Hari Hepatitis Dunia, Ini Salah Kaprah Mengenai Hepatitis B

Selasa, 28 Juli 2020 | 06:49 WIB
Hari Hepatitis Dunia, Ini Salah Kaprah Mengenai Hepatitis B
Ilustrasi hepatitis B. (Shutterstock)

Suara.com - Hepatitis termasuk penyakit mematikan, terutama hepatitis B dan C yang bisa mengakibatkan kondisi kronis dan berujung kanker hati. Oleh karenanya, tak heran dibuat peringatan Hari Hepatitis Dunia setiap tanggal 28 Juli, agar masyarakat dunia peduli untuk melakukan pencegahan infeksi virus hepatitis.

Berdasarkan data Riskesdas pada 2013, prevalensi hepatitis di Indonesia ada 7,1 persen atau sekitar 18 juta penduduk, 9 juta di antaranya berkembang dalam kondisi kronis. Kemudian 900 ribu berlanjut jadi sirosis (pengerasan hati) dan kanker hati.

Penularan hepatitis B paling banyak terjadi akibat ditularkan oleh ibu hamil kepada anaknya. Pada capaian Kemenkes 2019 tercatat, perkiraan ibu hamil ada lebih dari 5,2 juta.

Dari jumlah itu, lebih dati 2,5 juta di antaranya ibu hamil diperiksa positif hepatitis B, 46.944 ibu hamil, reaktif hepatitis B, dan 16.272 ibu hamil dirujuk. Sementara itu, ada 28.115 bayi lahir dari ibu yang reaktif hepatitis B.

Walau begitu, informasi mengenai hepatitis B masih simpang siur di masyarakat. Berikut salah kaprah mengenai hepatitis B, menurut dokter ahli penyakit hati dari RS MRCCC Siloam Semanggi, Prof. Ali Sulaiman, dikutip dari bukunya yang berjudul 'Selayang Pandang Hidup Sehat Bersama Hepatitis B'.

1. Pasien hepatitis B tidak perlu berobat

Prof Ali menegaskan bahwa pernyataan itu menyesatkan. Ia menjelaskan, seorang pengidap Hepatitis B harus segera memeriksakan diri ke dokter dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut. Tujuannya untuk mendapatkan penjelasan terkait keadaan virus hepatitis B dalam tubuh serta tanda bahaya yang menyertainya.

"Tidak mengherankan bahwa jumlah penderita yang datang dalam kondisi lebih lanjut seperti pengerasan hati, kanker hati, bahkan gagal hati masih cukup banyak ditemui dalam praktik dokter sehari-hari. Keadaan ini sering menyulitkan keluarga dan para dokter dalam menanggulangi penyakitnya," kata Ali.

2. Jika tidak bergejala, tak perlu konsultasi ke dokter

Baca Juga: Virus Hepatitis Bisa Ditularkan Melalui Aktivitas Sehari-Hari, Apa Saja?

Menurut Ali, anggapan itu muncul karena masyarakat mendengar bahwa infeksi Hepatitis B tanpa gejala dan keluhan umumnya terjadi karena virus sedang tidur sehingga tidak membahayakan tubuh. Di sisi lain, anggapan itu justru jadi faktor penyebab keterlambatan seseorang dalam mengenali dan mencari pertolongan untuk mendapat pengobatan.

"Kondisi Hepatitis B sejatinya dapat dicegah dengan pemberian vaksin pada mereka yang belum terpapar dan melakukan pengobatan segera pada kasus Hepatitis B, baik kasus baru maupun menahun, untuk menghindari perburukan penyakit," ucap Ali.

3. Hepatitis B tidak ada obatnya, jadi untuk apa ke dokter?

Anggapan itu yang membuat pasien hepatitis lupa dan enggan untuk konsultasi ke dokter. Padahal, Ali menyampaikan, bahwa jika infeksi hepatitis B telah menahun atau kronis, maka harus rutin ke dokter sedikitnya setahun sekali karena kerusakan hati dapat terjadi kapan saja.

"Dokter akan memberikan saran terbaik dalam menjaga kesehatan dan pemeliharaan hati. Dokter juga akan memberitahu jika perlu untuk menjalani pengobatan tertentu," katanya.

Menurut Ali, Kebanyakan orang yang terinfeksi Hepatitis B kronis hidup sehat seperti orang biasa dan baru mengetahuinya ketika melaksanakan medical check up. Akan tetapi, kebanyakan orang baru merasa perlu berobat setelah terjadi gejala lanjutan seperti sirosis atau bahkan kanker hati.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tes Kepintaran GTA Kamu Sebelum Grand Theft Auto 6 Rilis!
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Kamu Tipe Red Flag, Green Flag, Yellow Flag atau Beige Flag?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Kabar Kamu Hari Ini? Cek Pesan Drakor untuk Hatimu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tablet Apa yang Paling Cocok sama Gaya Hidup Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Film Makoto Shinkai Mana yang Menggambarkan Kisah Cintamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Jadi Superhero, Kamu Paling Mirip Siapa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Destinasi Liburan Mana yang Paling Cocok dengan Karakter Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Merek Sepatu Apa yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Karakter Utama di Drama Can This Love be Translated?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Menu Kopi Mana yang "Kamu Banget"?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Tipe Kepribadian MBTI Apa Sih Sebenarnya?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI