- Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.676 per dolar AS dan IHSG turun 0,48 persen pada perdagangan 22 Mei 2026.
- Tekanan pasar dipicu aksi jual investor asing serta kekhawatiran terhadap kebijakan sentralisasi ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
- Bank Indonesia merespons gejolak ekonomi dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar nasional.
Suara.com - Pasar keuangan domestik mengawali perdagangan akhir pekan dengan gerak lambat. Mengutip data pasar spot pada Jumat pagi (22/5/2026), nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis 0,05 persen atau turun 9 poin ke posisi Rp17.676 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi penutupan malam sebelumnya di level Rp17.667 per dolar AS.
Pergerakan minor ini menempatkan mata uang Garuda di zona merah, searah dengan tren pelemahan sebagian besar mata uang utama di kawasan Asia.
Koreksi di pasar valuta asing turut menjalar ke sektor pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) langsung terjerembap pada bel pembukaan, turun 29,31 poin atau 0,48 persen ke level 6.065,63.
Sejalan dengan induknya, kelompok 45 saham paling likuid (Indeks LQ45) juga merosot 2,42 poin atau 0,39 persen menuju posisi 613,98.
Arus Keluar Modal dan Prediksi Pengetatan Moneter
Menyikapi fluktuasi ini, Kepala Ekonom S&P Global Ratings untuk Asia Pasifik, Louis Kuijs, menilai tekanan yang terjadi pada rupiah dan IHSG dipicu oleh aksi investor asing yang tengah menata ulang portofolio mereka sembari mencermati pergeseran regulasi terbaru di Indonesia.
Kendati terjadi capital outflow, ia optimis prospek pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2026 tetap solid.
“Kami berpendapat bahwa bank sentral Indonesia mungkin perlu memperketat kebijakan moneter sebagai respons terhadap tekanan harga pangan, langkah-langkah pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, dan pelemahan mata uang,” papar Kuijs dalam rilis resminya.
Sebagai catatan, Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah mengerek suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen.
Langkah agresif ini diikuti oleh kenaikan Deposit Facility menjadi 4,25 persen dan Lending Facility menjadi 6 persen. Kebijakan moneter ketat tersebut diambil sebagai bantalan luar untuk menstabilkan nilai tukar dari dampak gejolak geopolitik di wilayah Asia Barat yang mengerek harga minyak dunia.
Penyusutan Kapitalisasi Pasar BEI Seminggu Terakhir
Dinamika transaksi di bursa saham mencatatkan aktivitas yang bergejolak. Merujuk data aplikasi IDX Mobile pada perdagangan Kamis kemarin, pemodal asing membukukan penjualan bersih (net sell) senilai Rp8,09 triliun di seluruh pasar, sementara investor lokal melepas saham sebesar Rp10,3 triliun.
Namun di sisi lain, asing juga melakukan pembelian bersih (net buy) senilai Rp7,55 triliun, diimbangi aksi net buy domestik sebesar Rp10,9 triliun.
Akibat volatilitas ini, total nilai kapitalisasi pasar (market cap) BEi menyusut menjadi Rp10.552 triliun pada penutupan Kamis, terpangkas dari hari Rabu yang sempat berada di angka Rp10.963 triliun. Jika ditarik mundur, tren penurunan ini terjadi secara maraton sepanjang pekan ini:
Senin (18/5/2026): Rp11.538 triliun.
Selasa (19/5/2026): Rp11.108 triliun.
Rabu (20/5/2026): Rp10.963 triliun.
Kamis (21/5/2026): Rp10.552 triliun.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan performa dua pekan lalu, di mana kapitalisasi pasar BEI sempat meroket di kisaran Rp11.825 triliun pada periode 11-13 Mei 2026, bahkan sempat menembus rekor Rp12.406 triliun pada awal Mei (4-8 Mei 2026).
Di samping faktor eksternal, sentimen negatif para pelaku pasar disinyalir ikut terbebani oleh polemik pendirian PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Lembaga baru bentukan Presiden Prabowo Subianto ini memegang mandat tunggal (monopoli) untuk mengelola seluruh arus ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) Indonesia.
Kebijakan sentralisasi ekspor ini langsung memantik kritik tajam dari lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings. Mereka memperingatkan bahwa pembatasan aturan pengapalan satu pintu berisiko menghambat kinerja ekspor, menekan pendapatan riil negara, serta mengganggu keseimbangan neraca pembayaran.
S&P juga memberi sinyal bahwa ketidakpastian baru ini dapat memengaruhi penilaian peringkat kredit (sovereign rating) Indonesia ke depan.
Di lain pihak, pemerintah memiliki kalkulasi tersendiri. Presiden Prabowo optimis bahwa kendali terpusat ini mampu menghentikan praktik kebocoran bisnis perdagangan internasional.
Berdasarkan kalkulasi pemerintah, skema manipulasi perdagangan selama 22 tahun terakhir telah membuat kekayaan negara sebesar US$343 miliar atau setara Rp6.069,04 triliun mengalir ke luar negeri tanpa pajak yang jelas.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menambahkan bahwa restrukturisasi ini sangat krusial mengingat ketergantungan struktur ekspor Indonesia terhadap sektor SDA masih tergolong masif.
“Kontribusi ekspor komoditas SDA terhadap total ekspor nasional saat ini mencapai sekitar 60%. Komoditas utama yang menjadi penopang ekspor Indonesia meliputi batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferro alloy,” urai Airlangga.