- Bursa Efek Indonesia sedang memfinalisasi kerja sama strategis dengan Hong Kong Exchanges and Clearing Limited terkait produk derivatif.
- Saham perusahaan global di Hong Kong akan menjadi aset dasar produk single stock futures di pasar modal Indonesia.
- Kolaborasi ini bertujuan memperkaya pilihan instrumen investasi serta membantu emiten domestik memperluas akses ke investor pasar global.
Suara.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) terus memperkuat daya saing pasar modal Indonesia. Salah satunya melalui kerja sama strategis dengan Hong Kong Exchanges and Clearing Limited (HKEx)
Salah satu langkah yang tengah difinalisasi adalah pemanfaatan saham-saham perusahaan yang tercatat di HKEx sebagai underlying atau aset dasar produk single stock futures di Indonesia.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffry Hendrik, mengatakan pembahasan dengan HKEx kini telah memasuki tahap akhir.
Kerja sama tersebut memungkinkan ribuan saham yang tercatat di bursa Hong Kong menjadi aset dasar bagi produk derivatif yang diperdagangkan di Indonesia, sehingga memberikan pilihan investasi yang lebih beragam bagi pelaku pasar modal Indonesia.
"Sekarang kita sedang dalam tahap diskusi final dengan Hong Kong Exchange. Saham-saham yang listing di Hong Kong Exchange yang jumlahnya ribuan itu bisa menjadi underlying dari single stock futures di Indonesia. Saat ini sedang dalam tahap finalisasi perjanjian antara Bursa Efek Indonesia dengan Hong Kong Exchange," jelas Jeffry di Gedung BEI, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, sejumlah emiten global yang sudah dikenal luas oleh investor Indonesia berpotensi menjadi aset dasar produk tersebut. Di antaranya adalah produsen kendaraan listrik BYD serta perusahaan teknologi Tencent.
![Pjs Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffry Hendrik di Gedung BEI, Kamis (12/2/2026). [Suara.com/Rina]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/12/26489-pjs-direktur-utama-bursa-efek-indonesia-bei-jeffry-hendrik.jpg)
"Jadi nanti misalnya nama-nama yang sudah kita kenal, seperti BYD dan Tencent, bisa menjadi underlying dari single stock futures di bursa kita," kata Jeffry.
Meski membuka peluang kolaborasi lintas bursa, Jeffry menegaskan, BEI tetap memprioritaskan perusahaan Indonesia untuk melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia.
Menurutnya, kerja sama dengan HKEX merupakan nilai tambah bagi emiten yang ingin memperluas akses ke investor internasional.
"Kita tentu tidak mendorong perusahaan langsung dual listing. Yang kita utamakan adalah perusahaan-perusahaan Indonesia tercatat di Bursa Efek Indonesia. Namun, sebagai value added, BEI diakui dan bekerja sama dengan bursa global," ujarnya.
Ia menjelaskan, setelah perusahaan tercatat di BEI, terbuka peluang bagi emiten untuk melanjutkan pencatatan saham di Hong Kong melalui mekanisme yang lebih sederhana.
Langkah tersebut bertujuan memperluas eksposur perusahaan terhadap basis investor global. Selain itu,o diharapkan memperkaya instrumen investasi di pasar modal Indonesia, sekaligus meningkatkan daya tarik BEI di mata investor domestik maupun global.
"Setelah mereka tercatat di Bursa Efek Indonesia, mereka bisa tercatat di Bursa Hong Kong dengan prosedur yang lebih sederhana untuk mendapatkan exposure terhadap basis investor yang lebih luas. Tetapi yang kita dorong pertama tentu adalah tercatat di Bursa Efek Indonesia dulu," tandasnya.