Mengenal Pangan Fortifikasi dan Manfaatnya, Solusi Potensi 'Kekacauan' Kesehatan karena Hidden Hunger

M. Reza Sulaiman | Dini Afrianti Efendi | Suara.com

Senin, 18 November 2024 | 13:43 WIB
Mengenal Pangan Fortifikasi dan Manfaatnya, Solusi Potensi 'Kekacauan' Kesehatan karena Hidden Hunger
Jelajah Gizi 2024 di Banyuwangi. (Dok. Danone Indonesia)

Suara.com - Bukan cuma series film The Hunger Games yang bisa menggambarkan kekakacuan. Di dunia nyata ada istilah hidden hunger alias kelaparan tersembunyi, yang berpotensi bisa mengacaukan negara seperti Indonesia. Pertanyaanya, benarkah pangan fortifikasi bisa jadi jawaban?

Medical dan Science Director Danone Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH di sela kegiatan Jelajah Gizi 2024 di Banyuwangi yang diselenggarakan Danone Indonesia, menjelaskan hidden hunger bukan sekadar masalah kesehatan yang bisa dinilai dari fisik seseorang. Tapi bisa terlihat dari kualitas hidup, psikologis hingga produktivitas seseorang saat bekerja.

Hidden hunger atau kelaparan tersembunyi adalah masalah kekurangan gizi mikro, yang tidak memunculkan indikasi busung lapar atau gizi buruk tetapi membawa dampak berat pada kualitas SDM suatu wilayah atau negara.

Menurut Dr. Ray, seseorang yang alami hidden hunger bisa jadi sudah memiliki tinggi dan berat badan yang ideal, seolah terlihat sehat dan bugar. Ini karena kondisi hidden hunger harus melalui pengecekan darah komprehensif untuk mengetahuinya.

Dokter yang juga Pendiri sekaligus Peneliti Health Collaborative Center (HCC) ini memaparkan, pada dasarnya pangan lokal atau makanan sehari-hari yang dikonsumsi masyarakat Indonesia sudah mampu mencukupi kebutuhan gizi makro setiap harinya, yang meliputi karbohirat, protein, dan lemak.

Tapi zat gizi makro saja tidak cukup, karena ada zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral yang tetap diperlukan tubuh. Gizi mikro alias mikronutrien adalah zat yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil tapi perannya sangat krusial alias vital agar metabolisme bisa bekerja maksimal. Contoh mikronutrien seperti zat besi, vitamin A, vitamin D, iodin, folat, zinc yang diukur dalam satuan miligram (mg), mikrogram (mcg), atau IU.

Jelajah Gizi 2024 oleh Danone Indonesia di Banyuwangi. (Dok. Danone Indonesia)
Medical dan Science Director Danone Indonesia, Dr.dr.Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH dalam acara talkshow Jelajah Gizi 2024 di Srengenge Wetan, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (5/11/2024) (Dok.Danone Indonesia)

"Jadi orang mungkin karena kalori cukup banyak makan karbohirat dan protein juga dapet, tapi selnya itu butuh zat gizi yang namanya vitamin dan mineral, karena metabolismenya itu nggak bisa nggak, kalau nggak ada vitamin dan mineral," jelas Dr. Ray kepada suara.com di Bayuwangi, Jawa Barat, Rabu (6/11/2024).

"Orang itu kalau dia badannya berat cukup, tapi kurang zat gizi mikro itu yang namanya hidden hunger, jadi lapar tersembunyi," sambung dr. Ray.

Pakar Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ahmad Sulaeman yang juga turut hadir dalam kegiatan Jelajah Gizi 2024 di Banyuwangi mengatakan, hidden hunger memang terlihat tidak berbahaya tapi jika dibiarkan bisa 'mengacaukan' hingga merugikan negara Indonesia. Ini karena jika semakin banyak masyarakat Indonesia mengalaminya, kualitas SDM bisa menurun hingga tidak bisa bersaing dengan negara lain.

"Kalau hidden hunger itu, sudah gampang sakit berarti morbiditasnya bermasalah, bermasalah dengan mata, mudah sakit saraf epitiel karena terganggu dan sebagainya. Termasuk penyerapan zat besi terganggu juga, yang akhirnya ngaruh ke berbagai macam seperti kecerdasan masyarakat, kesehatan, produktivitas hingga kualitas SDM Indonesia dan macam-macam," jelas Prof. Sulaeman.

Pangan fortifikasi penyelamat Indonesia dari Hidden Hunger?

