasi keuangan menjadi aspek penting penting agar masyarakat tidak hanya tertarik pada potensi keuntungan, tetapi juga memahami risiko serta aspek legalitas dalam berinvestasi di aset kripto.

“Literasi harus lebih tinggi dari inklusi. Masyarakat tidak hanya menggunakan, tetapi juga harus memahami produk yang digunakan,” tegasnya.

Menyambung pembahasan tersebut, Presiden Direktur Dupoin Futures Indonesia, Gunawan Herman, menyoroti pentingnya pemahaman instrumen keuangan yang lebih luas di tengah meningkatnya minat generasi muda terhadap investasi dan trading.

Ia menilai, tren investasi di kalangan mahasiswa saat ini masih didominasi oleh saham dan kripto, padahal terdapat instrumen lain seperti perdagangan berjangka komoditas yang memberikan akses ke pasar global dengan likuiditas tinggi.

“Kalau kita bicara trading, bayangan kita pasti saham dan kripto karena dua hal itu paling populer sekarang. Padahal market global itu jauh lebih besar, seperti forex, emas, dan index yang transaksinya melibatkan seluruh dunia,” tegasnya

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BRILink Agen Bukukan Transaksi Rp1.746 Triliun: Bukti BRI Percepat Inklusi Keuangan Nasional

BRILink Agen Bukukan Transaksi Rp1.746 Triliun: Bukti BRI Percepat Inklusi Keuangan Nasional

Bisnis | Selasa, 24 Maret 2026 | 17:26 WIB

Strategi Prudential Syariah Tingkatkan Inklusi dan Garap Pasar Halal di RI

Strategi Prudential Syariah Tingkatkan Inklusi dan Garap Pasar Halal di RI

Bisnis | Selasa, 17 Maret 2026 | 09:46 WIB

Pegadaian Hadirkan Lagi Program Gadai Bebas Bunga, Solusi Pendanaan Cepat untuk Masyarakat

Pegadaian Hadirkan Lagi Program Gadai Bebas Bunga, Solusi Pendanaan Cepat untuk Masyarakat

Bisnis | Selasa, 10 Maret 2026 | 19:20 WIB

BI Kejar Target Inklusi 98 Persen, Perry Warjiyo: Literasi Jadi Tameng Kejahatan Digital

BI Kejar Target Inklusi 98 Persen, Perry Warjiyo: Literasi Jadi Tameng Kejahatan Digital

Bisnis | Jum'at, 06 Maret 2026 | 16:13 WIB

Penetrasi Masih di Bawah 1 Persen, Inklusi Produk Proteksi Halal Minim

Penetrasi Masih di Bawah 1 Persen, Inklusi Produk Proteksi Halal Minim

Bisnis | Sabtu, 28 Februari 2026 | 07:05 WIB

Langkah yang Bicara: Kisah Fai dan Perjuangan Membangun Ruang Inklusi

Langkah yang Bicara: Kisah Fai dan Perjuangan Membangun Ruang Inklusi

Video | Senin, 16 Februari 2026 | 12:13 WIB

Terkini

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Momen Kaesang Pangarep Ajak Anak Penyintas Gempa Palue Main Catur dan Ular Tangga

Bali | Rabu, 16 September 2026 | 23:24 WIB

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Menkeu Suahasil Akan Evaluasi Perombakan Ratusan Pejabat Kemenkeu Era Purbaya

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 23:11 WIB

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Teknologi Silicon-Carbon dan Update 6 Tahun, REDMI Note 17 Mulai Rp3,9 Jutaan

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 23:10 WIB

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Antrean Pertalite Mengular di Bengkulu, Helmi Hasan Malah Ajak Warga Salat Tobat

Sumsel | Rabu, 16 September 2026 | 23:00 WIB

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

44 Ribu Hektare Tanah TNI Bermasalah, TNI Akui Potensi Konflik Agraria Kian Tinggi

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:55 WIB

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Dulu Cuma Scan QR, Kini Pembayaran Digital Makin Pintar dan Menembus Transaksi Global

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 22:49 WIB

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

RUU Reforma Agraria akan Disahkan di Rapat Paripurna 22 September

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:41 WIB

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Dirut BRI: Kekuatan Holding UMi Ditopang oleh Integrasi Keunggulan Entitas

Bri | Rabu, 16 September 2026 | 22:39 WIB

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

MK Minta Kewenangan Bakamla Disusun Ulang, DPR dan Pemerintah Diberi Waktu 2 Tahun

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:31 WIB

Prabowo Ingin Pembakaran Hutan Digolongkan 'Terorisme Ekologi', Sanksi Bakal Diperberat!

Prabowo Ingin Pembakaran Hutan Digolongkan 'Terorisme Ekologi', Sanksi Bakal Diperberat!

News | Rabu, 16 September 2026 | 22:22 WIB

×