Gara-Gara Kaos, Aktivis Kecam Eksploitasi Anak Berkedok Beasiswa Olahraga

Vania Rossa | Risna Halidi | Suara.com

Kamis, 14 Februari 2019 | 16:46 WIB
Gara-Gara Kaos, Aktivis Kecam Eksploitasi Anak Berkedok Beasiswa Olahraga
Dugaan Eksploitasi Anak Berkedok Beasiswa Olahraga. (Suara.com/Risna Halidi)

Suara.com - Sekelompok penggiat pemerhati anak menduga ada eksploitasi terhadap ribuan anak-anak Indonesia yang mengikuti proses audisi beasiswa bulutangkis yang diselenggarakan oleh salah satu perusahaan rokok Tanah Air.

"Selama sepuluh tahun berlangsung, ada 23 ribu peserta anak yang ikut, sementara yang mendapat beasiswa hanya 0,01 persen atau sekitar 245 anak. Ini beasiswa atau promosi?" kata Ketua Yayasan Lentera Anak, Lisda Sundari, di hadapan wartawan, Kamis (14/2/2019).

Kata Lisda, anak-anak yang ikut audisi diharuskan menggunakan kaos bertuliskan nama brand dengan font dan warna yang sama persis dengan merek rokok nasional.

"Kami melihat ini sebagai suatu masalah. Ada ratusan anak-anak mengenakan tulisan kaos dengan tulisan yang sama persis fontnya dengan merek rokok. Menurut kami ini brand image," tambah Lisda.

Tindakan tersebut, kata Lisda, merupakan bentuk eksploitasi di mana anak-anak tidak menyadari bahwa tubuh mereka digunakan sebagai medium iklan perusahaan rokok.

"Ini tidak adil dan merupakan bentuk ekploitasi. Kami meminta penyelenggara audisi menghentikan ekploitasi tubuh anak yang biasa berlangsung," lanjutnya.

Topeng Eksploitasi yang Terselubung

Berawal pada 2006 lalu, perusahaan rokok berbasis di kota Kudus, PT Djarum Tbk menggelar audisi beasiswa bagi anak-anak Kudus untuk mendapatkan pelatihan bulutangkis.

Seiring berjalannya waktu, gelaran bertajuk 'Djarum Badminton' tersebut telah diselenggarakan di banyak kota di Indonesia dan menggaet sekitar 23.683 peserta anak usia 6 sampai 15 tahun.

Ditemui di waktu yang sama, Komisioner Bidang Kesehatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Siti Hikmawatty, mengatakan bahwa kegiatan CSR industri rokok merupakan 'topeng eksploitasi yang terselubung'.

"200 ribu orang meninggal karena rokok. Kalau satu kasus kematian anak bisa mengguncang Indonesia, kenapa kematian 200 ribu lebih orang karena rokok tidak bisa menggucang Indonesia? Kita tidak melawan industri (rokok), tapi kita melawan ekploitasi," kata Siti.

Untuk itu, KPAI akan menunggu respon pihak perusahaan rokok untuk memperbaiki penyelenggaraan audisi beasiswa dan mencoba melakukan penyadaran kepada masyarakat mengenai bentuk eksploitasi seperti ini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Eksploitasi Anak, Kubu Jokowi: Pelajar Teriak Ganti Presiden

Eksploitasi Anak, Kubu Jokowi: Pelajar Teriak Ganti Presiden

News | Jum'at, 09 November 2018 | 20:51 WIB

Dinamai Seperti Pendiri KFC, Bayi ini Didanai Rp 162 Juta !

Dinamai Seperti Pendiri KFC, Bayi ini Didanai Rp 162 Juta !

Bisnis | Kamis, 01 November 2018 | 08:05 WIB

Facebook Bakal Beri Beasiswa Ribuan Developer di Indonesia

Facebook Bakal Beri Beasiswa Ribuan Developer di Indonesia

Tekno | Rabu, 24 Oktober 2018 | 11:15 WIB

Terkini

17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi

17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi

Health | Minggu, 05 April 2026 | 09:54 WIB

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya

Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya

Health | Rabu, 01 April 2026 | 10:55 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB