- Nilai tukar Rupiah menguat 43 poin ke level Rp18.048 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 15 Juli 2026.
- Data inflasi AS yang rendah memicu pelemahan dolar sehingga mendorong penguatan mata uang Rupiah secara signifikan hari ini.
- Kenaikan harga minyak mentah akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah membatasi potensi penguatan Rupiah di pasar valuta asing.
Suara.com - Rupiah masih bangkit melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan hari ini.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah Rabu 15 Juli 2026 dibuka ke level Rp18.048 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini menguat 43 poin atau 0,24 persen dari hari sebelumnya yang ada di Rp18.091 per dolar AS.
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah dipengaruhi oleh faktor global. Salah satunya adalah data Inflasi Amerika Serikat yang rendah.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah cukup besar setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari harapan, memicu menurunnya ekspektasi pada suku bunga the Fed," katanya saat dihubungi Suara.com.
Namun, penguatan diperkirakan terbatas oleh harga minyak mentah dunia yang masih tinggi dari memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Untuk itu, BI disarankan agar terus menstabilkan rupiah
" Penguatan rupiah masih terbatas masih di range 18000-18150," katanya.
![Ilustrasi mata uang asing. [Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/01/80320-ilustrasi-mata-uang-asing.jpg)
Sementara itu, mata uang Asia juga cenderung menguat. Ringgit Malaysia paling kuat dengan naik 0,26 persen. Selanjutnya dolar Taiwan juga menguat sebesar 0,13 persen.
Diikuti Yen Jepang juga menguat sebesar 0,12 persen. Lalu, Yuan China menguat sebesar 0,09 persen. Dolar Singapura menguat sebesar 0,078 persen. Dolar Hong Kong menguat tipis sebesar 0,004 persen.
Sedangkan , won Korea justru melemah 0,017 persen dan baht Thailand melemah 0,039 persen.