Konsep Perlindungan Anak Berbasis Kampung dari Komnas PA, Seperti Apa?

M. Reza Sulaiman, Dini Afrianti Efendi

Selasa, 18 Februari 2020 | 13:32 WIB
Konsep Perlindungan Anak Berbasis Kampung dari Komnas PA, Seperti Apa?
Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak. (Suara.com/Dini Afrianti)

Suara.com - Konsep Perlindungan Anak Berbasis Kampung dari Komnas PA, Seperti Apa?

Kasus eksploitasi anak di Cafe Kahyangan, Penjaringan, Jakarta Utara, membuat geram. Pasalnya, kejahatan pelecehan hingga eksploitasi seksual pada anak kerap terjadi di sekitar kita.

Potret ini tentu saja membuat siapapun miris. Sungguh ironi di saat Indonesia terkenal dengan kearifan lokal dan keramahannya, tapi masih terjadi tindakkan kejam dan merenggut masa depan seorang anak.

Hal inilah yang membuat Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) Arist Merdeka Sirait untuk mendorong kembali sistem kekerabatan di tengah masyarakat.

Sistem kekerabatan ini masih dipegang teguh oleh kampung-kampung di Indonesia, dan berhasil melindungi anak-anak dari paparan negatif orang-orang luar, dan terhindar dari iming-iming tindak kejahatan. Konsep ini bernama Perlindungan Anak Berbasis Kampung, dan ini berhasil dilalukan di Karangasem, Buleleng, Bali.

"Saya kira sistem kekerabatan itu harus dibangun dan itu sudah ada hasilnya, seperti yang saya katakan tadi di Karangasem di Buleleng. Tempatnya Ibu Menteri (Bintang Prayoga) itu untuk eksploitasi seksual komersial, perdagangan manusia dan sebagainya, satu kampung itu bisa menghalau orang-orang yang berikan bujuk rayu kepada remaja-remaja di sana," ujar Arist di KemenPPPA, Jakarta Pusat, Senin (18/2/2020).

Empat tahun lamanya langkah ini sudah dilakukan, dan terbukti ampuh mengurangi tindak kejahatan dan kekerasan. Mengingat satu kampung itu saling berkerjasama dan menjaga anak-anak di kampung tersebut. Tidak ada lagi tuh yang namanya 'anakmu', 'bukan anakku', tapi semuanya bahumembahu saling memperhatikan.

"Paling tidak di antara satu kampung itu saling memperingatkan. Misalnya ada anak-anak nangis berlebihan, itu satu warga dengan warga lain tidak lagi merasa diintervensi," tutur Arist.

"Jadi berbasis kampung itu di mana-mana harus dilakukan satu kampung. Nggak bisa satupun di dalam kampung itu nggak peduli, itu sudah bukan gerakan bersama," sambungnya.

baca juga
Seorang anak lelaki sedang mengangkat tangan. Ilustrasi eksploitasi seksual anak. [Shutterstock]
Ilustrasi eksploitasi seksual anak. [Shutterstock]

Semua elemen juga ikut bergerak, misalnya gerakan karang taruna, ibu-ibu PKK, pengajian, atau komunitas-komunitas berkumpul itu bisa berperan aktif. Bahkan, bukan hanya melindungi anak-anak tapi juga ampuh mengelola atau bertindak bagaimana saat musibah terjadi.

"Kalau di Denpasar itu adalah yang mengelola Banjar (kesatuan masyarakat hukum) dan sebagainya, itu terdeteksi. Contoh misalnya gerakan di Banjar itu, tidak lagi bisa leluasa orang asing datang ke Banjar itu karena kecenderungan orang asing itu melakukan praktik pedofilia, sudah ada (dideteksi)," papar Arist.

Jadi sudah saatnya tuh, kita bukan lagi mengandalkan jargon-jargon yang semuanya hanya normatif tanpa membangun kesadaran, sehingga tidak ada aksi. Konsep Perlindungan Anak berbasis kampung ini bisa dilakukan di semua tempat seperti misalnya berdasarkan RT, RW, yang berada di bawah naungan kelurahan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mayat Balita Ditemukan Tanpa Organ Tubuh, Diduga Korban Sindikat

Mayat Balita Ditemukan Tanpa Organ Tubuh, Diduga Korban Sindikat

News | Senin, 17 Februari 2020 | 16:40 WIB

Yakin Istrinya Selingkuh dengan Empat Pria, Suami Tega Lem Vagina

Yakin Istrinya Selingkuh dengan Empat Pria, Suami Tega Lem Vagina

News | Jum'at, 14 Februari 2020 | 17:27 WIB

Kasus Reynhard, Media Indonesia Dibandingkan dengan Media Luar Negeri

Kasus Reynhard, Media Indonesia Dibandingkan dengan Media Luar Negeri

News | Senin, 13 Januari 2020 | 18:46 WIB

Terkini

7 Cara Melakukan Double Cleansing yang Benar untuk Kulit Sehat Bercahaya

7 Cara Melakukan Double Cleansing yang Benar untuk Kulit Sehat Bercahaya

Lifestyle | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 11:25 WIB

Fenomena 'Lebih Galak yang Ngutang': Saat Niat Baik Berujung Sakit Hati

Fenomena 'Lebih Galak yang Ngutang': Saat Niat Baik Berujung Sakit Hati

Your Say | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 11:16 WIB

Bawa Bantuan Miliaran Rupiah ke Korban Gempa NTT, Dedi Mulyadi: Ditengok Saja Sudah Bahagia

Bawa Bantuan Miliaran Rupiah ke Korban Gempa NTT, Dedi Mulyadi: Ditengok Saja Sudah Bahagia

Jabar | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 11:12 WIB

Jejak Trauma Daycare Little Aresha: Membongkar Kekerasan yang Sistematis

Jejak Trauma Daycare Little Aresha: Membongkar Kekerasan yang Sistematis

Video | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 11:10 WIB

Gubernur Khofifah Terima Penghargaan Jasa Bakti Koperasi Nayaka Mahambara dari Menteri Koperasi

Gubernur Khofifah Terima Penghargaan Jasa Bakti Koperasi Nayaka Mahambara dari Menteri Koperasi

Jatim | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 11:10 WIB

Flores Kembali Diguncang Gempa M 5,1, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

Flores Kembali Diguncang Gempa M 5,1, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

News | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 11:07 WIB

Jaga Marwah Organisasi, Para Ulama Haramkan Serangan Fajar di Muktamar NU Ke-35

Jaga Marwah Organisasi, Para Ulama Haramkan Serangan Fajar di Muktamar NU Ke-35

News | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 11:05 WIB

Mengenal BEM: Mengapa Kampus Punya Pemerintahan Sendiri?

Mengenal BEM: Mengapa Kampus Punya Pemerintahan Sendiri?

Your Say | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 11:05 WIB

Tegang Maksimal! Potret Kelam Remaja Kaya Los Angeles Era 80-an dalam Serial The Shards

Tegang Maksimal! Potret Kelam Remaja Kaya Los Angeles Era 80-an dalam Serial The Shards

Your Say | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 11:04 WIB

Mengakhiri Ego Sektoral: Megaproyek Waterfront City 27 KM Ubah Wajah Pesisir Jadi Mesin Ekonomi

Mengakhiri Ego Sektoral: Megaproyek Waterfront City 27 KM Ubah Wajah Pesisir Jadi Mesin Ekonomi

Lampung | Sabtu, 22 Agustus 2026 | 11:03 WIB

×