BKKBN Sebut Jumlah Anak Pengaruhi Risiko Kematian Ibu, Ini Penjelasannya?

M. Reza Sulaiman Suara.Com
Jum'at, 22 April 2022 | 19:55 WIB
BKKBN Sebut Jumlah Anak Pengaruhi Risiko Kematian Ibu, Ini Penjelasannya?
Ilustrasi angka kematian ibu. (Pixabay/Sanjasy)

Suara.com - Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia yang masih tinggi terus jadi sorotan. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), tingginya AKI berkaitan erat dengan jumlah kelahiran anak.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan jumlah anak yang dilahirkan seorang ibu selama masa subur (TFR) sangat mempengaruhi tingginya angka kematian ibu (AKI) dan bayi (AKB) di Indonesia.

“Kami sampaikan bahwa hubungan erat TFR dengan AKI bukan rahasia lagi. Artinya bahwa tidak hanya masalah birth to birth interval, jumlah rata-rata total anak atau TFR juga berkontribusi besar terhadap AKI dan AKB,” kata Hasto dikutip dari ANTARA, Jumat (22/4/2022).

Hasto menuturkan hasil data Supas tahun 2015 menyebutkan angka kematian ibu di Indonesia telah menyentuh 305 kematian per 100 ribu kelahiran hidup. Sedangkan hasil Pendataan Keluarga (PK21) tahun 2021 menyebutkan TFR turun menjadi 2,24, setelah menyentuh angka 2,45 pada tahun 2019.

ilustrasi ibu. (Shutterstock)
ilustrasi ibu. (Shutterstock)

Angka TFR yang masih tinggi itu, menyebabkan target pada angka kematian ibu yang ditetapkan pemerintah dalam Sustainable Deveopment Goals (SDGs) menjadi 70 per 100 ribu kelahiran hidup sulit untuk dicapai.

“Bahkan kami di tahun 2024 itu, sebetulnya pemerintah juga mentargetkan menjadi 183 per 100 ribu kelahiran hidup dan seterusnya. Akan tetapi itu menjadi target-target yang sangat menantang,” ujar dia.

Selain TFR, kelahiran kelompok wanita umur tertentu (ASFR) juga berkontribusi dalam penurunan AKI dan AKB.

Data PK21 di akhir tahun 2021 menunjukkan ASFR Indonesia menyentuh 20,5 per seribu. Artinya jumlah perempuan yang hamil dan melahirkan antara usia 15-19 tahun itu ternyata juga mengalami penurunan per seribunya.

Padahal, bila negara berhasil menurunkan angka kematian pada ibu dan bayi, maka angka prevalensi kekerdilan pada anak (stunting) juga dapat ikut menurun dengan cepat.

Baca Juga: Hari Kartini 2022, Pakar Kesehatan Soroti Angka Kematian Ibu yang Masih Tinggi

Menurut Hasto, BKKBN telah melakukan sejumlah upaya agar bisa menyelamatkan ibu dan bayi dari kematian tersebut. Misalnya, memperluas mitra Dinas-dinas KB di kabupaten/kota langsung kepada Dinas KB di kabupaten/kota dan penyelenggaraan Gerakan Sejuta Akseptor.

Ketua Umum PP POGI Ari Kusuma Januarto mengajak semua pihak untuk berperan dalam berkolaborasi bersama dalam penurunan angka kematian ibu di Indonesia.

“Semua pihak harus terlibat, karena menurutnya seorang ibu nantinya akan menghasilkan generasi mendatang untuk bangsa ini,” ujar Ari.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI