MTI Minta Insentif Motor Listrik Dievaluasi, Subsidi Dialihkan ke Bus Listrik

Dythia Novianty, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Sabtu, 12 September 2026 | 13:34 WIB
MTI Minta Insentif Motor Listrik Dievaluasi, Subsidi Dialihkan ke Bus Listrik
MTI menilai kebijakan transisi energi di sektor transportasi sebaiknya dialihkan ke kendaraan umum. [Sekretariat Presiden]
baca 10 detik
  • Akademisi Djoko Setijowarno menyatakan kebijakan transisi energi pemerintah pada Sabtu (12/9/2026) keliru karena memprioritaskan subsidi motor listrik pribadi alih-alih transportasi umum.
  • Pemerintah dalam RAPBN 2027 menyiapkan insentif besar untuk satu juta motor listrik guna menekan impor BBM dan mempercepat elektrifikasi transportasi nasional.
  • MTI mendesak evaluasi agar anggaran dialihkan ke bus listrik perkotaan yang berdampak luas, adil, mengurai kemacetan, serta menekan kecelakaan.

Suara.com - Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai kebijakan transisi energi di sektor transportasi masih keliru karena lebih memanjakan kendaraan pribadi ketimbang membenahi transportasi umum.

Ia menyoroti alokasi anggaran negara sebesar Rp3 triliun untuk subsidi 1 juta unit sepeda motor listrik. Menurutnya, dana tersebut jauh lebih optimal jika dialokasikan untuk membiayai dan mengembangkan angkutan umum massal di 120 kota di Indonesia.

Djoko mencatat, hingga saat ini baru sekitar 8,3 persen atau 46 dari total 552 pemerintah daerah di Indonesia yang mengembangkan sistem transportasi umum berskema Buy The Service (BTS).

Subsidi APBN atau APBD untuk bus listrik dinilai memberikan dampak sistemik yang jauh lebih luas dibandingkan insentif motor listrik.

"Subsidi APBN/APBD untuk bus listrik dapat dinikmati oleh ribuan orang per unit setiap harinya. Alokasi anggaran negara pun menjadi lebih berkeadilan sosial karena menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok berpenghasilan rendah," ujar Djoko lewat keterangannya, Sabtu (12/9/2026).

Sebaliknya, ia menilai, insentif motor listrik berisiko kurang tepat sasaran karena cenderung dinikmati oleh kelompok masyarakat yang sudah memiliki daya beli.

Ilustrasi bus listrik. (Dok. Ist)
Ilustrasi bus listrik. (Dok. Ist)

Selain masalah keadilan anggaran, bus listrik dinilai lebih efektif dalam mengurai kemacetan karena satu unit bus berkapasitas besar sanggup menggantikan 40 hingga 60 sepeda motor di jalan raya.

"Sementara itu, motor listrik hanya mengalihkan jenis emisi tanpa menyelesaikan masalah penumpukan volume kendaraan roda dua," kata Djoko.

Dari sisi keselamatan lalu lintas, pengalihan moda dari kendaraan pribadi ke bus massal juga dapat menekan angka kecelakaan secara langsung, mengingat 75 persen kecelakaan di Indonesia didominasi oleh sepeda motor dengan tingkat fatalitas yang tinggi.

baca juga

Djoko merujuk ke sejumlah negara seperti China, India, hingga negara-negara Eropa yang menempatkan angkutan umum sebagai prioritas utama. Untuk itu, MTI mendesak pemerintah untuk mengevaluasi ulang arah insentif nasional.

"Sudah saatnya pemerintah mengevaluasi ulang arah insentif nasional, menggeser fokus dari subsidi motor pribadi menuju penguatan armada bus listrik perkotaan demi mewujudkan keadilan sosial, ruang kota yang manusiawi, dan masa depan fiskal yang berkelanjutan," pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, saat menyampaikan pidato pengantar RAPBN 2027 dan Nota Keuangan pada Agustus lalu, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pemerintah menyiapkan insentif berskala besar untuk mendorong produksi satu juta unit motor listrik dalam negeri.

Langkah tersebut merupakan bagian upaya mempercepat elektrifikasi transportasi sekaligus menekan ketergantungan pada impor bahan bakar minyak.

Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah telah merintis ekosistem motor listrik nasional dan akan memberikan insentif khusus bagi perusahaan lokal yang sanggup memenuhi target produksi satu juta unit.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mitsubishi Minta Pemerintah Lebih Adil dalam Pemberian Insentif Otomotif

Mitsubishi Minta Pemerintah Lebih Adil dalam Pemberian Insentif Otomotif

Otomotif | Sabtu, 18 Juli 2026 | 13:15 WIB

Pemerintah Masih Pelit Insentif Mobil Hybrid Padahal Lebih Realistis Bagi Indonesia

Pemerintah Masih Pelit Insentif Mobil Hybrid Padahal Lebih Realistis Bagi Indonesia

Otomotif | Selasa, 14 Juli 2026 | 12:53 WIB

Pemerintah Kembali Tunda Insentif Mobil Listrik, Industri Otomotif DIpaksa Menunggu Tanpa Kepastian

Pemerintah Kembali Tunda Insentif Mobil Listrik, Industri Otomotif DIpaksa Menunggu Tanpa Kepastian

Otomotif | Jum'at, 03 Juli 2026 | 18:10 WIB

Ketidakjelasan Insentif Pemerintah Berisiko Hambat Laju Penjualan Mobil Listrik Nasional

Ketidakjelasan Insentif Pemerintah Berisiko Hambat Laju Penjualan Mobil Listrik Nasional

Otomotif | Jum'at, 03 Juli 2026 | 14:10 WIB

Insentif Mobil Listrik Belum Jelas Changan Indonesia Pilih Pasang Harga Normal

Insentif Mobil Listrik Belum Jelas Changan Indonesia Pilih Pasang Harga Normal

Otomotif | Kamis, 02 Juli 2026 | 11:39 WIB

Insentif Mobil Listrik Tak Kunjung Jelas, Kemenperin Khawatir Penjualan Tertahan

Insentif Mobil Listrik Tak Kunjung Jelas, Kemenperin Khawatir Penjualan Tertahan

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:33 WIB

Terkini

Buku Islam & Kebangsaan: Menemukan Wajah Islam dalam Rumah Kebangsaan

Buku Islam & Kebangsaan: Menemukan Wajah Islam dalam Rumah Kebangsaan

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 13:30 WIB

Tekanan Industri Makin Berat, Jaguar Land Rover Bakal Pangkas 4.000 Karyawan

Tekanan Industri Makin Berat, Jaguar Land Rover Bakal Pangkas 4.000 Karyawan

Otomotif | Sabtu, 12 September 2026 | 13:25 WIB

KPAI Desak Audit Transparan Dapur Makan Bergizi Gratis Usai Rentetan Kasus Keracunan

KPAI Desak Audit Transparan Dapur Makan Bergizi Gratis Usai Rentetan Kasus Keracunan

Video | Sabtu, 12 September 2026 | 13:21 WIB

5 Rekomendasi Aplikasi Edit Video Terbaik di iPad dan Tablet Android

5 Rekomendasi Aplikasi Edit Video Terbaik di iPad dan Tablet Android

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 13:20 WIB

5 HP Layar Lipat Terbaru yang Rilis Tahun 2026, Tak Cuma Samsung dan Apple

5 HP Layar Lipat Terbaru yang Rilis Tahun 2026, Tak Cuma Samsung dan Apple

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 13:02 WIB

Jangan Lupa Bahagia: Tamparan Realita Hidup Generasi Sandwich

Jangan Lupa Bahagia: Tamparan Realita Hidup Generasi Sandwich

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 13:00 WIB

Sinopsis Fragments of Truth, Drama China Terbaru Huang Jun Jie di Youku

Sinopsis Fragments of Truth, Drama China Terbaru Huang Jun Jie di Youku

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 12:50 WIB

Antrean BBM Makin Panjang, Wali Kota Makassar Datangi Pertamina: Tolong Cari Jalan Keluar!

Antrean BBM Makin Panjang, Wali Kota Makassar Datangi Pertamina: Tolong Cari Jalan Keluar!

Sulsel | Sabtu, 12 September 2026 | 12:43 WIB

I Am Not Happy!: Cerita Quokka tentang Perasaan yang Sering Disalahpahami

I Am Not Happy!: Cerita Quokka tentang Perasaan yang Sering Disalahpahami

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 12:40 WIB

Serda AMF Tewas saat 'Pembinaan', Kadispenau Pastikan 4 Prajurit Pelaku Sudah Ditahan!

Serda AMF Tewas saat 'Pembinaan', Kadispenau Pastikan 4 Prajurit Pelaku Sudah Ditahan!

News | Sabtu, 12 September 2026 | 12:40 WIB

×