alexametrics

Hari Anak Nasional 2021, Ini 5 Rekomendasi Perlindungan Anak di Masa Pandemi dari KPAI

M. Reza Sulaiman
Hari Anak Nasional 2021, Ini 5 Rekomendasi Perlindungan Anak di Masa Pandemi dari KPAI
Ilustrasi anak. (Pixabay)

Hari Anak Nasional yang diperingati tiap tanggal 23 Juli menjadi momen tepat mengampanyekan hak anak, terutama di masa pandemi COVID-19.

Suara.com - Hari Anak Nasional yang diperingati tiap tanggal 23 Juli menjadi momen tepat mengampanyekan hak anak, terutama di masa pandemi COVID-19.

Terkait hal ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengeluarkan lima rekomendasi perlindungan anak akibat dampak pandemi COVID-19 yang menyebabkan jumlah kematian orang tua anak meningkat.

"Sehubungan dengan angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia yang terus meningkat dan berdampak pada anak-anak yang kehilangan salah satu orang tuanya atau bisa jadi kehilangan kedua orang tuanya, maka hal ini perlu diantisipasi dan dipikirkan cara membantu dan melindungi anak-anak tersebut, masa depan mereka masih panjang. Tentu saja negara harus hadir, baik atas nama Pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah," ujar Komisioner KPAI Retno Listyarti dalam keterangan resmi.

Pertama, KPAI mendorong adanya penelusuran dan pemilahan data oleh Pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah, dari 76.200 orang pasien COVID-19 yang meninggal per 20/7/2021 terkait berapa orang yang usia produktif, yang menjadi tulang punggung keluarga, jumlah anak yang dimiliki dan berapa usianya.

Baca Juga: Fakta Menarik Gerakan Hari Tanpa TV Untuk Selamatkan Generasi Muda

Kedua, KPAI mendorong pemilahan data yang lebih rinci terkait jumlah anak-anak yang kehilangan salah satu orang tuanya dan atau jumlah anak-anak yang kehilangan kedua orang tuanya.

"Berikutnya, harus dilakukan pemetaan wilayah domisilinya anak-anak tersebut agar penanganannya melibatkan pemerintah daerah secara langsung, pada tempat dimana anak-anak tersebut berdomisili, dalam hal ini bisa mengaktifkan peran Dinas Dukcapil setempat dengan dasar Kartu Keluarga yang diperbaharui karena ada keluarga yang meninggal," ujar Retno.

Ilustrasi ayah dan anak (Pexels/Tatiana Syrikova
Ilustrasi ayah dan anak (Pexels/Tatiana Syrikova

Ketiga, KPAI mendorong pemerintah daerah memastikan pemenuhan hak anak-anak yang kehilangan orang tuanya tersebut, seperti pemenuhan keberlangsungan hak atas pendidikannya, memastikan anak-anak tersebut dalam pengasuhan oleh keluarga terdekat, hak pemenuhan kesehatannya, dan sebagainya.

"Pengasuhan anak yang kehilangan orang tuanya akibat COVID-19, harus dipastikan pengasuhannya dilakukan oleh kerabat atau keluarga besar mereka. Panti asuhan seharusnya menjadi pilihan terakhir. Penanganan ini tentu memerlukan kehadiran Negara serta dukungan APBN dan APBD demi kelangsungan hidup dan masa depan anak-anak yang masih di bawah umur," ujar Retno.

Keempat, KPAI mendorong adanya kesadaran publik melalui media massa dan kampanye sosial media terkait proses hukum dalam hal adopsi. Terlebih kemungkinan, sebagaimana dampak bencana alam, kerap banyak muncul permohonan untuk mengadopsi anak-anak yatim piatu yang beredar di sosial media.

Baca Juga: Hari Anak Nasional 2021, Ini 3 Isu Anak yang Masih Jadi Masalah di Indonesia

Hal ini menurut Retno membuat anak-anak rentan terhadap perdagangan dan pelecehan anak. Selain itu, banyak anak yang juga memerlukan konseling untuk mengatasi kesedihan dan trauma mereka.

Komentar