- PT LAPI ITB merilis kajian pada Selasa (26/5/2026) mengenai kontribusi infrastruktur digital Telkomsel terhadap pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia.
- Pembangunan infrastruktur digital terbukti meningkatkan PDRB, memperluas akses wilayah 3T, serta menciptakan 685 ribu lapangan kerja di Indonesia.
- Adopsi layanan digital bagi UMKM non-perkotaan berkorelasi positif dengan kenaikan omzet sebesar 32 persen dan meningkatkan produktivitas usaha.
Suara.com - PT LAPI ITB merilis hasil kajian terbaru mengenai dampak sosial-ekonomi konektivitas digital di Indonesia. Operator seluler seperti Telkomsel berperan dalam pertumbuhan ekonomi, pemberdayaan UMKM serta pemerataan akses layanan digital nasional.
Riset ini menggunakan pendekatan kombinasi analisis data ekonomi, model regresi, dan survei lapangan terhadap pelaku usaha untuk melihat keterkaitan antara perkembangan infrastruktur digital dan aktivitas sosial-ekonomi di berbagai wilayah.
Direktur Utama PT LAPI ITB, Yusmar Anggadinata menyampaikan bahwa konektivitas digital saat ini telah berkembang melampaui fungsi dasarnya sebagai sarana komunikasi.
"Konektivitas tidak lagi hanya dipandang sebagai layanan, tetapi sebagai infrastruktur ekonomi yang memiliki keterkaitan langsung dengan produktivitas, inklusi, dan pertumbuhan sosial-ekonomi di berbagai daerah, "ujar Yusmar Anggadinata dalam siaran pers, Selasa (26/5/2026).
Hasil analisis menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur Telkomsel memiliki keterkaitan langsung dengan peningkatan aktivitas ekonomi regional.
Setiap penambahan satu BTS berkorelasi dengan peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp 76,19 miliar. Sementara peningkatan penggunaan data sebesar 1 petabyte berkorelasi terhadap peningkatan PDRB sebesar Rp 9,44 miliar.

Kontribusi sektor ini terhadap pendapatan negara juga signifikan, dengan estimasi mencapai Rp36,97 triliun pada tahun 2024.
Kajian dari anak usaha ITB itu juga menyoroti dampak konektivitas terhadap pelaku usaha, khususnya UMKM di wilayah non-perkotaan.
Survei menunjukkan bahwa adopsi layanan digital berkorelasi dengan peningkatan kinerja usaha, dengan rata-rata kenaikan omzet mencapai 32 persen serta tingkat kepuasan pengguna yang tinggi hingga 92 persen.
Temuan ini menunjukkan bahwa konektivitas digital berfungsi sebagai katalis dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing pelaku usaha lokal.
Dalam aspek pemerataan, kajian ini menyoroti pentingnya Telkomsel dalam memperluas akses layanan digital di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal alias wilayah 3T.
Hingga tahun 2024, sekitar 92,4 persen BTS program BAKTI di wilayah 3T didukung oleh kontribusi dari operator nasional melalui skema USO, yang berperan dalam mengurangi kesenjangan akses digital.
Perluasan konektivitas ini memungkinkan masyarakat di wilayah tersebut untuk mengakses layanan pendidikan, kesehatan, dan kegiatan ekonomi yang sebelumnya terbatas.
Kajian ini juga mencatat bahwa ekosistem Telkomsel memberikan dampak lanjutan terhadap penciptaan lapangan kerja. Melalui pendekatan analisis ekonomi, aktivitas sektor ini diperkirakan berkontribusi pada penciptaan lebih dari 685 ribu lapangan kerja, baik langsung maupun tidak langsung.
Sementara itu Tenaga Ahli Utama PT LAPI ITB, Ian Josef Matheus Edward menambahkan kalau kajian ini memberikan gambaran mengenai kontribusi konektivitas berdasarkan indikator yang terukur, namun tidak dimaksudkan untuk mengaitkan seluruh perubahan ekonomi kepada satu entitas tertentu.
"Oleh karena itu, interpretasi terhadap hasil kajian perlu dilakukan secara proporsional dan kontekstual," terangnya.
PT LAPI ITB sendiri menegaskan bahwa hasil kajian ini merupakan estimasi yang disusun berdasarkan metodologi tertentu dan tidak dimaksudkan untuk mengatribusikan seluruh dampak ekonomi kepada satu pelaku industri.
Kajian ini juga tidak melakukan perbandingan antar operator, melainkan berfokus pada pemahaman peran konektivitas dalam ekosistem pembangunan nasional.