Penelitian berjudul Efektivitas Fortifikasi Pangan dalam Meningkatkan Status Gizi Ibu dan Anak Indonesia yang diterbitkan di Jurnal Internasional Penelitian Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat (IJERPH ) pada 2021 memaparkan, presentase anak dengan anemia alias kekurangan zat besi meningkat dari 10,4 persen pada 2013 menjadi 38,5 persen pada 2018.

Di terbaru Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 menunjukkan prevalensi stunting mencapai 21,6 persen. Sementara Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat 1 dari 3 anak Indonesia mengalami anemia.

Sumber SSGI 2022 (Kemenkes RI)
Sumber SSGI 2022 (Kemenkes RI)

Lalu anemia pada ibu hamil lebih tinggi lagi dari 37,1 persen di 2013 menjadi 48,9 persen di 2018. Tingginya anemia di Indonesia berkaitan dengan kurangnya asupan zat besi atau disebabkan infeksi penyakit yang membuat tubuh kehilangan zat besi. Kondisi kekurangan zat besi inilah yang jadi sebab utama anemia di Indonesia. Selain itu, kekurangan zat besi juga membuat tubuh kekurangan zinc (seng) yang menyebabkan stunting.

Berdasarkan kondisi inilah, Indonesia memerlukan pangan fortifikasi untuk bantu mencukupi kebutuhan dasar mikronutrien masyarakat Indonesia. Apalagi menurut Prof. Sulaeman, penerapan fortifikasi pangan merupakan cara yang murah dan efektif untuk bantu mencukupi kebutuhan dasar mikronutrien masyarakat Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jelajah Gizi 2024: Telusur Pangan Lokal Hingga Ikan Lemuru Banyuwangi Setara Salmon Cegah Anemia dan Stunting

Jelajah Gizi 2024: Telusur Pangan Lokal Hingga Ikan Lemuru Banyuwangi Setara Salmon Cegah Anemia dan Stunting

Health | Sabtu, 16 November 2024 | 17:46 WIB

ID FOOD Jalin Kolaborasi Bersama BGN untuk Program Makan Sehat Bergizi

ID FOOD Jalin Kolaborasi Bersama BGN untuk Program Makan Sehat Bergizi

Bisnis | Sabtu, 16 November 2024 | 13:40 WIB

Diusulkan Jadi Menu Gratis, Ikan Kaleng Ternyata Butuh Perhatian Khusus Menurut Ahli Gizi

Diusulkan Jadi Menu Gratis, Ikan Kaleng Ternyata Butuh Perhatian Khusus Menurut Ahli Gizi

Video | Jum'at, 15 November 2024 | 12:05 WIB

Terkini

Diskon 20 Persen Medical Check-Up di RS Siloam: Tanpa Batas Maksimal untuk Nasabah BRI!

Diskon 20 Persen Medical Check-Up di RS Siloam: Tanpa Batas Maksimal untuk Nasabah BRI!

Health | Minggu, 26 April 2026 | 19:17 WIB

Raditya Dika Pilih Repot di Depan: Strategi Cegah Dengue demi Jaga Produktivitas

Raditya Dika Pilih Repot di Depan: Strategi Cegah Dengue demi Jaga Produktivitas

Health | Sabtu, 25 April 2026 | 12:21 WIB

Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak

Sering Dibilang Overthinking? Ternyata Insting Ibu adalah Deteksi Medis Paling Akurat untuk Anak

Health | Sabtu, 25 April 2026 | 11:28 WIB

Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik

Jangan Panik, Ini Cara Bijak Kelola Benjolan di Tubuh dengan Pendekatan Alami yang Holistik

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 17:38 WIB

Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks

Biaya Vaksin HPV dan Waktu Terbaik Vaksinasi untuk Cegah Kanker Serviks

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 13:30 WIB

Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin

Gejala Virus HPV pada Pria dan Wanita, Waspadai Kutil Kelamin

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 11:58 WIB

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 08:43 WIB

Jangan Lewat 4,5 Jam! Dokter Ungkap Golden Period Penanganan Stroke yang Bisa Selamatkan Otak

Jangan Lewat 4,5 Jam! Dokter Ungkap Golden Period Penanganan Stroke yang Bisa Selamatkan Otak

Health | Kamis, 23 April 2026 | 18:14 WIB

Bukan Sekadar Datang Bulan, Ini Fakta Penting Menstruasi Remaja yang Sering Disalahpahami

Bukan Sekadar Datang Bulan, Ini Fakta Penting Menstruasi Remaja yang Sering Disalahpahami

Health | Kamis, 23 April 2026 | 16:09 WIB

Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter

Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter

Health | Rabu, 22 April 2026 | 09:00 WIB