Jangan Cuma Mengejar Garis Finish, Atlet dan Pelari Perlu Lebih Peduli Kesehatan Sendi dan Tulang

Vania Rossa

Rabu, 08 Juli 2026 | 14:11 WIB
Jangan Cuma Mengejar Garis Finish, Atlet dan Pelari Perlu Lebih Peduli Kesehatan Sendi dan Tulang
Ilustrasi kesehatan sendi dan tulang untuk atlet dan pelari. (Pexels)
baca 10 detik
  • Tren olahraga ketahanan yang meningkat di Indonesia berisiko menyebabkan cedera serius jika penggiatnya mengabaikan batasan kemampuan sistem muskuloskeletal.
  • Dr. Alan Cheung memperingatkan bahwa memaksakan latihan saat cedera dapat memicu kerusakan jaringan permanen hingga penyakit degeneratif seperti osteoartritis.
  • Penting bagi penggiat olahraga untuk melakukan peningkatan beban latihan secara bertahap, memperhatikan nutrisi, dan melakukan pemulihan tubuh yang memadai.

Suara.com - Lari maraton, HYROX, functional fitness, hingga berbagai ajang olahraga ketahanan kini semakin diminati masyarakat Indonesia. Semakin banyak orang yang rutin berlatih demi mengejar target personal best, menyelesaikan lomba pertama, atau sekadar menjaga kebugaran.

Namun di balik tren olahraga yang terus meningkat, para ahli mengingatkan satu hal yang kerap luput dari perhatian: kesehatan sendi dan tulang.

Banyak atlet maupun penggiat olahraga berfokus meningkatkan kecepatan, jarak tempuh, atau intensitas latihan, tetapi lupa bahwa sistem muskuloskeletal—yang terdiri dari tulang, sendi, ligamen, tendon, dan otot—memiliki batas kemampuan dalam menerima beban.

Terlebih bagi mereka yang baru beralih dari gaya hidup sedentari menuju latihan berintensitas tinggi, peningkatan beban latihan yang terlalu cepat dapat meningkatkan risiko cedera.

"Banyak penggiat kebugaran maupun pelari berpengalaman yang menganggap rasa sakit atau cedera sebagai simbol ketangguhan, atau sekadar rintangan sementara yang bisa dilewati begitu saja," ujar Dr. Alan Cheung, Spesialis Bedah Ortopedi di Mount Elizabeth Novena Hospital, Singapura.

Menurutnya, anggapan tersebut justru bisa berbahaya.

"Memaksakan diri untuk menahan rasa sakit yang tidak wajar adalah sebuah kesalahan yang cukup fatal. Jika cedera otot akut atau nyeri sendi tidak kunjung mereda setelah menerapkan metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation), Anda harus segera mendapatkan pemeriksaan medis profesional," jelasnya.

Ia menambahkan, latihan yang tetap dipaksakan saat tubuh mengalami cedera dapat membuat sendi menjadi tidak stabil, mempercepat kerusakan jaringan, hingga meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti osteoartritis di kemudian hari.

Bedakan Nyeri Otot Biasa dan Cedera
Tidak semua rasa nyeri setelah berolahraga merupakan tanda bahaya. Nyeri otot yang muncul satu hingga dua hari setelah latihan atau Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) umumnya masih tergolong normal.

baca juga

Namun, ada beberapa kondisi yang perlu diwaspadai karena bisa menjadi tanda adanya gangguan pada tulang atau sendi.

Salah satunya adalah warm-up test. Jika rasa sakit sempat berkurang ketika tubuh mulai bergerak saat pemanasan, tetapi kembali muncul bahkan semakin parah setelah latihan selesai, kondisi tersebut dapat mengindikasikan adanya peradangan kronis pada jaringan atau tendon yang mulai mengalami cedera akibat beban berlebih.

Tanda berikutnya adalah nyeri yang terpusat pada satu titik tulang. Berbeda dengan pegal otot yang menyebar, rasa sakit yang tajam dan hanya muncul di satu area tertentu dapat menjadi gejala awal stress fracture atau patah tulang akibat tekanan berulang.

Selain itu, nyeri yang hanya terjadi pada satu sisi tubuh juga tidak boleh diabaikan. Ketika seseorang mulai pincang atau mengubah cara berjalan karena menghindari rasa sakit, tubuh akan memberikan beban lebih besar pada sisi lainnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko memicu cedera lanjutan.

Jangan Hanya Fokus Latihan, Pemulihan Sama Pentingnya

Para spesialis ortopedi Mount Elizabeth Hospitals menilai menjaga kesehatan sendi tidak cukup hanya dengan mengurangi risiko cedera. Tubuh juga membutuhkan strategi pemulihan yang tepat agar mampu beradaptasi dengan peningkatan intensitas latihan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

On Squad Race Debut di Jakarta, Lomba Estafet Urban Satukan Komunitas Pelari dalam Format Unik

On Squad Race Debut di Jakarta, Lomba Estafet Urban Satukan Komunitas Pelari dalam Format Unik

Lifestyle | Selasa, 07 Juli 2026 | 22:29 WIB

Jamin Kesejahteraan Masa Tua, Pemerintah Siapkan Skema Dana Pensiun untuk Atlet

Jamin Kesejahteraan Masa Tua, Pemerintah Siapkan Skema Dana Pensiun untuk Atlet

News | Jum'at, 03 Juli 2026 | 12:36 WIB

Bakat Emas yang Terancam Layu: Refleksi Nasib Atlet Indonesia di Cabang Olahraga Ice Skating

Bakat Emas yang Terancam Layu: Refleksi Nasib Atlet Indonesia di Cabang Olahraga Ice Skating

Your Say | Kamis, 02 Juli 2026 | 15:14 WIB

Terkini

4R Pemulihan yang Wajib Dilakukan Setelah Olahraga, Rahasia Atlet Elite Kembali Prima

4R Pemulihan yang Wajib Dilakukan Setelah Olahraga, Rahasia Atlet Elite Kembali Prima

Health | Rabu, 08 Juli 2026 | 10:57 WIB

Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak

Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak

Health | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:03 WIB

Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan

Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan

Health | Senin, 06 Juli 2026 | 16:40 WIB

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Health | Sabtu, 04 Juli 2026 | 14:00 WIB

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 18:05 WIB

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 15:18 WIB

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:46 WIB

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 18:09 WIB

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 13:42 WIB

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:13 WIB

×